Menangisi Ijazah di Sudut Kamar, Ketika Gelar Tinggi Tak Lagi Jadi Jaminan

- Redaksi

Jumat, 9 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

DI SEBUAH kamar kos berukuran tiga kali tiga, seorang magister ekonomi menatap pigura ijazahnya yang menggantung rapi di dinding.

Debu tipis mulai menempel di kaca. Ia mengelapnya pelan, seperti sedang merawat luka yang tak kunjung sembuh.

Dulu, kertas itu adalah tiket menuju masa depan. Kini, ia terasa seperti bukti bisu dari sebuah janji yang tak terpenuhi.

Selama puluhan tahun, meja makan keluarga Indonesia memutar lagu yang sama. Sekolah setinggi mungkin, agar hidupmu terjamin.

Namun laporan LPEM FEB UI yang dirilis November 2025 datang seperti hujan es di tengah kemarau harapan.

Lebih dari 6.000 lulusan S2 dan S3 tercatat sebagai discouraged workers. Mereka bukan sekadar menganggur. Mereka menyerah.

Bukan karena malas. Bukan karena tak mampu. Tapi karena terlalu sering pintu tertutup sebelum sempat mereka ketuk.

Retaknya Janji Pendidikan Tinggi

Menempuh S2 atau S3 bukan perkara ringan. Ada tabungan yang terkuras, ada waktu yang dipangkas dari usia muda, ada mimpi yang digantungkan tinggi-tinggi.

Maka ketika dunia kerja berkata, “Maaf, Anda terlalu overqualified,” atau lebih kejam lagi, “Keahlian Anda tidak relevan,” yang runtuh bukan cuma rencana hidup, tapi juga keyakinan diri.

Di sinilah ironi itu bersemayam. Negeri ini rajin memproduksi gelar, tapi pelit menyediakan panggung. Universitas mencetak doktor, industri mencari operator.

Kampus mengajarkan teori tinggi, pasar kerja meminta pengalaman praktis. Keduanya seperti dua rel kereta yang berjalan sejajar, tapi tak pernah bertemu.

Laki-laki dan Beban Menjadi Tulang Punggung

Data LPEM FEB UI mencatat 69 persen dari discouraged workers berpendidikan tinggi adalah laki-laki. Dalam budaya kita, laki-laki masih dibesarkan dengan mandat tak tertulis: kau harus bekerja, kau harus menafkahi, kau harus kuat.

Maka ketika seorang magister teknik atau doktor sosiologi pulang ke rumah tanpa kabar baik, yang ia bawa bukan hanya kegagalan wawancara. Ia membawa rasa bersalah. Ia membawa pertanyaan yang menusuk: “Apa gunanya semua ini?”

Dompet menipis, harga diri ikut terkikis. Dan di tengah tekanan itu, depresi datang diam-diam seperti kabut pagi yang menutup pandangan.

Perempuan dan Tembok yang Tak Terlihat

Sementara itu, perempuan berpendidikan tinggi menghadapi monster lain yang lebih halus tapi sama tajam. Status pernikahan, rencana punya anak, dan stereotip soal “komitmen kerja” masih menjadi pagar listrik yang membatasi langkah mereka.

Banyak lulusan S2 dan S3 perempuan akhirnya terlempar kembali ke ranah domestik, bukan karena tak mampu bersaing, tetapi karena sistem belum ramah pada mereka yang ingin menjadi profesional sekaligus ibu.

Potensi cemerlang pun mengendap seperti emas di dasar sungai, berkilau tapi tak pernah diangkat.

Brain Waste dan Alarm Ekonomi

Per Februari 2025, jumlah pengangguran putus asa di Indonesia mencapai 1,87 juta orang. Angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah peta luka kolektif. Ia adalah sinyal bahwa kita sedang membuang otak-otak terbaik bangsa ke dalam ruang tunggu tanpa pintu keluar.

Ini adalah brain waste, pemborosan kecerdasan yang seharusnya menjadi bahan bakar kemajuan. Jika para doktor dan magister merasa tak punya tempat di negerinya sendiri, lalu masa depan seperti apa yang sedang kita bangun?

Apakah kurikulum kita terlalu sibuk memuja teori hingga lupa menginjak tanah? Ataukah industri kita terlalu kerdil untuk menampung gagasan besar?

Bukan Sekadar Gelar

Laporan LPEM FEB UI adalah cermin besar yang memantulkan wajah sistem kita. Ia menegur dengan keras: ijazah, setinggi apa pun, hanyalah selembar kertas jika ekosistem ekonomi tak menyediakan ruang untuk bertumbuh.

Kita butuh lebih dari jargon “link and match”. Kita butuh orkestrasi nyata antara dunia pendidikan, industri, dan kebijakan publik.

Kita butuh keberanian untuk menciptakan lapangan kerja yang menghargai keahlian tinggi, bukan sekadar menyerap tenaga murah.

Dan bagi mereka yang kini menatap ijazahnya dengan mata basah di sudut kamar, ketahuilah: keputusasaan itu bukan aib pribadi. Ia adalah retakan sistemik yang menunggu untuk diperbaiki.

Sudah saatnya kita berhenti hanya menyuruh anak muda sekolah setinggi langit, tanpa menyiapkan tangga yang kokoh untuk mereka turun dan berkarya di bumi.***

Facebook Comments Box

Penulis : Bar Bernad

Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Skrining Dini Kesehatan Mental
Diplomasi Dengung, Belajar Menjadi Hamba dari Seekor Lalat
Membedah “Dosa Tata Ruang”: Mengapa Bekasi dan Karawang Tenggelam di Tengah Kejayaan Industri?
Filosofi Sampah, Ironi Sesuatu yang Tak Berharga Namun Mampu Melumpuhkan Dunia
Sering Terluka? Mungkin Hatimu Terlalu Banyak Menampung Titipan, Ini Kata Rumi
Persoalan Sampah di Kota Bandung, Ujian Kepemimpinan di Kota Kembang
Nasib BIJB Kertajati Majalengka di Ujung Tanduk
Mengintegrasikan Adaptasi Perubahan Iklim Berbasis Masyarakat di Sekolah dan Desa

Berita Terkait

Selasa, 20 Januari 2026 - 19:29 WIB

Skrining Dini Kesehatan Mental

Selasa, 20 Januari 2026 - 08:52 WIB

Diplomasi Dengung, Belajar Menjadi Hamba dari Seekor Lalat

Selasa, 20 Januari 2026 - 07:57 WIB

Membedah “Dosa Tata Ruang”: Mengapa Bekasi dan Karawang Tenggelam di Tengah Kejayaan Industri?

Minggu, 18 Januari 2026 - 10:39 WIB

Filosofi Sampah, Ironi Sesuatu yang Tak Berharga Namun Mampu Melumpuhkan Dunia

Sabtu, 17 Januari 2026 - 11:01 WIB

Sering Terluka? Mungkin Hatimu Terlalu Banyak Menampung Titipan, Ini Kata Rumi

Berita Terbaru

Ilustrasi bunuh diri. (Envato/LightFieldStudios)

Kolom

Skrining Dini Kesehatan Mental

Selasa, 20 Jan 2026 - 19:29 WIB