Mendalami Kearifan Lokal Suku Baduy di Desa Kanekes

- Redaksi

Jumat, 17 Januari 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Melihat aktivitas masyarakat Suku Baduy di Desa Kanekes (Shutterstock/Helza Nitrisia)

Melihat aktivitas masyarakat Suku Baduy di Desa Kanekes (Shutterstock/Helza Nitrisia)

Mevin.ID – Suku Baduy merupakan suku asli Indonesia yang berada di Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Leuwidamar, Lebak, Banten.

Tradisi dan budaya merupakan dua hal yang masih sangat dijaga oleh masyarakat Suku Baduy. Menjadi salah satu suku yang masih mempertahankan segala kearifan lokal setempat dan hidup berdampingan dengan alam, membuat segala hal tentang Suku Baduy menarik untuk diketahui.

Namun, sampai sekarang masih banyak wisatawan yang kurang mengenal Suku Baduy secara mendalam. Sehingga tidak mengetahui aturan atau adat istiadat yang dipegang teguh masyarakat Suku Baduy.

Padahal memahami dan menghargai kearifan lokal dari suatu daerah menjadi hal terpenting bagi wisatawan saat mengunjungi berbagai destinasi wisata.

Jembatan Akar yang menghubungkan anatar Suku Baduy Dalam dan Suku Baduy Luar (Shuttterstock/Isthi Rahayu)

Untuk mengenal lebih mendalam tentang masyarakat Suku Baduy, berikut adalah beberapa penjelasan terkait adat istiadat Suku Baduy :

Perbedaan Baduy Luar dan Baduy Dalam

Hal paling utama yang harus ketahui, Suku Baduy terdiri dari dua suku: Baduy Luar dan Baduy Dalam. Sebab, banyak yang mengira jika Suku Baduy Dalam dan Suku Baduy Luar adalah dua kelompok yang sama. Padahal, keduanya memiliki perbedaan yang terlihat sangat jelas.

Sesuai namanya, Suku Baduy Luar tinggal di daerah luar, atau mengelilingi wilayah Baduy Dalam. Itu mengapa, Suku Baduy Luar cenderung lebih terbuka dan mengenal kebudayaan dari luar.

Seperti sekolah, bersosialisasi dengan orang luar, serta lebih terbuka dalam menerima tamu dan wisatawan. Sebaliknya, Suku Baduy Dalam jauh lebih tertutup, dan masih sangat patuh pada aturan yang sudah ditetapkan secara turun-temurun.

Bahkan untuk masuk kawasan tempat bermukimnya Suku Baduy Dalam, Sobat Parekraf harus berjalan sekitar 12 kilometer dari kawasan Baduy Luar dan melewati perkebunan hingga menyebrangi sungai di balik perbukitan.

Kedua kawasan tersebut dipisahkan Sungai Cisimeut dan dihubungkan oleh jembatan yang terbuat dari ikatan akar-akar pepohonan di sekitar sungai, dan tambahan bambu pada bagian bawahnya. Jembatan Akar ini pun seakan menjadi bukti kehebatan Baduy Dalam bersinergi dengan alam.

Tidak hanya sampai di situ, penggunaan teknologi di kawasan Suku Baduy Dalam juga dilarang. Bahkan, Suku Baduy Dalam hanya berkomunikasi dengan bahasa asli mereka. Seperti bahasa Sunda dan membaca huruf aksara Hanacaraka.

Selain itu, perbedaan antara Suku Baduy Luar dan Baduy Dalam dari pakaian yang mereka kenakan sehari-hari. Suku Baduy Dalam diwajibkan menggunakan pakaian adat berwarna putih atau biru, dan tidak boleh berkancing maupun berkerah. Bahkan, Suku Baduy Dalam juga tidak boleh memakai alas kaki.

Sedangkan Baduy Luar lebih sering menggunakan pakaian berwarna hitam dengan kain ikat berwarna biru tua pada keseharian mereka.

