SEBUAH koin mata uang Islam yang berlaku dari abad ke-15 dan 16 Masehi tersimpan di Museum Nasional Jakarta menjadi lebih dari sekadar artefak ekonomi.
Dengan diameter sekitar 4 cm, koin ini memuat gambar simbolik yang dalam, menggambarkan perpaduan unik antara nilai spiritual, budaya lokal, dan identitas keislaman pada masanya.
Pada sisi koin, terdapat gambar dua tokoh: Damarwulan dan Lurah Semar. Gambar Semar sebagai punakawan (pengasuh) Pandawa digambarkan dalam pose yang sarat makna.
Wajahnya putih, seolah menangis sekaligus tertawa, dengan rambut mengarah ke atas. Jari telunjuknya berada dalam posisi attahiyat (seperti dalam tahiyat salat), sementara postur tubuhnya bulat, antara duduk dan berdiri.
Postur Semar ini memberikan gambaran kehidupan seorang hamba Allah yang selalu ingat kepada-Nya dalam segala kondisi: saat berdiri, duduk, berbaring, dan di waktu malam tidak lupa salat tahajud.
Penggambaran ini merefleksikan konsep dzikir atau mengingat Allah dalam setiap keadaan, sebagaimana diajarkan dalam Islam.
Sementara itu, gambar Damarwulan di sisi lainnya dibaca sebagai simbol pencerahan. Namanya sendiri merupakan gabungan dari ‘damar’ (pelita) dan ‘wulan’ (bulan). “Damarwulan adalah penerang hati di tengah gulita, bagaikan bulan di malam hari,” jelas deskripsi koleksi.
Ia merepresentasikan konsep spiritual ‘minadz dzulumati ilan nur’—dari kegelapan menuju cahaya—yang hanya dapat dicapai oleh hamba yang senantiasa dekat dengan Sang Pencipta.
Kalimat Syahadat dan Simbol Kemenangan
Lapisan makna semakin dalam ketika melihat bagian belakang koin. Terdapat ukiran Kalimat Syahadat: La ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.
Keberadaan syahadat ini menegaskan identitas keislaman dari kerajaan atau kekuasaan yang menerbitkan koin tersebut.
Koin ini juga disebut sebagai “pegangan kaum Kanan atau Yamin”, merujuk pada Pandawa Lima dalam epik Mahabharata. Dalam konteks ini, Pandawa Lima mungkin dimaknai sebagai simbol kebenaran, kebajikan, dan akhirnya—kemenangan (Lambang kemenangan).
Hal ini menunjukkan adaptasi dan integrasi narasi lokal pra-Islam yang sudah dikenal masyarakat ke dalam simbol-simbol kekuasaan Islam yang baru.
Peninggalan yang Multidimensi
Koin ini bukan sekadar alat tukar, tetapi juga media komunikasi politik dan dakwah.
Ia menyampaikan pesan bahwa penguasa yang mencetaknya adalah muslim yang taat (dilihat dari syahadat dan simbol dzikir), sekaligus penerus atau pelindung tradisi dan kebijaksanaan lokal (lewat simbol Semar dan Pandawa).
Artefak seperti ini menunjukkan bagaimana Islam masuk dan berkembang di Nusantara bukan dengan menghapus, tetapi seringkali menyatu dan memberi makna baru pada budaya yang sudah ada.
Koin dari masa lampau ini mengajak kita melihat sejarah bukan sebagai sesuatu yang kaku, melainkan sebagai dialog kreatif antara keimanan, kekuasaan, dan kebudayaan—sebuah percakapan yang masih relevan untuk direnungkan hingga hari ini.***
Sumber: Buku Api Sejarah, karya Ahmad Mansur Suryanegara
Editor : Atep K
Sumber Berita: Buku 'Api Sejarah'


























