Jakarta, Mevin.ID – Pemandangan pasien Indonesia memenuhi rumah sakit di Singapura atau Malaysia bukan lagi hal baru.
Dari ruang tunggu hingga lorong-lorong klinik, bahasa Indonesia terdengar hampir di setiap sudut. Fenomena ini bahkan membuat Indonesia kehilangan potensi ekonomi hingga Rp150 triliun setiap tahun.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, alasan di balik derasnya arus pasien ke luar negeri jauh lebih kompleks daripada sekadar tarif layanan yang dianggap kompetitif.
“Di Malaysia masuk rumah sakit langsung ketemu dokter. Di kita mungkin bisa 3–5 jam,” ujar Budi, menggambarkan kesenjangan pelayanan yang masih sering dirasakan pasien di Indonesia.
Durasi konsultasi pun berbeda jauh—pasien di Malaysia bisa berdiskusi selama 15–30 menit, sementara di sejumlah rumah sakit pemerintah di Indonesia, konsultasi tak jarang hanya berlangsung tiga menit.
Di sisi lain, Singapura menjadi magnet tersendiri. Di Mount Elizabeth Hospital, hampir setengah dari seluruh pasien internasional berasal dari Indonesia. CEO IHH Healthcare Singapore, Dr. Peter Chow, menyebut faktor kepercayaan menjadi kunci utama.
“Spesialis kami, akurasi diagnostik dan hasil—itu yang menjadi nilai lebih bagi pasien Indonesia,” jelasnya dalam sebuah acara di Jakarta, Selasa (25/11/2025).
Layanan yang paling sering dicari pasien Indonesia adalah pengobatan kanker, yang dinilai memiliki fasilitas dan teknologi lebih maju di Singapura.
Meski begitu, pemerintah menilai kondisi ini sebagai alarm penting. Selain potensi kerugian ekonomi yang besar, tingginya minat pasien berobat ke luar negeri menunjukkan bahwa kualitas pelayanan dalam negeri masih perlu diperbaiki—mulai dari manajemen rumah sakit, waktu tunggu, hingga kemampuan komunikasi dokter.
Pertanyaannya kini bukan lagi mengapa banyak warga Indonesia berobat ke luar negeri, tetapi bagaimana rumah sakit dalam negeri bisa mengejar ketertinggalan itu.***


























