Cimahi, Mevin.ID – Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq menyatakan bahwa pihaknya telah berdiskusi dengan berbagai negara dan lembaga internasional untuk potensi kerja sama pendanaan teknologi pengelolaan sampah.
Hal ini disampaikan usai peninjauan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sentiong, Kota Cimahi, Sabtu (22/2).
Diskusi dengan Negara dan Lembaga Internasional
Menteri Hanif mengungkapkan bahwa Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) telah berdiskusi dengan perwakilan Korea Selatan, Jepang, Denmark, dan baru-baru ini bertemu dengan Pemerintah Norwegia.
Selain itu, KLH juga telah melakukan pertemuan dengan United Nations Environment Programme (UNEP) untuk membahas dukungan pembiayaan pengelolaan sampah di Indonesia.
“Kami sedang mempertimbangkan mekanisme nilai ekonomi karbon, seperti joint credit mechanism, di mana pembayaran dilakukan melalui kredit karbon. Namun, masalah sampah tidak akan selesai hanya dengan cara ini,” kata Hanif.
Pentingnya Teknologi dan Pengurangan Sampah dari Hulu
Hanif menekankan bahwa penggunaan teknologi dalam pengelolaan sampah merupakan suatu keharusan. Selain itu, pengurangan sampah dari hulu, yaitu di tingkat rumah tangga dengan pemilahan sampah, juga menjadi kunci penting.
Peran Offtaker dalam Pengolahan Sampah
Menteri Hanif juga menyoroti pentingnya offtaker, yaitu pihak yang mengambil hasil teknologi pengolahan sampah, seperti Refuse-Derived Fuel (RDF) dari sampah plastik yang diubah menjadi bahan bakar alternatif.
“Offtaker ini sangat penting karena terkait dengan aspek energi. Kami telah berkoordinasi dengan Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan, dan Kementerian PU untuk memastikan hal ini,” jelasnya.
Data Timbulan Sampah Nasional
Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) milik KLH, timbulan sampah nasional yang dilaporkan dari 278 kabupaten/kota mencapai 29,3 juta ton sepanjang tahun 2024.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan pengelolaan sampah di Indonesia dapat semakin efektif dan berkelanjutan.


























