Agam, Sumbar, Mevin.ID — Air mata Erik Andesra tumpah ketika petugas Basarnas mengangkat jenazah ibunya dari balik puing rumah yang terkubur lumpur tebal. Ernita (58), sang ibu, ditemukan masih menggunakan mukena. “Mama meninggal dalam keadaan salat,” ujar Erik pelan, Minggu (30/11).
Galodo yang menerjang Palembayan, Kabupaten Agam, Kamis (27/11), memutuskan segalanya: aliran listrik, jalur desa, dan ikatan keluarga Erik. Lima anggota keluarganya hilang setelah rumah mereka tersapu arus bercampur batu besar.
Perjalanan Mencari yang Tak Pasti
Pada hari kejadian, Erik yang tinggal delapan kilometer dari rumah ibunya bergegas ke lokasi. Di persimpangan jalan, ia melihat lumpur setinggi dada, batang pohon patah, dan bongkahan batu sebesar motor menutup aliran sungai.
Rumah ibunya tak terlihat lagi.
Sejak saat itu, Erik menyusuri lokasi demi lokasi setiap kali ada laporan penemuan jenazah. “Saya lihat satu-satu wajahnya. Takut… tapi harus,” katanya.
Keesokan hari, satu kabar datang: keponakannya ditemukan tujuh kilometer dari rumah. Erik sendiri yang menjemput dan mengantarkannya ke Gumarang.
Namun sang ibu, adik, dan dua keponakan lainnya masih hilang.
Terisolasi dan Bertahan Hidup
Keluarga Erik di Jorong Subarang Aie terjebak lumpur dan tak bisa mendekat. Sementara hujan masih turun, material lumpur belum mengeras, dan akses makanan menipis.
Seorang sepupu, Darul, nekat menembus lumpur setinggi dada membawa bahan makanan seadanya. “Yang penting keluarga di dalam jorong tidak kelaparan,” katanya.
Di lokasi terisolasi itu, seorang warga juga ditemukan dengan luka berat karena dihantam arus. Evakuasi dilakukan secara manual—digotong melewati lumpur hingga ke titik yang bisa dijangkau mobil Satbrimob.
Ekskavator untuk Menggali Harapan
Karena pencarian ibunya tak kunjung membuahkan hasil, Erik mengambil langkah yang dianggapnya “gila”: merental alat berat. Ia mendekati operator ekskavator yang sedang bekerja di sekitar lokasi.
“Tolong bantu cari mama saya,” pintanya.
Sabtu malam, ekskavator mulai menggeser puing rumah yang ia curigai menjadi lokasi ibunya terakhir terlihat. Pencarian terhenti karena gelap, lalu dilanjutkan pagi harinya bersama Basarnas.
Setelah tiga jam, ekskavator berhenti. Operator memberi tanda.
Di bawah tumpukan balok dan genting itu, jasad Ernita ditemukan utuh, mukena putihnya masih membungkus tubuh. Erik menutup wajah, lututnya lemas.
“Saya bisa meluruskan kaki mama… dan melipat tangannya seperti orang tidur,” ujarnya.
Ernita langsung dimakamkan di pemakaman keluarga, tanpa proses identifikasi Rumahsakit karena yang menemukannya adalah keluarga sendiri.
Data Resmi Korban di Sumbar
Kapolres Agam AKBP Muari menyebut 112 orang tewas di Palembayan hingga hari keempat. Sebanyak 85 sudah teridentifikasi, sementara 27 lainnya masih belum diketahui identitasnya.
BPBD Sumatera Barat mencatat hingga Minggu (30/11):
- 129 orang meninggal dunia di tujuh kabupaten/kota
- 86 orang masih hilang
Rinciannya mencakup:
- Agam: 87 meninggal, 76 hilang
- Padang Panjang: 21 meninggal, 32 hilang
- Padang: 10 meninggal, 0 hilang
- Tanah Datar: 2 meninggal, 1 hilang
- Pasaman Barat: 1 meninggal, 6 hilang
- Padang Pariaman: 7 meninggal, 2 hilang
- Solok: 1 meninggal
- Pesisir Selatan: 1 hilang
Di banyak lokasi, akses masih terputus oleh lumpur dan kayu gelondongan. Beberapa alat berat rusak, sementara hujan turun tidak menentu.
Namun bagi Erik, pencarian panjang itu telah menemukan jawaban terpenting. “Yang penting mama ditemukan. Saya ingin mama pulang… walaupun dalam keadaan seperti ini.”***
Editor : Bar Bernad
Sumber Berita: BBC Indonesia


























