Menangis di Hadapan Tunggul: Duka Seorang Nenek dan Sebatang Pohon yang Dihabisi Waktu

- Redaksi

Senin, 15 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bandung, Mevin.ID – Di sebuah sudut sunyi Chhattisgarh, India, pagi itu tak lagi ramah.

Seorang perempuan renta berusia 85 tahun terduduk lemas di dekat tunggul pohon.

Tangisnya pecah, menggema di antara tanah yang masih lembap dan sisa batang yang kasar. Tangis yang bukan sekadar kehilangan, melainkan duka yang tak mampu diucapkan dengan kata-kata.

 

View this post on Instagram

 

Pohon itu telah tiada.

Dua puluh tahun lalu, perempuan bernama T* itu menanamnya dengan tangannya sendiri. Saat usia senja belum menyapa, saat langkahnya masih tegap, dan dunia terasa lebih lapang.

Pohon itu tumbuh bersama waktu—menyaksikan musim datang dan pergi, menjadi saksi kesepian, harapan, dan hari-hari panjang yang dilalui sang nenek seorang diri.

Bagi T*, pohon itu bukan sekadar batang dan daun. Ia adalah anak, teman hidup, dan penjaga kenangan.

Namun, pada suatu malam, ikatan itu direnggut secara paksa.

Dipotong Diam-Diam, Ditinggalkan Tanpa Rasa Bersalah

Pelaku penebangan diketahui bernama Im***, warga Khairagarh, bersama seorang rekannya. Mereka mencoba menebang pohon tersebut secara ilegal. Warga desa sempat memergoki dan menghentikan aksi itu.

Namun malam selalu punya cara menyembunyikan niat buruk.

Keesokan paginya, pohon itu telah rata dengan tanah.

Yang tersisa hanyalah tunggul—dan seorang nenek yang kehilangan sebagian hidupnya.

“Seperti Kehilangan Anak Sendiri”

Tangis T* berubah menjadi isak yang nyaris tak tertahan. Ia memeluk sisa batang pohon, seakan berharap waktu bisa diputar ulang. Penduduk desa mencoba menenangkannya, namun duka itu terlalu dalam.

“Pohon itu saya rawat seperti anak sendiri,” katanya lirih.

Dua dekade merawat, menyiram, menjaga dari hama dan cuaca. Dua dekade menanam harapan di tanah yang sama. Dan semuanya hilang dalam satu malam.

Viral, Tapi Apakah Kita Benar-Benar Peduli?

Video momen memilukan itu kini viral di media sosial. Ribuan warganet menyatakan marah, sedih, dan kecewa.

Banyak yang mengecam tindakan penebangan ilegal tersebut. Banyak pula yang mengaku tersentuh—bahkan menangis—melihat ikatan emosional seorang manusia dengan sebatang pohon.

Namun viral sering kali cepat berlalu.

Pertanyaannya: apakah empati juga ikut tinggal?

Pohon Bukan Sekadar Lingkungan, Ia Adalah Kehidupan

Kisah T* adalah pengingat sunyi bahwa pohon bukan sekadar objek ekologis. Ia adalah bagian dari kehidupan manusia—penyimpan kenangan, pelindung, dan saksi perjalanan waktu.

Ketika sebuah pohon ditebang tanpa rasa tanggung jawab, yang hilang bukan hanya oksigen dan keteduhan. Yang hilang adalah hubungan, makna, dan rasa kemanusiaan itu sendiri.

Di hadapan tunggul itu, seorang nenek menangis. Dan seharusnya, kita ikut belajar—bahwa menjaga pohon berarti menjaga kehidupan.

***

Kisah nenek T* di Chhattisgarh sejatinya bukan cerita yang jauh dari Indonesia. Tangis di hadapan tunggul pohon itu adalah gema dari krisis ekologis global yang kini juga terasa di banyak desa, hulu sungai, dan kawasan pertanian Nusantara.

Indonesia, dengan hutan tropisnya yang luas, justru berada di garis depan ancaman kerusakan lingkungan: deforestasi, alih fungsi lahan, penebangan ilegal, dan krisis iklim yang perlahan menggerus ruang hidup manusia.