Pahami dan Patuhi Aturan Wisata di Baduy

Berwisata masuk ke area Suku Baduy di Desa Kanekes memang diperbolehkan. Tapi Sobat Parekraf perlu memahami jika tidak semua kawasan di Desa Kanekes boleh dimasuki sembarang orang, terutama orang dari luar Baduy. Selain itu, ada juga beberapa peraturan adat Suku Baduy yang wajib dipatuhi oleh wisatawan.

Satu peraturan yang wajib ditaati saat berkunjung ke kawasan Baduy adalah menghindari penggunaan teknologi. Seperti ponsel, radio, speaker, tablet atau laptop, dan berbagai alat teknologi lainnya.

Di samping itu, kita juga dilarang untuk tidak memotret di kawasan dan masyarakat Suku Baduy tanpa izin. Hal ini tentunya berkaitan dengan kepercayaan masyarakat Suku Baduy yang menentang penggunaan teknologi, dan masih sangat menghargai dan menjaga alam.

Itu mengapa, Suku Baduy tidak menggunakan produk-produk berbahan kimia dalam keseharian mereka. Baik itu tidak menggunakan sabun untuk mandi, pasta gigi, maupun detergen karena dianggap merusak lingkungan.

Oleh karena itu, kita juga harus menghargai dan menghormati aturan adat tersebut, dengan tidak membawa dan menggunakan produk berbahan kimia secara sembarangan.

Masih berkaitan dengan kepedulian masyarakat Suku Baduy dengan lingkungan dan alam, Sobat Parekraf dilarang membuang sampah sembarangan di kawasan ini.

Apalagi membuang sampah ke sungai, jadi kalau memiliki sampah plastik, pastikan untuk tetap menyimpannya dan membuang saat sudah keluar dari kawasan Suku Baduy. Tidak kalah penting, kita juga tidak boleh menebang atau mencabut tanaman di kawasan Suku Baduy, ya!

Jadi itulah beberapa hal yang harus Sobat Parekraf ketahui sebelum mengunjungi Suku Baduy.

Facebook Comments Box

Penulis : Ardi

Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Unik! Di Majalengka, Ikan Lele Disulap Jadi Dessert hingga Minuman Segar Tanpa Bau Amis
Gunung Pantun Stone: “Surga Tersembunyi” Hanya 10 Menit dari Pusat Kota Majalengka yang Butuh Sentuhan Ekstra
Menanam Budaya Kopi yang Kuat di Kalangan Anak Muda Bandung
Indonesia Waspada Virus Nipah: Kemenkes Ingatkan Bahaya Nira Mentah dan Bekas Gigitan Kelelawar
Jasinga “Rafting” Tanpa Pelampung: Saat Nyali Bertemu Kearifan Arus
Curug Bugbrug Cisarua Ditutup, Menyertai Duka Bencana Pasirlangu
Krisis Populasi Pria, Wanita di Latvia Kini Tren ‘Sewa Suami’ untuk Urusan Rumah Tangga
Belajar dari Aurelie & Kim Sae-ron: Membedakan Kasih Sayang dan Jeratan Child Grooming

Berita Terkait

Senin, 9 Februari 2026 - 12:11 WIB

Unik! Di Majalengka, Ikan Lele Disulap Jadi Dessert hingga Minuman Segar Tanpa Bau Amis

Jumat, 6 Februari 2026 - 20:31 WIB

Gunung Pantun Stone: “Surga Tersembunyi” Hanya 10 Menit dari Pusat Kota Majalengka yang Butuh Sentuhan Ekstra

Rabu, 4 Februari 2026 - 16:30 WIB

Menanam Budaya Kopi yang Kuat di Kalangan Anak Muda Bandung

Minggu, 1 Februari 2026 - 14:55 WIB

Indonesia Waspada Virus Nipah: Kemenkes Ingatkan Bahaya Nira Mentah dan Bekas Gigitan Kelelawar

Minggu, 1 Februari 2026 - 13:32 WIB

Jasinga “Rafting” Tanpa Pelampung: Saat Nyali Bertemu Kearifan Arus

Berita Terbaru