BANDUNG, Mevin.ID – Menulis adalah cara terbaik untuk menyembuhkan, namun menuliskan trauma adalah keberanian yang melampaui batas luka itu sendiri. Inilah yang dilakukan oleh Aurelie Moeremans melalui bukunya, Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth.
Buku ini bukan sekadar rentetan kalimat di atas kertas, melainkan sebuah jeritan sunyi yang akhirnya menemukan suaranya setelah belasan tahun terperangkap dalam ruang gelap manipulasi.
Judul “Broken Strings” (Dawai yang Patah) menjadi metafora yang sangat kuat.
Jika hidup seorang anak manusia diibaratkan sebagai sebuah instrumen musik yang indah, maka masa remaja Aurelie adalah instrumen yang dawainya diputus secara paksa sebelum sempat memainkan melodi yang paling merdu.
Ia bercerita tentang masa di mana ia masih berusia 15 tahun—usia di mana seharusnya dunia dipenuhi warna-warni impian, namun justru berubah menjadi abu-abu akibat kehadiran sosok pria dewasa yang melakukan child grooming.
Dalam esai naratif ini, Aurelie membawa pembaca masuk ke dalam labirin psikologis seorang korban.
Ia tidak hanya menceritakan kejadian fisik, tetapi juga memperlihatkan bagaimana perlahan-lahan rasa percaya dirinya dikikis habis. Kita diajak melihat bagaimana pelaku membangun narasi “cinta” yang sebenarnya adalah jeratan kendali total.
Pembaca akan merasakan sesaknya dikontrol, diancam, dan dipaksa untuk dewasa jauh sebelum waktunya.
Yang membuat buku ini begitu menyentuh adalah kejujurannya yang telanjang. Aurelie tidak memposisikan dirinya sebagai pahlawan yang sempurna, melainkan sebagai seorang gadis remaja yang bingung, takut, dan merasa tidak memiliki tempat untuk berpegang.
Ia meluruskan berbagai spekulasi publik yang selama bertahun-tahun menghakiminya tanpa tahu beban berat yang ia pikul di pundak kecilnya saat itu.
Namun, di balik kepedihan yang diceritakan, Broken Strings adalah sebuah pernyataan kemenangan.
Dengan merilis buku ini secara gratis, Aurelie menunjukkan bahwa tujuan utamanya bukanlah materi, melainkan edukasi dan pembebasan diri.
Ia ingin memastikan bahwa tidak ada lagi “Aurelie-Aurelie” lain yang terjebak dalam jebakan Batman yang sama.
Pada akhirnya, buku ini mengajarkan kita bahwa masa lalu yang hancur tidak harus menentukan masa depan yang suram.
Melalui tulisan, Aurelie telah menyambung kembali dawai-dawai yang pernah patah itu.
Meskipun mungkin suaranya tak lagi sama seperti dulu, melodi yang dihasilkan kini jauh lebih kuat, lebih dalam, dan memiliki kekuatan untuk menyembuhkan siapa pun yang mendengarnya.
Link Buku Broken Strings Karya Aurelie Moeremans
Buku Broken Strings tersedia dalam dua pilihan bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Aurelie sengaja menghadirkan dua versi agar pesan yang ia sampaikan dapat menjangkau pembaca yang lebih luas.
Untuk membaca buku ini, Anda bisa langsung mengaksesnya melalui tautan berikut.
- Versi bahasa Indonesia: https://drive.google.com/file/d/1mnM75U0nIVqZsOCJHA7mehZFg8pQxnXo/view
- Versi bahasa Inggris: https://drive.google.com/file/d/10i1Sicmhm43miVZGcFkg7ABsXCXxc8-Y/view***
Editor : Bar Bernad


























