Satu Tahun Farhan-Erwin: Akhir Masa “Bulan Madu”, Saatnya Menghitung Realita
TEPAT pada 20 Februari 2026 mendatang, genap sudah satu tahun Muhammad Farhan dan Erwin menduduki kursi kepemimpinan di Balai Kota Bandung.
Satu tahun bukanlah waktu yang singkat dalam denyut nadi kota sesibuk Bandung, namun bagi sebuah rezim baru, ini adalah masa transisi yang krusial—masa di mana retorika kampanye harus mulai menampakkan wujudnya dalam bentuk aspal yang rata, drainase yang mengalir, dan birokrasi yang bersih.
Visi “Bandung Utama” yang mereka usung sejak awal tahun 2025 kini berada di bawah mikroskop publik.
Pertanyaannya sederhana : Apakah Bandung benar-benar telah menjadi lebih Unggul dan Maju, atau kita hanya sekadar berganti wajah di papan reklame tanpa perubahan mendasar di akar rumput?
Estetika vs Substansi: Macet dan Sampah
Di sektor transportasi, kita melihat upaya moderasi melalui penambahan armada bus listrik. Secara visual, ini adalah kemajuan.
Namun, warga yang setiap hari terjebak di labirin kemacetan Pasteur atau Kopo dan beberapa titik jalur tentu tidak cukup dipuaskan hanya dengan pemandangan bus baru.
Integrasi transportasi publik yang dijanjikan masih terasa seperti proyek percontohan (pilot project) yang belum menyentuh inti masalah sistemik.
Begitu pula dengan isu sampah. Revitalisasi TPS menjadi pusat pengolahan mikro adalah langkah maju yang patut diapresiasi.
Namun, wajah asli Bandung tidak hanya ada di pusat kota. Di pasar-pasar tradisional dan pinggiran jalan, tumpukan sampah sesekali masih menjadi pemandangan yang menyakitkan mata.
Janji Zero Waste Kota menuntut konsistensi yang lebih dari sekadar penguatan program lama seperti Kang Pisman; ia menuntut perubahan budaya birokrasi dalam mengelola limbah dari hulu secara masif.
Ujian Terberat: Integritas dan Sapu Bersih KKN
Namun, poin paling krusial dari kepemimpinan Farhan-Erwin adalah janji moral: Anti-KKN. Mengingat sejarah kelam Bandung yang sempat menjadi “lahan panen” bagi lembaga antirasuah, pernyataan Farhan yang mengaku “sedih dan miris” setahun lalu adalah sebuah janji suci yang akan terus ditagih.
Warga tidak hanya ingin mendengar Walikota tidak korupsi; warga ingin memastikan bahwa sistem di bawahnya—mulai dari penempatan jabatan kepala dinas hingga proses tender proyek—tidak lagi menggunakan pola-pola lama: nepotisme dan setoran.
Tata kelola SDM di Pemkot Bandung harus membuktikan bahwa Merit System benar-benar tegak. Jangan sampai jabatan strategis diisi bukan karena kompetensi, melainkan sebagai balas budi politik.
Setahun ini adalah waktu yang cukup bagi Farhan-Erwin untuk melakukan “bersih-bersih” total di internal birokrasi.
Melampaui Citra
Farhan-Erwin harus menyadari bahwa masa “bulan madu” telah usai. Bandung tidak butuh pemimpin yang hanya piawai berselancar di media sosial atau sekadar hadir di acara seremonial.
Warga butuh eksekutor yang berani membedah persoalan hingga ke saraf-saraf kota.
Kepuasan publik adalah akumulasi dari rasa aman saat hujan tidak banjir, rasa nyaman saat naik angkutan umum, dan rasa percaya bahwa setiap rupiah pajak mereka tidak dikorupsi oleh pejabat bermental lintah.
Di tahun kedua nanti, harapan kita tetap sama: Semoga Bandung Utama bukan sekadar akronim indah di atas kertas visi-misi, melainkan kenyataan yang benar-benar bisa dihirup udaranya oleh seluruh warga Kota Kembang.
Sebagai warga yang mencintai kota ini, kita memiliki hak sekaligus kewajiban untuk memberikan penilaian yang jujur. Polling ini hadir sebagai ruang bagi Anda untuk menyampaikan aspirasi secara objektif.
Hasil dari survei ini akan menjadi cermin bagi pemerintah: Apakah mereka sudah bekerja di jalur yang benar, atau justru sedang menjauh dari harapan warga?
Mari sampaikan suara Anda. Karena Bandung yang “Utama” hanya bisa terwujud jika pemimpinnya mau mendengar dan warganya berani bersuara.***
Klik Link dibawah ini :
- Pooling Persepsi Warga Kota Bandung terhadap Setahun Kepemimpinan Farhan – Erwin Atau
- Pooling Persepsi Warga Kota Bandung terhadap Setahun Kepemimpinan Farhan – Erwin


























