BANDUNG, Mevin.ID – Warga Bandung Raya mengeluhkan suhu udara yang terasa lebih dingin dalam beberapa hari terakhir.
Menanggapi hal tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan ilmiah terkait fenomena penurunan suhu di wilayah Jawa Barat tersebut.
Data Suhu di Bandung Raya
Berdasarkan catatan BMKG per Januari 2026, suhu minimum di wilayah Bandung berada di kisaran 19–20 derajat Celsius.
Sementara itu, suhu maksimum berkisar antara 30–32 derajat Celsius. Pengamatan terbaru menunjukkan suhu terendah sempat menyentuh angka 20,2 derajat Celsius pada periode 4–8 Januari lalu.
Faktor Penyebab Suhu Dingin
Kepala BMKG Bandung, Teguh Rahayu, menjelaskan bahwa kondisi ini merupakan hal yang normal terjadi saat musim hujan. Setidaknya ada tiga faktor utama yang mempengaruhinya:
- Tutupan Awan yang Masif: Awan yang tebal menghalangi sinar matahari mencapai permukaan bumi, sehingga suhu permukaan tetap rendah.
- Efek Evaporasi: Air hujan yang jatuh ke tanah akan menguap. Proses penguapan (evaporasi) ini menyerap panas dari permukaan tanah dan udara sekitarnya, yang kemudian menciptakan sensasi dingin.
- Faktor Angin dan Atmosfer: Adanya konvergensi (pertemuan angin) dan belokan angin membuat kecepatan angin di Bandung meningkat hingga 20 km/jam. Udara dingin dari lapisan atmosfer atas juga terbawa turun ke permukaan saat terjadi hujan.
Secara global, fenomena ini juga didorong oleh indeks ENSO di Nino 3.4 yang tercatat -0,90 dan aktivitas MJO di kuadran 6 yang memperkuat potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah Indonesia.
Prakiraan Cuaca Sepekan ke Depan
Untuk periode 14–21 Januari 2026, BMKG memprediksi wilayah Jawa Barat, khususnya Bandung Raya, masih berpotensi mengalami:
- Cuaca: Cerah berawan hingga hujan intensitas ringan sampai sedang.
- Suhu: Berkisar antara 18–32 derajat Celsius.
- Kelembapan: 55–95 persen.
- Angin: Dominan dari arah barat dengan kecepatan 5–30 km/jam.
Imbauan untuk Masyarakat
Mengingat adanya potensi cuaca ekstrem, BMKG meminta masyarakat untuk tetap waspada terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang.
“Masyarakat diimbau untuk menjaga kondisi kesehatan di tengah suhu dingin dan tetap memantau perkembangan cuaca melalui kanal resmi BMKG,” pungkas Teguh Rahayu.***
Editor : Bar Bernad


























