Mati di Tengah Hoaks — Ketika Logika Ditikam Emosi

- Redaksi

Senin, 11 Agustus 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rubrik: Madilog untuk Generasi Digital

Di era TikTok, X (Twitter), dan grup WhatsApp keluarga, satu hal menyebar lebih cepat dari cahaya: hoaks.

Kabar tentang “vaksin bikin mandul”, “komunis bangkit lagi”, atau “chip dalam KTP” bisa menular seperti virus, tanpa vaksin kebenaran.

Lebih menakutkan, bukan hanya masyarakat yang mudah termakan hoaks, tapi juga elite dan pejabat—yang seharusnya berpikir jernih.

Lalu muncul satu pertanyaan penting:
Mengapa di zaman semodern ini, logika justru makin langka?

Tan Malaka Sudah Mengantisipasinya 80 Tahun Lalu

Dalam Madilog, Tan Malaka menyuarakan keresahan ini jauh sebelum internet ada:

“Selama logika tidak diajarkan kepada rakyat, maka selama itu pula mereka mudah dibodohi oleh tipu muslihat, kebohongan, dan takhayul.”

Ia menyaksikan sendiri bagaimana kolonial dan penguasa lokal membungkus kepentingan dalam bahasa agama, adat, atau kebudayaan—agar rakyat tidak sempat berpikir.

Hari ini, bentuknya berubah: bukan lagi mimbar masjid atau cerita mistik, tapi algoritma media sosial yang menyajikan emosi, bukan informasi. Logika dibunuh oleh kecepatan dan sensasi.

Hoaks Adalah Simptom, Bukan Masalah Utama

Tan Malaka menekankan: kita harus melihat realitas dengan materialisme. Artinya, hoaks bukan sekadar salah paham. Ia adalah gejala dari struktur sosial-politik yang anti-akal sehat.

  • Sekolah lebih suka murid patuh daripada kritis.
  • Media lebih suka clickbait daripada edukasi.
  • Politik lebih senang rakyat bingung daripada sadar.

Maka tak heran, hoaks tumbuh subur di tanah di mana logika dicabut dari akar pendidikan.

Kenapa Hoaks Laku? Karena Emosi Lebih Laku daripada Rasio

Banyak dari kita membaca bukan untuk mencari kebenaran, tapi untuk menguatkan apa yang kita sudah percaya.

Ini yang Tan Malaka sebut sebagai pembusukan logika oleh kebiasaan lama: rakyat berpikir berdasarkan rasa takut, bukan bukti.

Ketika kita menolak data karena “nggak enak didengar”, atau menyebar pesan karena “katanya ustaz”, saat itu kita membunuh logika dan membuka pintu bagi manipulasi.

Madilog adalah Vaksin Akal Sehat

Tan Malaka menawarkan logika sebagai senjata utama rakyat. Ia bukan milik akademisi atau filsuf, tapi senjata sehari-hari untuk menolak ditipu.

“Kalau rakyat tidak diajarkan logika, mereka akan percaya bahwa penderitaan adalah takdir, bukan hasil dari sistem yang bobrok.”
Tan Malaka (paraftaf)

Hari ini, logika bukan lagi pelajaran formal, tapi kebutuhan bertahan hidup. Ia adalah cara untuk menyaring berita, membaca niat politisi, dan menghindari jebakan manipulasi.

Jadi, Apa yang Harus Kita Lakukan?

  1. Berani ragu sebelum percaya.
    Logika bukan soal tahu segalanya, tapi tahu kapan harus bertanya.
  2. Cek sumber, bukan hanya judul.
    Jangan jadi korban clickbait atau broadcast hoaks.
  3. Ajarkan logika sejak kecil.
    Bukan cuma matematika, tapi belajar berpikir kritis.
  4. Baca Tan Malaka.
    Karena Madilog bukan hanya sejarah, tapi pelita untuk zaman kegelapan digital.

Revolusi Hari Ini Bukan Turun ke Jalan, Tapi Naikkan Kualitas Pikiran

Di tengah banjir informasi, orang yang bisa berpikir jernih adalah manusia langka.

Dan Tan Malaka telah mewariskan alatnya sejak 1943: logika.

Maka saat hoaks kembali menyerang, kita tahu senjatanya bukan hanya klarifikasi—tapi keberanian untuk berpikir sendiri.***

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketika Pertumbuhan Ekonomi Tak Lagi Menetes: Bukan Takdir, Tapi Soal Desain Kebijakan
Membedah Peluang Emas “Gentengisasi” bagi Kebangkitan Ekonomi Rakyat Majalengka
Pena Terakhir untuk Mama Reti: Luka di Balik Surat Perpisahan dari Ngada
Bukan Krisis, Tapi Ujian Kepercayaan Pasar
Insiden Keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) Sepanjang Januari 2026
Ada Apa dengan BEI dan OJK? Ketika Kepercayaan Pasar Diuji, Negara Harus Hadir Menenangkan
Menagih Janji di Balik Etalase Bandung Utama
Sesar Lembang: Literasi Kebencanaan yang Terabaikan

Berita Terkait

Kamis, 5 Februari 2026 - 14:45 WIB

Ketika Pertumbuhan Ekonomi Tak Lagi Menetes: Bukan Takdir, Tapi Soal Desain Kebijakan

Kamis, 5 Februari 2026 - 08:23 WIB

Membedah Peluang Emas “Gentengisasi” bagi Kebangkitan Ekonomi Rakyat Majalengka

Selasa, 3 Februari 2026 - 23:30 WIB

Pena Terakhir untuk Mama Reti: Luka di Balik Surat Perpisahan dari Ngada

Senin, 2 Februari 2026 - 20:46 WIB

Bukan Krisis, Tapi Ujian Kepercayaan Pasar

Senin, 2 Februari 2026 - 08:48 WIB

Insiden Keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) Sepanjang Januari 2026

Berita Terbaru