Membeli Nama di Atas Bara: Ketika Viralitas Menumbalkan Nurani

- Redaksi

Jumat, 19 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LAYAR ponsel itu berpijar di tengah kegelapan kamar, memantulkan cahaya biru pada wajah seorang pemuda yang sedang tersenyum puas.

Di kolom notifikasinya, angka terus merangkak naik—ribuan komentar masuk dalam hitungan menit. Namun, jika kita mengintip lebih dekat, kolom itu bukan berisi pujian, melainkan sumpah serapah, makian, dan kemarahan yang meluap-luap.

Ia baru saja melakukan praktik rage baiting: sebuah taktik manipulatif yang sengaja menggunakan konten SARA sebagai umpan demi memancing amarah publik.

Mengunggah sebuah video yang menghina keyakinan kelompok lain demi sebuah angka yang ia sebut sebagai “kesuksesan”.

Kita sedang hidup di era di mana perhatian adalah mata uang baru, dan sayangnya, banyak orang merasa bangkrut jika tidak dikenal.

Fenomena kreator konten yang sengaja menabrak batas SARA demi jalan pintas populer adalah potret menyedihkan dari ekonomi atensi.

Mereka tidak sedang berkarya; mereka sedang membakar rumah sendiri hanya agar orang-orang menoleh melihat asapnya.

Paradoks Kebencian yang Terorganisir

Ada ironi yang getir dalam fenomena ini. Sang kreator tahu bahwa apa yang ia katakan itu salah, dan penonton pun tahu itu provokasi.

Namun, algoritma tidak memiliki moral. Mesin digital hanya membaca “keramaian”. Setiap kali kita mengetik hujatan karena geram, algoritma justru membacanya sebagai “konten menarik” dan menyebarkannya ke lebih banyak orang.

Secara tidak sadar, kemarahan kita adalah bahan bakar yang menerbangkan mereka ke puncak trending.

Mereka mengeksploitasi emosi terdalam manusia—rasa memiliki terhadap agama, suku, dan ras—untuk dikonversi menjadi rupiah dari iklan atau sekadar kepuasan ego yang semu.

Harga Sebuah Jejak Digital

Berapa harga sebuah nama? Bagi para pemburu jalan pintas ini, popularitas adalah segalanya, meskipun itu datang dari kebencian.

Namun, mereka sering lupa bahwa internet adalah ruang tanpa penghapus. Saat api kemarahan itu padam, yang tersisa bukanlah pengagum, melainkan abu reputasi yang permanen.

Mereka mungkin “terkenal”, tapi mereka kehilangan kehormatan. Di masa depan, ketika mereka ingin kembali menjadi manusia biasa yang mencari pekerjaan atau membangun keluarga, bayang-bayang konten SARA itu akan selalu membuntuti seperti hantu yang menolak pergi.

Sebuah Cermin untuk Kita

Fenomena ini bukan hanya tentang kesalahan sang kreator, tapi juga cermin bagi kita sebagai konsumen digital.

Mengapa kita begitu mudah terpancing? Mengapa konten yang memecah belah lebih cepat dibagikan daripada konten yang menyatukan?

Mungkin, cara terbaik untuk membunuh “monster” sensasi ini bukanlah dengan melawannya dengan pedang hujatan, melainkan dengan membiarkannya mati dalam kesunyian.

Tanpa klik, tanpa komentar, dan tanpa share, seorang provokator hanyalah seseorang yang berteriak di ruang hampa.

Pada akhirnya, menjadi viral itu mudah, tetapi menjadi berharga itu butuh proses. Di dunia yang semakin bising ini, integritas adalah barang mewah yang tidak bisa dibeli dengan sejuta viewers hasil dari memecah belah bangsa.

Bagaimana menurut Anda? Apakah menurut Anda sistem moderasi platform saat ini sudah cukup tegas dalam memutus rantai “viralitas negatif” seperti ini?***

Facebook Comments Box

Penulis : Bar Bernad

Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Filosofi Sampah, Ironi Sesuatu yang Tak Berharga Namun Mampu Melumpuhkan Dunia
Sering Terluka? Mungkin Hatimu Terlalu Banyak Menampung Titipan, Ini Kata Rumi
Persoalan Sampah di Kota Bandung, Ujian Kepemimpinan di Kota Kembang
Nasib BIJB Kertajati Majalengka di Ujung Tanduk
Mengintegrasikan Adaptasi Perubahan Iklim Berbasis Masyarakat di Sekolah dan Desa
Leuser Dikorbankan, Rakus Kekuasaan, Abainya Negara, dan Diamnya Kita
Kedokteran Jiwa Ibnu Sina, Mengelola Batin Sebagai Fondasi Kesembuhan
Pulang ke Rumah yang Sesungguhnya, Refleksi Atas Cinta dan Kesedihan

Berita Terkait

Minggu, 18 Januari 2026 - 10:39 WIB

Filosofi Sampah, Ironi Sesuatu yang Tak Berharga Namun Mampu Melumpuhkan Dunia

Sabtu, 17 Januari 2026 - 11:01 WIB

Sering Terluka? Mungkin Hatimu Terlalu Banyak Menampung Titipan, Ini Kata Rumi

Sabtu, 17 Januari 2026 - 10:37 WIB

Persoalan Sampah di Kota Bandung, Ujian Kepemimpinan di Kota Kembang

Sabtu, 17 Januari 2026 - 09:46 WIB

Nasib BIJB Kertajati Majalengka di Ujung Tanduk

Jumat, 16 Januari 2026 - 11:22 WIB

Mengintegrasikan Adaptasi Perubahan Iklim Berbasis Masyarakat di Sekolah dan Desa

Berita Terbaru