Masih Miskin secara Global: Indonesia di Peringkat 4 Dunia Versi Bank Dunia

- Redaksi

Rabu, 7 Mei 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto Ilustrasi (Antara-M Agusng R) Kemiskinan World Bank: 60,3% Penduduk Indonesia Masih Masuk Kategori Miskin

Foto Ilustrasi (Antara-M Agusng R) Kemiskinan World Bank: 60,3% Penduduk Indonesia Masih Masuk Kategori Miskin

Jakarta, Mevin.ID — Di tengah ambisi pemerintah menekan angka kemiskinan hingga di bawah 5 persen pada 2029, Bank Dunia justru merilis angka yang bikin dahi berkerut: 60,3 persen warga Indonesia tergolong miskin menurut standar global untuk negara berpendapatan menengah ke atas.

Data itu termuat dalam laporan Macro Poverty Outlook edisi April 2025. Angka tersebut memang sedikit membaik dari tahun sebelumnya (61,8 persen), tapi tetap menjadikan Indonesia sebagai negara dengan tingkat kemiskinan tertinggi keempat di dunia dalam kelompok negara berpendapatan menengah ke atas.

Miskin Versi Siapa?

Bank Dunia menetapkan garis kemiskinan untuk negara seperti Indonesia—yang masuk kategori pendapatan menengah ke atas sejak 2023—di angka US$ 6,85 per kapita per hari, atau sekitar Rp 110.867 per orang per hari (dengan asumsi kurs Rp 16.135 per dolar AS). Artinya, siapa pun yang pengeluarannya di bawah angka itu, secara internasional dianggap miskin.

Sebagai pembanding, untuk negara menengah ke bawah, garis kemiskinannya ditetapkan di US$ 3,65 per hari (Rp 58.892), dan untuk garis kemiskinan ekstrem internasional hanya US$ 2,15 (Rp 34.690) per hari.

Indonesia Satu Level dengan Afrika Selatan dan Namibia

Dengan angka 60,3 persen, Indonesia berada di bawah tiga negara lain:

  • Afrika Selatan: 63,4%
  • Namibia: 62,5%
  • Botswana: 61,9%

Sedangkan negara-negara lain yang masuk 10 besar di kategori ini antara lain Guatemala, Guinea Khatulistiwa, Armenia, Fiji, Georgia, dan Gabon.

Apa Artinya Buat Indonesia?

Tingginya angka kemiskinan menurut standar Bank Dunia menunjukkan bahwa walaupun pendapatan per kapita Indonesia naik, distribusi kesejahteraan masih timpang. Banyak warga Indonesia belum benar-benar sejahtera jika memakai standar global.

Hal ini juga menguatkan peringatan Bank Dunia sebelumnya, bahwa Indonesia bisa terjebak dalam status “negara menengah selamanya” (middle income trap) jika tidak mampu mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif. ***

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jejak Luka di Batang Toru: Menteri LH Hentikan Operasi 3 Perusahaan di Hulu DAS, Termasuk BUMN
Menkeu Purbaya Tegas Tolak Usulan Penghapusan Pajak BUMN dari Rosan Roeslani
Kemnaker Resmi Buka Pendaftaran Magang Nasional Batch III, Targetkan 25 Ribu Peserta
Nusron Hapus 1.040 Sertifikat di Tesso Nilo: “Ini Rumah Gajah, Bukan Rumah Manusia”
Lindungi UMKM Jabar, Stop Kompromi Soal Thrifting Ilegal Aturan Harus Ditegakkan
Dominasi Pekerja Informal Sentuh 58%, Sinyal Bahaya Bagi Kesejahteraan Nasional
85 Persen Hutan Tesso Nilo Berubah Jadi Kebun Sawit: Rumah Gajah Sumatra Terus Menyempit
PHE–PDC Kembangkan Energi Alam Microalgae untuk Dorong Target Net Zero Emission

Berita Terkait

Sabtu, 6 Desember 2025 - 13:16 WIB

Jejak Luka di Batang Toru: Menteri LH Hentikan Operasi 3 Perusahaan di Hulu DAS, Termasuk BUMN

Sabtu, 6 Desember 2025 - 08:34 WIB

Menkeu Purbaya Tegas Tolak Usulan Penghapusan Pajak BUMN dari Rosan Roeslani

Jumat, 5 Desember 2025 - 17:44 WIB

Kemnaker Resmi Buka Pendaftaran Magang Nasional Batch III, Targetkan 25 Ribu Peserta

Kamis, 4 Desember 2025 - 15:26 WIB

Nusron Hapus 1.040 Sertifikat di Tesso Nilo: “Ini Rumah Gajah, Bukan Rumah Manusia”

Rabu, 3 Desember 2025 - 09:50 WIB

Lindungi UMKM Jabar, Stop Kompromi Soal Thrifting Ilegal Aturan Harus Ditegakkan

Berita Terbaru