BANDUNG, Mevin.ID – Menyikapi tren maraknya coffee shop dan peluang kerja yang terbuka di industri kopi, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung melalui Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) menggelar pelatihan barista dasar bagi warganya.
Inisiatif ini diharapkan dapat menekan angka pengangguran sekaligus mencetak wirausaha baru di sektor kuliner kopi yang terus berkembang.
Dari Sejarah hingga Teknik Peracikan
Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Berkat Abadi Mandiri (BAM), sebagai penyelenggara, merancang materi pelatihan yang komprehensif.
Peserta tidak hanya diajarkan keterampilan praktik, tetapi juga dibekali pengetahuan mendalam tentang kopi.
“Peserta diajak memahami perjalanan kopi dari Ethiopia hingga ke Indonesia, proses pasca panen, pengolahan green bean, hingga tahap roasting. Mereka juga mendapatkan materi sensory atau coffee cupping yang penting untuk memahami karakter rasa kopi,” jelas pimpinan LPK BAM, Wawan Sukarnawan, Rabu (4/2/2026).
Fokus pada Kompetensi Siap Pakai
Pelatihan yang diikuti 20 peserta per angkatan ini menitikberatkan pada penguatan keterampilan praktik langsung.
Peserta dilatih teknik manual brew, penggunaan mesin espresso, serta peracikan berbagai resep minuman kopi. Semua fasilitas, peralatan, dan instruktur bersertifikasi BNSP level 3 telah disediakan.
“Tujuannya adalah membekali warga dengan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja. Selain untuk berkarir sebagai barista, kami harap pelatihan ini bisa mendorong lahirnya wirausaha baru di sektor UMKM,” tambah Wawan.
Program ini diharapkan mampu berkontribusi pada penurunan angka pengangguran dan kemiskinan, serta mendorong produktivitas masyarakat.
Dari Hobi Menjadi Peluang Karir
Salah satu peserta, Fio Qalby, mengungkapkan ketertarikannya pada pelatihan ini karena melihat potensi besar di industri kopi, terutama di kalangan anak muda.
“Budaya ngopi yang kuat di Gen Z membuka peluang besar. Kami belajar bahwa di balik secangkir kopi, ada proses yang sangat kompleks dan seni,” ujar Fio.
Ia menyebut sesi coffee cupping sebagai pengalaman paling berkesan, di mana ia menyadari ragam rasa kopi tidak melulu pahit, tetapi bisa manis, asam, atau fruity.
Dengan bekal pelatihan ini, Fio beraspirasi menjadi barista profesional dan berencana membuka coffee shop sendiri di masa depan.
Ia berharap Pemkot Bandung dapat memperbanyak program serupa agar lebih banyak warga yang memiliki keterampilan siap pakai.
Program pelatihan barista ini menjadi bagian dari upaya Pemkot Bandung dalam menyediakan akses pengembangan keterampilan bagi masyarakat, menjawab dinamika pasar kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif lokal.***
Penulis : Atep K
Editor : Bar Bernad

























