SETIAP tanggal 21 November, dunia memperingati Hari Pohon Sedunia—sebuah momen untuk kembali menoleh pada hal yang sering kita anggap biasa: pohon. Mereka berdiri diam, tidak bersuara, tetapi menjalankan fungsi kehidupan yang tidak tergantikan.
Dari pohon, kita mendapat oksigen, air, keteduhan, pangan, hingga ketahanan ekologis yang menopang keberadaan manusia. Namun ironisnya, justru pohon sering menjadi pihak yang pertama ditebang dan terakhir dipertimbangkan dalam setiap proses pembangunan.
Indonesia, dengan kekayaan hutan tropis yang luar biasa, seharusnya menjadi negara yang paling menghormati Hari Pohon Sedunia. Tetapi data menunjukkan sebaliknya.
Dalam 20 tahun terakhir, kita kehilangan jutaan hektare hutan karena alih fungsi lahan, ekspansi sawit dan tambang, kebakaran, serta lemahnya penegakan hukum.
Setiap pohon yang tumbang bukan hanya hilangnya batang dan daun, tetapi hilangnya jantung ekologi yang menjaga iklim tetap stabil.
Pohon sebagai Penjaga Iklim
Pohon adalah benteng terdepan dalam menghadapi krisis iklim. Mereka menyerap karbon, menyimpan air, mengatur suhu, dan mencegah longsor.
Dalam banyak penelitian disebutkan bahwa daerah dengan tutupan pohon 10% lebih tinggi memiliki suhu 1°C lebih sejuk—sebuah pengaruh besar di tengah gelombang panas global yang semakin ekstrem.
Di Indonesia, kabupaten-kabupaten yang kehilangan hutan mengalami peningkatan risiko banjir dan kekeringan sekaligus. Tanpa pohon, hujan deras tidak lagi diserap tanah, tetapi langsung lari ke permukaan menjadi banjir bandang.
Pada musim kemarau, ketiadaan pohon menyebabkan daerah menjadi kering dan rawan kebakaran. Pohon bukan ornamen, tetapi bagian dari sistem penyangga kehidupan.
Pohon dalam Perspektif Sosial dan Kearifan Lokal
Dalam budaya Nusantara, pohon selalu ditempatkan sebagai simbol kehidupan. Orang Sunda mengenal konsep leuweung titipan—hutan yang harus dijaga sebagai titipan leluhur. Masyarakat adat di Kalimantan menyebut pohon sebagai urang tuha (orang tua) karena memberi kehidupan.
Di Bali, pohon-pohon tertentu dianggap sebagai bagian dari energi spiritual yang menjaga keseimbangan alam. Di Papua Hutan Adalah ibu. frasa “hutan adalah ibu” bagi masyarakat adat Papua mencerminkan hubungan yang sangat dalam dan esensial, di mana hutan bukan hanya sumber daya alam, tetapi juga penyedia kehidupan dan identitas layaknya seorang ibu.
Frasa ini menekankan bahwa hutan memberikan semua kebutuhan dasar seperti makanan, obat-obatan, dan bahan bangunan, serta melambangkan sumber spiritual dan budaya yang harus dihormati dan dijaga.
Nilai-nilai kearifan lokal ini seharusnya menjadi inspirasi bagi generasi hari ini untuk kembali menghormati pohon, bukan sekadar menanam secara seremonial, tetapi merawatnya hingga tumbuh menjadi penyangga ekosistem.
Ironi: Menanam di Depan Kamera, Menebang di Belakang Layar
Peringatan Hari Pohon sering kali dirayakan dengan sebatas kegiatan menanam bibit. Namun bibit-bibit itu banyak yang mati karena tidak dirawat.
Di sisi lain, deforestasi terus berjalan tanpa henti. Ini menciptakan ironi besar: kita sibuk menanam pohon pada satu hari, tetapi membiarkan ribuan pohon hilang di hari-hari lainnya.
Yang kita butuhkan bukan hanya aksi tanam, tetapi gerakan rawat pohon, perlindungan hutan, dan penguatan kebijakan tata ruang yang berorientasi pada kesinambungan ekologis.
Menghadapi Risiko Ekologis di Jawa Barat
Jawa Barat adalah salah satu provinsi yang paling merasakan dampak hilangnya pohon. Longsor, banjir bandang, kekeringan, dan penurunan debit air sungai terjadi hampir tiap tahun. Kawasan Bandung Utara (KBU), yang seharusnya menjadi paru-paru alam, terus dipenuhi beton.
Sentul, Sukabumi, Garut, dan Tasikmalaya berulang kali mengalami longsor akibat lereng kritis yang kehilangan penopang vegetasi. Hari Pohon Sedunia harus menjadi momentum untuk meninjau ulang seluruh proyek pembangunan yang mengorbankan ruang hijau.
Pohon Sebagai Investasi Masa Depan
Menanam pohon hari ini adalah investasi bagi generasi mendatang. Pohon yang kita tanam sekarang mungkin baru memberikan manfaat penuh 10–20 tahun kemudian.
Namun masa depan yang lebih aman, lebih sehat, dan lebih lestari tidak akan datang tanpa tindakan hari ini.
Gerakan yang kita lakukan harus mencakup:
- rehabilitasi hutan dan lahan kritis,
- perlindungan daerah resapan air,
- pemulihan mangrove di pesisir,
- pendidikan lingkungan bagi anak muda,
- partisipasi komunitas dalam menjaga ruang hijau.
Menjaga Pohon, Menjaga Kemanusiaan
Hari Pohon Sedunia mengingatkan kita bahwa menjaga pohon sama dengan menjaga kehidupan. Kita tidak bisa berbicara tentang krisis iklim, ketahanan pangan, bencana ekologis, atau masa depan anak cucu tanpa berbicara tentang pohon. Pohon memberikan segalanya tanpa meminta imbalan.
Yang mereka butuhkan hanyalah kesempatan untuk tumbuh dan tidak ditebang sembarangan. Dan hari ini, ketika dunia semakin panas dan alam semakin rapuh, kita seharusnya berdiri bersama satu sikap: Jaga Pohon, Jaga Kehidupan.
Dadang Sudardja, Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama JawaBarat (LPBI NU), Ketua Dewan Nasional WALHI Periode 2012 – 2016, Direktur Yayasan Sahabat Nusantara, Anggota Dewan Sumberdaya Air Jawa Barat, Anggota Dewan Pakar Forum POSGAB, Pegiat lingkungan dan Bencana.


























