JAKARTA, Mevin.ID – Masyarakat Indonesia malam ini, Selasa (3/3/2026), berkesempatan menyaksikan salah satu fenomena langit paling memukau tahun ini: Gerhana Bulan Total (GBT).
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa seluruh wilayah Indonesia dapat menikmati penampakan “Bulan Merah” atau yang populer disebut sebagai Blood Moon.
Fenomena ini bukan sekadar peristiwa astronomi biasa, melainkan momen langka yang diprediksi akan menyita perhatian publik dan pecinta langit di tanah air.
Apa Itu Blood Moon?
Istilah Blood Moon merujuk pada kondisi di mana Bulan tampak berwarna merah pekat saat puncak Gerhana Bulan Total. Secara ilmiah, peristiwa ini terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada tepat dalam satu garis lurus.
Dalam konfigurasi ini, Bumi berada di tengah dan menghalangi cahaya matahari langsung menuju permukaan Bulan.
Saat Bulan masuk sepenuhnya ke dalam bayangan inti atau umbra Bumi, Bulan tidak menjadi gelap total, melainkan berubah warna menjadi merah.
Mengapa Bulan Berubah Menjadi Merah?
Misteri di balik warna merah ini dijelaskan oleh ahli astronomi sekaligus Guru Besar FMIPA ITB, Taufiq Hidayat. Fenomena ini terjadi akibat proses fisik yang disebut hamburan Rayleigh di atmosfer Bumi.
- Hamburan Cahaya: Atmosfer Bumi menyebarkan cahaya biru yang memiliki panjang gelombang pendek.
- Pembiasan Spektrum Merah: Sebaliknya, cahaya merah dengan panjang gelombang yang lebih besar dibiaskan atau dibelokkan oleh atmosfer sehingga berhasil mencapai dan menyinari permukaan Bulan.
- Kondisi Atmosfer: Kepekatan warna merah pada Blood Moon sangat dipengaruhi oleh kualitas udara Bumi. Semakin banyak debu, polusi, atau material vulkanik di atmosfer, maka warna merah yang dihasilkan akan tampak semakin gelap dan dramatis.
Jadwal dan Durasi Pengamatan
BMKG mencatat seluruh proses gerhana akan memakan waktu sekitar 5 jam 41 menit, dengan durasi fase totalitas (Bulan merah sempurna) mencapai 59 menit. Berikut rincian waktunya:
|
Fase Gerhana |
Waktu Indonesia Barat (WIB) |
|---|---|
|
Awal Fase Totalitas (U2) |
18.03.56 WIB |
|
Puncak Gerhana |
18.33.39 WIB |
|
Akhir Fase Totalitas (U3) |
19.03.23 WIB |
|
Akhir Seluruh Proses |
21.24.35 WIB |
(Catatan: Untuk WITA tambah 1 jam, dan WIT tambah 2 jam dari rincian di atas)
Lokasi Terbaik untuk Melihat
Wilayah Indonesia bagian Timur disebut memiliki visibilitas terbaik karena masyarakat dapat menyaksikan proses gerhana sejak awal saat Bulan terbit di ufuk timur.
Bagi masyarakat di wilayah Barat, Bulan kemungkinan besar akan muncul di ufuk saat proses gerhana sudah berlangsung atau mendekati puncaknya.
Gerhana ini merupakan bagian dari seri Saros 133 dan menjadi satu-satunya gerhana yang dapat disaksikan dari Indonesia di tahun 2026.
Fenomena serupa terakhir kali terlihat pada 2008 dan diprediksi baru akan menyapa kembali pada tahun 2044 mendatang.***
Penulis : Bar Bernad


























