BANDUNG, Mevin.ID – Jika Anda melintas di Jalan Pelajar Pejuang 45, tepatnya di area Hotel Horison No. 121, sebuah bangunan bertajuk “Galery Salapak” pasti akan mencuri perhatian.
Dari balik kaca beningnya, deretan barang unik seolah melambai, mengundang siapa pun untuk singgah dan menelusuri isi di dalamnya.
Begitu melangkah masuk, pengunjung akan disambut nuansa estetik yang kental. Rak-rak kayu yang tertata rapi memamerkan beragam kreasi tangan: mulai dari busana dengan potongan modern, topi, tas etnik, hingga kain batik dengan motif yang bercerita.
Tak hanya memanjakan mata, Galery Salapak juga memanjakan lidah dengan kehadiran mini bar yang menyajikan kuliner khas serta aroma kopi asli Bumi Priangan yang menggugah selera.
Lebih dari Sekadar Galeri
Namun, Salapak—yang merupakan akronim dari Sarana Layanan Pemasaran Koperasi dan UKM—bukan sekadar toko oleh-oleh biasa. Tempat ini adalah “rumah” bagi mimpi-mimpi para perintis usaha kecil di Kota Bandung.
Kepala Dinas KUKM Kota Bandung, Drs. H. R. Budhi Rukmana, M.AP., mengungkapkan bahwa produk-produk di sini adalah hasil nyata dari proses panjang pendampingan start-up UMKM di 30 kecamatan.
“Tenaga pendamping kami mengawal mereka yang benar-benar merintis dari nol, yang belum tahu apa-apa, sampai mereka bisa naik kelas. Salapak hadir sebagai fasilitasi pemasarannya,” ujar Budhi saat ditemui di Galery Salapak, Rabu (11/2/2026).
Dari Bandung ke Kapal Pinisi Labuan Bajo
Keberhasilan pendampingan ini bukan sekadar angka di atas kertas. Produk-produk UMKM Bandung kini mulai “merantau” jauh. Salah satu cerita menarik datang dari timur Indonesia, tepatnya Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.
Budhi berkisah, seorang pemilik bisnis travel kapal Pinisi di Labuan Bajo sengaja datang ke Salapak. Sang pemilik mengeluhkan banyaknya wisatawan asal Bandung yang merindukan cita rasa kampung halaman saat berlayar.
“Owner travel itu mengajak kerja sama untuk pengiriman produk UMKM kita ke sana. Kami menyambut sangat baik, dan respon para pelaku UMKM binaan kami pun luar biasa antusias,” kenang Budhi.
Siapa sangka, di tengah kemewahan wisata Labuan Bajo, produk lokal Bandung justru menjadi primadona.
“Yang paling laris ternyata seblak bumbu kacang. Itu memang best seller di Galery Salapak. Selain itu, ada juga camilan singkong dari Cemal Cemil Ceu Win,” tambahnya sembari tersenyum.
Misi Naik Kelas
Target berikutnya bukan hanya wisatawan lokal atau perantau, tapi juga membidik lidah turis asing. Dinas KUKM Kota Bandung berkomitmen untuk terus mencetak pengusaha baru melalui program pendampingan yang konsisten.
“Setiap tahun, setidaknya ada 900 UKM yang kami dampingi. Meski tantangannya besar, sedikitnya 10 persen dari mereka berhasil naik level setiap tahunnya,” pungkas Budhi.
Bagi Anda yang ingin melihat bagaimana kreativitas warga Bandung bertransformasi menjadi produk kelas dunia, Galery Salapak bukan hanya tempat berbelanja, tapi bukti bahwa usaha kecil jika dikawal dengan hati, bisa melanglang buana hingga ke ujung negeri.***
Penulis : Atep Abdilah Kurniawan
Editor : Bar Bernad


























