LAMPUNG TIMUR, Mevin.ID – Di saat anak-anak seusianya di kota besar mengeluhkan kemacetan dari dalam bus sekolah yang nyaman, para siswa di Desa Kali Pasir, Kecamatan Way Bungur, Lampung Timur, harus memegang dayung lebih kuat.
Bagi mereka, seragam putih-merah, putih-biru dan putih-abu bukan sekadar identitas pelajar, melainkan baju zirah untuk bertarung melawan arus sungai setiap pagi.
Bukan rekreasi atau kegiatan pramuka, mendayung getek (perahu kayu) adalah satu-satunya jalan tempur yang harus mereka lalui demi menjemput masa depan di Desa Tanjung Tirto.
Keberanian di Bawah Bayang-Bayang Beton
Setiap pagi, pemandangan heroik sekaligus miris tersaji di pinggiran sungai. Para pelajar ini harus antre menaiki perahu kecil yang lapuk. Yang membuat hati semakin perih, mereka mendayung tepat di samping tiang-tiang jembatan beton yang mangkrak.
Jembatan yang seharusnya menjadi tumpuan langkah mereka kini hanya berdiri kaku sebagai monumen bisu kegagalan proyek selama dua tahun terakhir.
Besi-besi berkarat yang menonjol dari tiang beton seolah mengejek keberanian mungil para siswa yang bertaruh nyawa di bawahnya.
Melawan Arus, Menantang Maut
Keberanian para siswa ini diuji mencapai batasnya saat musim hujan tiba. Ketika air sungai naik dan arus mengganas, dayung yang mereka pegang harus melawan kekuatan alam yang tak terduga.
“Kalau arus deras, kami waswas. Anak-anak bisa tidak sekolah,” ujar salah satu warga yang menyaksikan perjuangan harian para siswa tersebut.
Namun, semangat belajar tampaknya lebih kuat dari rasa takut akan tenggelam. Meski harus pulang lebih larut karena menunggu arus bersahabat atau menantang derasnya air sungai yang keruh, para pelajar ini tetap berangkat.
Mereka membayar harga pendidikan bukan hanya dengan buku dan pensil, tapi dengan nyali yang tak dimiliki pejabat yang duduk di kantor ber-AC.
Pendidikan yang “Terlupakan” di Meja Birokrasi
Proyek jembatan yang disebut-sebut telah menyerap anggaran hingga puluhan miliar rupiah ini nyatanya tak mampu memberikan jaminan keselamatan bagi warganya.
Rakyat kecil dipaksa bersabar, sementara anak-anak dipaksa dewasa sebelum waktunya untuk mengerti betapa sulitnya akses infrastruktur di daerah sendiri.
Hingga akhir Januari 2026, janji-janji manis pembangunan yang kerap berlayar saat musim kampanye belum juga “mendarat” di Kali Pasir.
Yang ada hanyalah anak-anak yang terus mendayung, melewati tiang-tiang beton yang kini hanya berfungsi sebagai pengingat akan janji yang mangkrak.
Di Kali Pasir, pendidikan bukan lagi soal apa yang ada di dalam buku, tapi soal bagaimana cara bertahan hidup di atas perahu lapuk demi bisa sampai ke ruang kelas.
Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa bagi masa depan mereka sendiri, mendayung di tengah negara yang seringkali “absen” hadir di tengah mereka.***
Editor : Bar Bernad


























