Marbinda, Tradisi Unik Perayaan Natal Suku Batak Sumatera Utara

- Redaksi

Senin, 13 Januari 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Cover: Rumah Adat Suku Batak (shutterstock.com_Huyogo+Simbolon)

Cover: Rumah Adat Suku Batak (shutterstock.com_Huyogo+Simbolon)

Mevin.ID – Perayaan Natal di Indonesia sangat beragam yang mencerminkan budaya dan tradisi dari setiap daerah. Selain kegiatan ibadah di gereja, perayaan Natal umat Kristiani biasanya identik dengan berkumpul bersama keluarga dan lingkungan sekitar. Bagi Suku Batak di Sumatera Utara, perayaan Natal menjadi salah satu agenda tahunan yang dinantikan. Natal sudah berbaur menjadi budaya dan tradisi suku Batak sejak dahulu kala. Salah satu tradisi Suku Batak yang sudah berjalan turun-temurun saat merayakan Natal adalah marbinda.

Marbinda dalam bahasa Batak berarti menyembelih hewan bersama-sama. Tradisi marbinda dilakukan atas kesepakatan sekelompok masyarakat yang ingin menyembelih hewan hingga menikmati hidangan bersama. Marbinda biasanya dilakukan di tanggal 24 Desember sehari menjelang puncak perayaan Natal. Selain menyambut hari Natal, ada juga masyarakat yang marbinda di momen menyambut tahun baru.

Foto: Suku Batak (shutterstock.com_tatan+daniel)

Hewan yang biasa disembelih saat marbinda adalah hewan berkaki empat seperti babi, kerbau, kuda atau sapi sesuai kesepatakan bersama. Hewan ini dibeli dari dana patungan dari beberapa keluarga yang ada dalam satu lingkungan tempat tinggal atau dalam kumpulan marga yang sama. Meski puncak dari tradisi Marbinda dilakukan pada saat perayaan Natal dan tahun baru, kenyataannya persiapan atau pengumpulan dana secara patungan sejak berbulan-bulan sebelumnya, bahkan ditabung sejak awal tahun. Awalnya masyarakat menentukan dahulu jenis hewan yang akan disembelih, untuk selanjutnya dihitung iuran tiap bulan hari marbinda tiba. Dulu, pembayaran marbinda dibayar dengan padi saat panen, tapi seiring waktu, pembayaran marbinda dihitung dengan uang.

Daging hasil sembilih ini biasanya dibagi menjadi 2 kelompok, Sebagian akan dimasak bersama dan sebagian lagi dibagi dalam bentuk daging mentah. Kegiatan memasak daging bersama-sama ini disebut sebagai marhobas. Saat marhobas, kaum lelaki akan memotong daging, dan perempuan menyediakan bumbu dapur untuk memasak bersama. Kegitan marbinda dan marhobas akan diakhiri dengan perayaan dan makan bersama. Sewaktu acara juga ada proses ibadah yang dilakukan seperti doa bersama sebagai ucapan syukur kepada Tuhan.

Foto: Tarian Suku Batak (shutterstock.com_MarlonFranco)

Dengan marbinda, Suku Batak menjaga nilai-nilai kebersamaan, keadilan, saling menghargai dan senasib sepenanggungan. Adil dan saling menghargai karena hewan yang disembelih akan dibagi secara rata kepada setiap anggota, kebersamaan dan gotong royong karena dalam proses menyembelih perwakilan setiap  keluarga harus terlibat.

Harus diakui tradisi marbinda sudah mulai terkikis dan semakin jarang dilakukan terutama masyarakat perkotaan. Padahal marbinda menunjukkan semangat kebersamaan dengan daging yang sedikit semua anggota kelompok harus mendapat bagian dan pembiayaan yang ditanggung bersama. (*)

Facebook Comments Box

Penulis : Mardisoe

Sumber Berita: Kemenparekraf.go.id

Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Unik! Di Majalengka, Ikan Lele Disulap Jadi Dessert hingga Minuman Segar Tanpa Bau Amis
Gunung Pantun Stone: “Surga Tersembunyi” Hanya 10 Menit dari Pusat Kota Majalengka yang Butuh Sentuhan Ekstra
Menanam Budaya Kopi yang Kuat di Kalangan Anak Muda Bandung
Indonesia Waspada Virus Nipah: Kemenkes Ingatkan Bahaya Nira Mentah dan Bekas Gigitan Kelelawar
Jasinga “Rafting” Tanpa Pelampung: Saat Nyali Bertemu Kearifan Arus
Curug Bugbrug Cisarua Ditutup, Menyertai Duka Bencana Pasirlangu
Krisis Populasi Pria, Wanita di Latvia Kini Tren ‘Sewa Suami’ untuk Urusan Rumah Tangga
Belajar dari Aurelie & Kim Sae-ron: Membedakan Kasih Sayang dan Jeratan Child Grooming

Berita Terkait

Senin, 9 Februari 2026 - 12:11 WIB

Unik! Di Majalengka, Ikan Lele Disulap Jadi Dessert hingga Minuman Segar Tanpa Bau Amis

Jumat, 6 Februari 2026 - 20:31 WIB

Gunung Pantun Stone: “Surga Tersembunyi” Hanya 10 Menit dari Pusat Kota Majalengka yang Butuh Sentuhan Ekstra

Rabu, 4 Februari 2026 - 16:30 WIB

Menanam Budaya Kopi yang Kuat di Kalangan Anak Muda Bandung

Minggu, 1 Februari 2026 - 14:55 WIB

Indonesia Waspada Virus Nipah: Kemenkes Ingatkan Bahaya Nira Mentah dan Bekas Gigitan Kelelawar

Minggu, 1 Februari 2026 - 13:32 WIB

Jasinga “Rafting” Tanpa Pelampung: Saat Nyali Bertemu Kearifan Arus

Berita Terbaru