PERUBAHAN iklim tidak lagi sekadar isu global yang dibahas di ruang konferensi internasional.
Ia telah hadir di halaman rumah warga, di sawah petani, di ruang kelas sekolah, dan di desa-desa yang kian rentan terhadap banjir, longsor, kekeringan, serta krisis pangan.
Ironisnya, respons kita terhadap krisis ini masih sering terjebak pada pendekatan sektoral dan parsial.
Di satu sisi, satuan pendidikan mulai berbicara tentang literasi iklim dan pendidikan lingkungan. Di sisi lain, desa dan komunitas berjuang sendiri menghadapi dampak perubahan iklim melalui program kebencanaan atau pembangunan desa.
Padahal, adaptasi perubahan iklim akan lebih kuat dan berkelanjutan jika sekolah dan desa diposisikan sebagai satu kesatuan ekosistem sosial.
Adaptasi Iklim Berbasis Masyarakat: Dari Konsep ke Realitas
Adaptasi perubahan iklim berbasis masyarakat (community-based climate adaptation) menempatkan warga sebagai subjek utama, bukan sekadar penerima bantuan.
Pendekatan ini bertumpu pada pengetahuan lokal, partisipasi aktif masyarakat, serta penguatan kapasitas sosial dalam menghadapi risiko iklim¹.
Sayangnya, banyak program adaptasi masih berorientasi proyek jangka pendek, berfokus pada infrastruktur, dan minim investasi pada perubahan perilaku serta kesadaran kolektif. Di sinilah peran satuan pendidikan menjadi krusial.
Sekolah: Simpul Strategis Adaptasi Perubahan Iklim
Sekolah bukan hanya tempat transfer ilmu pengetahuan, melainkan ruang pembentukan nilai dan karakter generasi masa depan.
Integrasi adaptasi perubahan iklim ke dalam satuan pendidikan berarti menjadikan sekolah sebagai pusat literasi iklim dan laboratorium adaptasi.
Melalui pembelajaran kontekstual—misalnya mengaitkan materi perubahan iklim dengan risiko banjir, longsor, atau kekeringan di sekitar sekolah—peserta didik belajar memahami krisis iklim sebagai realitas yang dekat, bukan ancaman abstrak.
Praktik sederhana seperti pengelolaan sampah berbasis sumber, pemanenan air hujan, kebun sekolah, hingga simulasi kebencanaan merupakan bentuk adaptasi nyata yang membangun kesadaran sejak dini².
Lebih dari itu, anak-anak dan remaja memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan sosial. Nilai dan pengetahuan yang mereka peroleh di sekolah kerap dibawa pulang ke rumah, memengaruhi perilaku keluarga dan komunitas.
Desa dan Komunitas: Ruang Hidup Adaptasi Iklim
Bagi masyarakat desa, perubahan iklim bukan teori, melainkan pengalaman sehari-hari. Gagal panen akibat cuaca ekstrem, sumber air yang mengering, hingga meningkatnya risiko bencana menjadi bagian dari realitas hidup warga³.
Oleh karena itu, desa merupakan ruang utama praktik adaptasi berbasis masyarakat.
Namun, tanpa dukungan pendidikan berkelanjutan, upaya adaptasi di tingkat desa sering bersifat reaktif dan tidak terlembaga. Di sinilah pentingnya membangun jembatan antara sekolah dan komunitas.
Integrasi Sekolah–Desa: Jalan Menuju Ketangguhan Iklim
Integrasi adaptasi perubahan iklim antara satuan pendidikan dan desa dapat diwujudkan melalui beberapa pendekatan kunci.
Pertama, kurikulum kontekstual berbasis desa, di mana lingkungan dan persoalan lokal dijadikan sumber belajar.
Sekolah belajar dari desa, dan desa memanfaatkan sekolah sebagai pusat edukasi iklim.
Kedua, kolaborasi multipihak yang melibatkan pemerintah desa, sekolah, BPBD, puskesmas, organisasi masyarakat sipil, serta tokoh agama dan adat.
Kolaborasi ini penting untuk memastikan adaptasi iklim tidak berjalan sendiri-sendiri.
Ketiga, pengembangan program terpadu, seperti Sekolah Tangguh Iklim yang terhubung dengan Desa Tangguh Bencana, Posyandu Iklim, serta gerakan lingkungan berbasis komunitas.
Integrasi ini memungkinkan adaptasi iklim menjadi bagian dari kehidupan sosial, bukan sekadar program temporer.
Dimensi Etik dan Keagamaan
Dalam konteks Indonesia, adaptasi perubahan iklim juga memiliki dimensi etik dan keagamaan yang kuat.
Dalam perspektif Islam, manusia diposisikan sebagai khalifah fil ardh—pemelihara bumi—yang memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga keseimbangan alam⁴.
Prinsip ini sejalan dengan nilai gotong royong dan solidaritas sosial yang menjadi fondasi adaptasi berbasis masyarakat.
***
Mengintegrasikan adaptasi perubahan iklim berbasis masyarakat di satuan pendidikan dan desa bukan sekadar inovasi kebijakan, melainkan kebutuhan mendesak.
Ketika sekolah dan desa berjalan bersama, adaptasi iklim tidak lagi dipahami sebagai respons darurat, tetapi sebagai budaya hidup yang diwariskan lintas generasi.
Di tengah krisis iklim yang kian kompleks, membangun ketangguhan tidak cukup dengan beton dan teknologi. Ia harus tumbuh dari kesadaran, pengetahuan, dan praktik sosial yang hidup di sekolah dan desa—dua ruang paling dekat dengan denyut kehidupan masyarakat Indonesia.
Catatan : LPBI NU Jawa Barat, Bersama IDEP Selaras Alam dengan dukungan dari Save the Children Indonesia dan Korea, dalam 3 kurun waktu 3 tahun 2023 – 20226) melakukan pendampingan di 10 Sekolah dan, 10 Desa yang berada di Kecamatan Baleendah, Rancaekek, dan Ibun, Kabupaten Bandung , Jawa Barat, melalui program Adaptasi Perubahan Iklim Berbasis Masyarakat di Satuan Pendidikan.
Catatan Kaki
IPCC. Climate Change 2022: Impacts, Adaptation and Vulnerability. Cambridge University Press, 2022. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Panduan Pendidikan Perubahan Iklim, 2021. BNPB. Indeks Risiko Bencana Indonesia, edisi terbaru. Al-Qur’an, QS. Al-Baqarah [2]: 30; QS. Al-A’raf [7]: 56.
Dadang Sudardja, Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU ) Jawa Barat, Direktur Yayasan Sahabat Nusantara, Ketua Dewan Nasional WALHI Periode 2012 – 2016, Anggota Dewan Sumber Daya Air Jawa Barat, Anggota Dewan Pakar Forum POSGAB, Wakil Ketua Forum PRB Jawa Barat, Pegiat ligkungan hidup dan bencana.
Penulis : Dadang Sudardja


























