Bandung, Mevin.ID – Program Koperasi Merah Putih yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto sejak Juni 2025 terus menjadi perhatian para pegiat koperasi, termasuk keluarga besar Ikopin.
Dalam sebuah sarasehan hangat bertema “Bergerak dan Berbuat untuk Koperasi Merah Putih”, Ketua Umum IKA Ikopin Ekos Albar menegaskan bahwa alumni Ikopin tidak boleh hanya menjadi pengamat dari pinggir lapangan.
“Kita tidak boleh jadi penonton. IKA dan Ikopin harus berada di garis depan,” ujarnya lantang di hadapan 89 alumni yang berkumpul di Kampus Ikopin.
Suasana sarasehan itu penuh emosi—sebuah gabungan antara keprihatinan sekaligus harapan agar Ikopin kembali mengambil posisi strategis sebagai satu-satunya kampus koperasi di Indonesia.
Roadmap Masih Disusun, Kepres Ditargetkan Januari 2026
Hampir tujuh bulan sejak peluncuran Koperasi Merah Putih di Klaten, program ini belum memiliki roadmap resmi. Kekosongan ini menimbulkan kegelisahan, sekaligus dorongan bagi para alumni untuk ikut terlibat dalam tahap penataan.
Informasi terbaru dari tim perumus menyebutkan bahwa roadmap sedang dalam proses finalisasi dan diproyeksikan akan ditetapkan lewat Keputusan Presiden pada Januari 2026.
Prof. Engkos Ahmad Kuncoro, Guru Besar Binus dan mantan Rektor Ikopin yang juga bagian dari tim penyusun, mengingatkan bahwa momentum ini tidak boleh disia-siakan.
“Ini saatnya IKA dan Ikopin terlibat langsung. Kalau tidak, Koperasi Merah Putih bisa bernasib seperti KUD di era Orde Baru,” katanya, disambut tepuk tangan riuh peserta sarasehan.
Seorang anggota tim penyusun menambahkan, “Insyaallah roadmap akan diteken Presiden Januari 2026.”
Ekos: Ini Peluang Besar, Kita Harus Rebut Perannya
Ekos menilai bahwa proses penyusunan roadmap justru membuka ruang besar untuk menempatkan Ikopin dan alumninya pada posisi strategis.
“Kepres nanti adalah peluang besar. Kitalah pusat gerakan intelektual dan praktisi koperasi di Indonesia. Jadi kita harus mempersiapkan diri,” tegasnya.
Ia juga menyebutkan bahwa mulai Februari 2026 pemerintah akan memulai evaluasi terhadap para Pendamping Koperasi (PMO) dan Business Assistant (BA) yang telah bekerja sejak Oktober.
Momentum tersebut, menurut Ekos, harus dimanfaatkan alumni Ikopin untuk menunjukkan kapasitas akademik dan praktik mereka di dunia perkoperasian.
Selain itu, Ekos menegaskan perlunya membumikan kembali Ikopin sebagai kampus pencetak ahli, pemikir, dan praktisi koperasi. Ia mengungkapkan rencana pendirian cooperative role model yang dikelola alumni secara profesional dan modern.
“IKA dan Ikopin harus punya role model koperasi sendiri, yang benar-benar maju dan bisa jadi contoh nasional,” ujarnya.
Menguatkan Kembali Nafas Koperasi ala Bung Hatta
Dalam diskusi tersebut, Ali Wardhana Isha, pengamat kebijakan publik dari TIFS dan alumni Ikopin, mengingatkan bahwa keberhasilan Koperasi Merah Putih tidak hanya ditentukan oleh struktur program, melainkan juga oleh pemahaman yang kuat terhadap nilai-nilai dasar koperasi.
Mengutip karya monumental Bung Hatta Gerakan Koperasi dan Perekonomian Rakyat (LP3ES, 2025), Ali menegaskan bahwa koperasi lahir untuk meneguhkan kepercayaan (trust), menegakkan keadilan dalam usaha bersama, dan memupuk nilai kejujuran, kesukarelaan, serta solidaritas antaranggotanya.
“Koperasi itu bukan sekadar badan usaha,” katanya. “Ia adalah gerakan keswasembadaan dan otoaktivitas ekonomi. Tanpa kembali pada nilai dasarnya, Koperasi Merah Putih hanya jadi program administratif.”
Dengan belum rampungnya roadmap resmi, keluarga besar Ikopin melihat momentum ini sebagai kesempatan emas.
Seruan Ekos Albar agar IKA Ikopin tidak menjadi penonton menjadi penanda sikap: jika koperasi ingin kembali menjadi soko guru perekonomian nasional, maka para ahli dan pegiatnya harus turun langsung sejak awal.***
Penulis : Ali W Isha
Editor : Bar Bernad

























