Majalengka, Mevin.ID — Di bawah langit pagi yang perlahan membuka kabut tipis, ratusan tubuh bergerak serempak di Lapangan GGM Majalengka, Minggu (30/11). Mereka bukan sekadar menari—mereka sedang menyalakan sebuah identitas. Sebuah simbol baru yang diberi nama Mantra Majalengka.
Gerakannya lahir dari denyut tanah pesisir dan pegunungan. Nadanya meminjam angin yang sejak dulu menjadi ciri kota ini. Dan pada pagi itu, Mantra Majalengka resmi diperkenalkan sebagai ikon seni baru Kabupaten Majalengka.
Ocky Sandi: Menyatukan Utara dan Selatan dalam Satu Gerak
Di tengah riuh tepuk tangan, Ocky Sandi berdiri menyampaikan alasan di balik penciptaan gerak ini. Bagi Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Majalengka (DEKKMA) itu, Mantra bukan sekadar karya seni—melainkan jembatan batin dua kutub budaya yang selama ini hidup berdampingan.
“Gerak Mantra Majalengka adalah narasi persatuan. Bagaimana selatan dan utara, timur dan barat bisa bergerak dalam satu harmoni,” ujarnya.
Majalengka memang memiliki karakter kebudayaan yang unik: pesisir yang egaliter di utara, pegunungan yang penuh laku ritual di selatan. Mantra Majalengka mencoba merangkum keduanya dalam satu napas.
Yang lebih istimewa, ikon ini tidak dipatenkan sebagai karya pribadi.
Mantra Majalengka, tegas Ocky, diwariskan untuk masyarakat, menjadi milik warga kota angin dengan jargon langkung sae.
Antusiasme Publik dari Majalengka hingga Bandung
Sejak pukul 07.00 WIB, Lapangan GGM sudah dipenuhi pengunjung. Ada pelajar, seniman, komunitas budaya, hingga warga yang sengaja datang dari Bandung, Cirebon, Indramayu, dan daerah lain. Konsep flashmob massal membuat momen ini terasa seperti pesta kebudayaan.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Majalengka, Dr. H. Ida Heriyani, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas lahirnya ikon seni baru tersebut. Tak lama kemudian, Ocky menyerahkan simbol Mantra Majalengka secara resmi kepada Pemerintah Kabupaten Majalengka—tanda bahwa identitas ini kini bukan lagi milik penciptanya, tapi milik masyarakat luas.
Didukung Dana Indonesiana dan Puluhan Komunitas Seni
Mantra Majalengka bukan proyek kecil. Acara ini didukung Kementerian Kebudayaan Indonesia melalui Dana Indonesiana, LPDP, dan berbagai organisasi seni serta komunitas lokal. Puluhan kelompok ikut terlibat—menjadikan hari itu sebagai bukti bahwa kebudayaan hidup melalui gotong royong.
“Hari Ini Mantra Mulai Bernafas”
Di akhir acara, Ocky kembali berdiri di panggung. Kali ini suaranya terdengar lebih emosional.
“Hari ini Mantra mulai bernafas sebagai identitas baru kebanggaan Majalengka. Dan kalian adalah bagian dari detak pertamanya. Terima kasih. Aku cinta padamu.”
Kalimat itu disambut tepuk tangan panjang. Gerak Mantra Majalengka mungkin hanya butuh hitungan menit untuk ditarikan, tetapi ia menyimpan perjalanan panjang: tentang tanah, angin, manusia, dan identitas yang ingin terus tumbuh.
Dan pagi itu, Majalengka resmi punya ikon baru—sebuah mantra yang lahir dari cinta para warganya sendiri.***
Penulis : Ahmad Hudri Harisman
Editor : Salman Faqih


