Iwan Sutanto, SP, Ketua Asosiasi Produsen Pengedar Benih Hortikultura (APPBH), menilai peristiwa itu sebagai potret kegagalan manusia modern dalam memaknai hubungan dengan alam.

“Apa yang terjadi di India itu sebenarnya cermin dari apa yang sedang dan akan kita alami di Indonesia jika relasi kita dengan alam hanya dilihat sebagai objek ekonomi,” ujar Iwan kepada Mevin.ID.

Menurutnya, pohon bukan sekadar sumber kayu atau hambatan pembangunan. Ia adalah fondasi kehidupan—terutama bagi pertanian dan ketahanan pangan.

“Tanpa pohon, siklus air rusak. Tanah kehilangan kesuburan. Benih yang kami produksi, sebaik apa pun kualitasnya, tidak akan tumbuh optimal di lingkungan yang sudah rusak,” jelasnya.

Iwan menekankan bahwa krisis ekologi hari ini bukan semata soal bencana alam, tetapi krisis etika manusia terhadap kehidupan.

“Ketika seorang nenek menangisi pohon yang ia tanam puluhan tahun, itu bukan sentimental berlebihan. Itu adalah ekspresi paling jujur dari kesadaran ekologis—bahwa manusia dan alam tumbuh bersama.”

Ia mengingatkan, di Indonesia, banyak petani kecil yang memiliki ikatan serupa dengan lahan, pohon peneduh, dan sumber air. Namun ikatan itu kerap dikalahkan oleh kepentingan jangka pendek: tambang, proyek, dan eksploitasi tanpa batas.

“Kalau kita terus abai, yang akan menangis bukan hanya satu nenek. Tapi generasi berikutnya—anak cucu kita—karena kehilangan tanah hidupnya,” tegas Iwan.

Baginya, menjaga pohon berarti menjaga masa depan pangan, budaya, dan kemanusiaan.

Dan mungkin, dari tangis seorang nenek di India, dunia—termasuk Indonesia—perlu kembali belajar satu hal sederhana namun terlupakan: alam bukan warisan yang boleh dihabiskan, melainkan titipan yang harus dijaga.***

Facebook Comments Box

Penulis : Bar Bernad

Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KPK Cecar Ono Surono Soal Aliran Uang Kasus Korupsi Bupati Bekasi Ade Kuswara
BMKG Tetapkan Status Awas, 3 Provinsi Ini Berpotensi Hujan Lebat & Banjir
KPK Tegaskan Punya Bukti Ketua PBNU Kasus Korupsi Kuota Haji
Kasus Korupsi Ade Kunang, Benarkah KPK Periksa Wakil Ketua DPRD Jabar Ono Surono? 
BPOM Tarik Susu Formula Nestle S-26, Waspadai Potensi Toksin Cereulide yang Tahan Panas
Kasus Suap Proyek Pemkab Bekasi: KPK Duga Anggota DPRD Nyumarno Terima Aliran Dana Rp600 Juta
Waspada! BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem Sepekan ke Depan, Wilayah Ini Berstatus Siaga
Iran Membara: Korban Jiwa Tembus 2.000 Orang, Khamenei Tuding AS di Balik Kekacauan

Berita Terkait

Kamis, 15 Januari 2026 - 18:40 WIB

KPK Cecar Ono Surono Soal Aliran Uang Kasus Korupsi Bupati Bekasi Ade Kuswara

Kamis, 15 Januari 2026 - 17:13 WIB

BMKG Tetapkan Status Awas, 3 Provinsi Ini Berpotensi Hujan Lebat & Banjir

Kamis, 15 Januari 2026 - 13:00 WIB

KPK Tegaskan Punya Bukti Ketua PBNU Kasus Korupsi Kuota Haji

Kamis, 15 Januari 2026 - 12:32 WIB

Kasus Korupsi Ade Kunang, Benarkah KPK Periksa Wakil Ketua DPRD Jabar Ono Surono? 

Kamis, 15 Januari 2026 - 12:30 WIB

BPOM Tarik Susu Formula Nestle S-26, Waspadai Potensi Toksin Cereulide yang Tahan Panas

Berita Terbaru