Mengenang Karya dan Perjuangan Hardi lewat Pameran Jejak Perlawanan di Galeri Nasional

- Redaksi

Senin, 13 Januari 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kementerian Kebudayaan melalui Galeri Nasional Indonesia menghadirkan sebuah program pameran bertajuk Jejak Perlawanan “Sang Presiden 2001” Tribut untuk Hardi (1951-2023).

i

Kementerian Kebudayaan melalui Galeri Nasional Indonesia menghadirkan sebuah program pameran bertajuk Jejak Perlawanan “Sang Presiden 2001” Tribut untuk Hardi (1951-2023).

Jakarta, Mevin.ID – Kementerian Kebudayaan melalui Galeri Nasional Indonesia mempersembahkan pameran bertajuk Jejak Perlawanan “Sang Presiden 2001” Tribut untuk Hardi (1951-2023). Pameran itu menjadi bentuk penghormatan terhadap Raden Soehardi Adimaryono, lebih dikenal sebagai Hardi, seorang seniman perupa yang telah memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan seni rupa Indonesia.

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, dalam acara pembukaan pameran, menegaskan pentingnya peran Hardi sebagai seorang seniman yang penuh kreativitas dan seringkali menjadi pusat perhatian di dunia seni.

“Kita merasa kehilangan seorang seniman besar yang pernah dipuji oleh pelukis Alm. Afandi sebagai salah satu pelukis terbaik. Hardi adalah seorang yang sangat kreatif dan kritis, yang selalu berani mengkritisi dan menyampaikan ide-idenya dengan lugas,” ungkap Menteri Fadli, Senin (13/1/2025).

Menteri Fadli Zon juga menekankan pentingnya seni rupa modern Indonesia tidak hanya sebagai ekspresi individual, tetapi juga sebagai alat untuk membangun dialog antarbangsa, melestarikan identitas budaya, dan mendorong perubahan sosial yang mengedepankan nilai-nilai kebangsaan dan kebhinekaan. “Setahun sudah Hardi berpulang, namun karyanya tetap abadi dan menjadi sumber inspirasi bagi kita dalam meningkatkan kreativitas serta memperkaya perjalanan seni bangsa Indonesia,” tambahnya.

Hardi, menurut Menteri Fadli, mengajarkan bahwa seni adalah alat untuk menyuarakan keadilan, menggerakkan perubahan, dan membangun peradaban yang lebih manusiawi. “Pameran ini adalah penghargaan yang layak diberikan kepada seorang seniman besar. Karya-karya Hardi adalah aset bangsa, dan melalui pameran ini kita menghargai dan memperkenalkan karya-karya maestro kita kepada generasi mendatang,” tutup Menteri Fadli.

Jibril Fitra Erlangga, putra dari Hardi, juga memberikan apresiasi atas diadakannya pameran ini. “Pameran ini adalah penghormatan yang luar biasa bagi ayah saya, dan saya yakin beliau akan bahagia melihat karyanya diapresiasi oleh banyak orang,” ujarnya penuh haru.

Pameran ini menampilkan 78 karya yang terdiri dari 69 lukisan dan sketsa, 5 jangker, 4 keris, hingga arsip pribadi yang memberikan wawasan mendalam mengenai proses kreatif dan perjalanan hidup Hardi. Salah satu ruangan khusus dirancang untuk mereplikasi suasana studio Hardi, lengkap dengan instalasi interaktif berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), menciptakan pengalaman imersif bagi pengunjung.

Pameran Jejak Perlawanan “Sang Presiden 2001” Tribut untuk Hardi (1951-2023) dapat dikunjungi mulai 10 hingga 26 Januari 2025 di Gedung A, Galeri Nasional Indonesia, pada pukul 09.00-19.00 WIB. Pengunjung yang ingin hadir dapat melakukan registrasi langsung di lokasi. Untuk informasi lebih lanjut mengenai pameran ini, dapat mengunjungi akun Instagram resmi Galeri Nasional Indonesia di @galerinasional.

Pameran ini tidak hanya memberikan kesempatan untuk mengenang karya Hardi, tetapi juga menjadi ajang untuk lebih mendalami kontribusinya terhadap perkembangan seni rupa Indonesia dan pesan-pesan sosial yang dihadirkan melalui karya-karyanya. (*)

Facebook Comments Box

Penulis : Mardisoe

Sumber Berita: Infopublik.id

Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Patung Raksasa Trump dan Netanyahu Hiasi Karnaval Sciacca, Refleksi Tajam Politik Dunia
Buntut Konten ‘Ghibah’, YouTuber Resbob dan Bigmo Resmi Jadi Tersangka Fitnah Azizah Salsha
Cinta Laura “Sentil” Beasiswa LPDP: Anak Orang Kaya Banget Harusnya Bayar Sendiri!
Haus Validasi Berujung Petaka, Drama Paspor WNA dan “Flexing” Fasilitas Negara Dwi Sasetyaningtyas
A Knight of the Seven Kingdoms’ – Kembalinya Keajaiban Westeros dengan Rasa yang Lebih Personal
Ubah Sampah Jadi Karya Artistik: Ika Ismurdiyahwati Gelar Pameran Tunggal “Transformation” di Bandung
Sinema Indonesia Jadi Sorotan Dunia: Berkat AI, Kualitas Produksi Sineas Lokal Diprediksi Setara Hollywood
Tampilkan Data Primer yang Akurat, Buku Ensiklopedia Sastra Nusantara tak Khawatir Tersaingi AI & Wikipedia

Berita Terkait

Sabtu, 7 Maret 2026 - 13:20 WIB

Patung Raksasa Trump dan Netanyahu Hiasi Karnaval Sciacca, Refleksi Tajam Politik Dunia

Jumat, 6 Maret 2026 - 15:05 WIB

Buntut Konten ‘Ghibah’, YouTuber Resbob dan Bigmo Resmi Jadi Tersangka Fitnah Azizah Salsha

Selasa, 24 Februari 2026 - 16:50 WIB

Cinta Laura “Sentil” Beasiswa LPDP: Anak Orang Kaya Banget Harusnya Bayar Sendiri!

Minggu, 22 Februari 2026 - 13:47 WIB

Haus Validasi Berujung Petaka, Drama Paspor WNA dan “Flexing” Fasilitas Negara Dwi Sasetyaningtyas

Kamis, 19 Februari 2026 - 13:37 WIB

A Knight of the Seven Kingdoms’ – Kembalinya Keajaiban Westeros dengan Rasa yang Lebih Personal

Berita Terbaru