Garut, Mevin.ID – Keheningan di perumahan Garut City Residence, Kecamatan Garut Kota, berubah menjadi ketegangan mencekam pada Selasa malam.
Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri melakukan penggeledahan besar-besaran di salah satu rumah warga yang diduga terkait dengan jaringan radikalisme.
Dibalik operasi yang melibatkan kendaraan taktis Barakuda dan personel bersenjata lengkap tersebut, sosok yang diamankan menjadi sorotan: seorang pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang dikenal jenius namun tertutup.
Sosok Jenius yang “Kesepian”
Berdasarkan keterangan pengurus RW 19 Kelurahan Muara Sanding, Fadilah, pemuda yang diamankan Densus 88 tersebut memiliki profil yang cukup unik. Meski masih berstatus pelajar, ia dikabarkan memiliki kemampuan intelektual di atas rata-rata.
“Informasi dari warga, anak tersebut menguasai hingga lima bahasa,” ujar Fadilah kepada awak media, Kamis (25/12/2025).
Namun, kecerdasan linguistik tersebut tidak dibarengi dengan kemampuan sosialisasi. Di lingkungan rumahnya, ia dikenal sebagai sosok yang jarang bergaul dengan teman sebaya dan lebih banyak menghabiskan waktu menyendiri.
Game Online dan Ruko Depan Komplek
Keseharian remaja ini lebih banyak dihabiskan di depan layar. Fadilah menyebutkan bahwa terduga kerap terlihat bermain game online di sebuah ruko di depan komplek perumahan, mulai dari pagi hingga malam hari.
“Sering terlihat main game di ruko depan. Kadang malam, pernah juga pagi atau siang masih pakai seragam sekolah. Dia memang tinggal di sini dari kecil, sempat jarang terlihat, dan baru muncul lagi satu tahun belakangan,” tambahnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, pelajar tersebut terafiliasi dengan grup WhatsApp internasional berpaham Neo-Nazi. Di sana, ia tak hanya menyerap ideologi kebencian, tetapi juga aktif membagikan instruksi pembuatan peluru dan bom pipa.
Robot Deteksi dan Temuan di Kamar Pelajar
Penggeledahan yang berlangsung selama tiga setengah jam itu mengungkap sisi mengerikan dari hobi “menyendiri” sang pelajar. Polisi menurunkan robot pelacak untuk menyisir setiap sudut rumah guna mencari bahan peledak.
Hasilnya, petugas menyita sejumlah barang bukti yang mengonfirmasi kecurigaan aparat:
- Bahan mentah peledak berupa bubuk arang dan belerang.
- Proyektil peluru, kabel-kabel, dan cairan kimia tertentu.
- Tumpukan buku dan literatur mengenai ideologi Neo-Nazi.
Kasat Reskrim Polres Garut, AKP Joko Prihatin, mengonfirmasi bahwa pihaknya melakukan pendampingan penuh dalam operasi tersebut, meski kewenangan kasus berada di tangan Densus 88. “Kami hanya mem-backup tugas Densus 88,” ungkapnya singkat.
Trauma Warga dan Pendampingan PPA
Operasi penggeledahan yang dilakukan polisi menyisakan trauma bagi warga sekitar. Saat penggeledahan berlangsung, warga yang rumahnya berdekatan diminta menjauh dan akses masuk komplek ditutup total.
Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Garut, Santi Susanti, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah memberikan atensi pada kasus ini mengingat status pelaku yang masih di bawah umur.
“Kami telah melakukan pendampingan terhadap anak ini bahkan sebelum penggeledahan dilakukan. Statusnya memang masih pelajar SMK di Garut,” ungkap Santi singkat.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Polres Garut melalui Kasat Reskrim AKP Joko Prihatin menyatakan bahwa seluruh penanganan kasus sepenuhnya berada di bawah kewenangan Densus 88.
Polisi belum merilis secara resmi barang bukti yang disita maupun keterkaitan pelajar tersebut dengan jaringan terorisme tertentu.***


























