Merayakan Ketidakwarasan yang Sehat

- Redaksi

Sabtu, 31 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PERNAHKAH Anda mendengar dongeng dari sebuah negeri bernama Konoha?

Di sana, ada pemandangan yang sanggup membuat dahi berkerut sekaligus memicu tawa getir: seorang koruptor yang baru saja dipasangi borgol, berjalan keluar dengan rompi oranye yang mentereng, namun bukannya menunduk malu, ia justru melempar senyum lebar ke arah kamera.

Dengan penuh percaya diri, ia melambaikan tangan seolah-olah sedang menyapa penggemar di karpet merah, tanpa beban, tanpa rasa bersalah.

Di saat itulah, logika kita sebagai manusia waras biasanya mengalami error. Mau marah sudah terlalu sering, mau menangis pun rasanya sia-sia.

Maka, syaraf di otak mengambil alih dan memicu sebuah tawa kecil yang sinis.

Selamat, Anda sedang menggunakan jalur evakuasi terakhir dalam menghadapi hidup: tertawa karena keadaan sudah terlalu “ajaib” untuk dipahami secara nalar.

Menghadapi ketidakpantasan dengan tawa inilah yang kita sebut sebagai bentuk ketidakwarasan yang sehat.

 

View this post on Instagram

 

Simfoni Tawa di Ruang Praktik: Kisah dr. Bukan Ibu Biasa

Keajaiban tawa sebagai mekanisme pertahanan diri ini juga terekam sempurna dalam sebuah kisah nyata yang viral, yang seolah menjadi penawar dari perilaku koruptor tadi.

Bayangkan sebuah ruang praktik dokter yang seharusnya kaku. Seorang dokter (sebut saja dr. Bukan Ibu Biasa) menyapa pasiennya dengan lembut, “Sakit apa, Bu?” tanya sang dokter dengan nada halus.

Bukannya mengeluarkan keluhan medis standar, si pasien malah meledak dalam tawa. “Ini sakit ini, Pak… eh, Bu!” jawabnya sambil terpingkal-pingkal.

Hebatnya, frekuensi tawa tersebut menular. Sang dokter pun ikut kehilangan wibawa medisnya dan ikut tertawa.

Ketika dokter mencoba bertanya lagi, si pasien menjawab, “Ini Bu… penyakitnya ketawa mulu!”

Maka terjadilah sebuah fenomena medis paling absurd: perbincangan antara dokter dan pasien yang keduanya sama-sama terpingkal hingga tersedak.

> Dokter: “Memangnya ada yang lucu pas bangun tidur?”

> Pasien: “Enggak ada Bu, tapi ini ketawa terus…”

> Dokter: “Iya ya, enak juga!”

> Pasien: “Enggak Bu… capek!”

Kalimat “Enggak Bu… capek” adalah puncak dari kejujuran manusia. Sama seperti kita yang menertawakan senyum koruptor di televisi, tawa adalah cara terakhir kita mengakui bahwa dunia ini sudah sangat melelahkan untuk dipikirkan secara serius.

Mengapa Kita Menertawakan Kegilaan?

Fenomena ini sebenarnya telah lama dibicarakan oleh para pemikir besar sebagai cara manusia bertahan hidup di tengah penderitaan atau ketidakadilan yang konyol:

  1. Henri Bergson dalam karyanya Laughter, berpendapat bahwa tawa adalah cara masyarakat memberikan “sanksi sosial” terhadap kekakuan hidup. Ketika ada koruptor yang nuraninya membatu atau situasi medis yang aneh, tawa muncul untuk mencairkan kekakuan itu agar kemanusiaan kita tidak ikut mengeras menjadi batu.
  2. Friedrich Nietzsche memandang tawa sebagai bentuk keberanian tertinggi. Ia pernah berkata, “Manusia menderita begitu dalam sehingga ia harus menciptakan tawa.” Bagi Nietzsche, menertawakan senyum koruptor adalah cara manusia untuk tetap berdiri tegak dan tidak mau ditaklukkan oleh rasa putus asa.
  3. Arthur Schopenhauer melihat tawa sebagai hasil dari teori inkongruitas (ketidakcocokan). Kita tertawa ketika ada jarak yang sangat lebar antara apa yang kita harapkan (koruptor yang malu atau pasien yang serius) dengan kenyataan yang terjadi (koruptor yang melambai atau pasien yang tertawa). Ketidakcocokan inilah yang memicu tawa sebagai katarsis.

Warisan Ketidakwarasan yang Sehat

Jadi, benarkah ketawa menjadi jalan terakhir? Sangat benar.

Menertawakan kelucuan yang tidak pantas—baik itu perilaku pejabat yang tak tahu malu maupun penyakit “ketawa mulu” di ruang dokter—adalah bukti bahwa kita masih memiliki kendali atas kewarasan kita sendiri.

Dunia mungkin tidak akan pernah berhenti menjadi tempat yang aneh, namun selama kita masih bisa saling menularkan tawa sampai tersedak, berarti kita masih memiliki harapan.

Obat paling mujarab untuk menghadapi dunia yang tidak masuk akal adalah dengan berani merayakan ketidakwarasan yang sehat bersama-sama.

Sebab, jika kita berhenti tertawa, maka dunia yang “ajaib” ini benar-benar telah memenangkan pertempuran melawan jiwa kita.***

Facebook Comments Box

Penulis : Bar Bernad

Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Membedah “Pabrik Nilai” yang Mematikan: Menggugat Absensi Kemanusiaan dalam Krisis Mental Pelajar Jawa Barat
Kisah Inspiratif Diah Maria Asih: Jual Rumah Demi SLB, Izinkan Siswa Berkebutuhan Khusus Bayar Semampunya
Nyawa Anak-Anak Kita dan Darurat Mental yang Terabaikan
Reformasi Data PBI Jangan Sampai Mengurangi Perlindungan Rakyat Kecil
Milyarder di Balik Lapak Kangkung: Kisah Chen Shu-chu yang Menampar Logika Dunia
Saling Tuding Soal Nasib Rakyat: Benarkah Presiden Perintahkan Hapus 11 Juta Peserta BPJS?
Alarm Berbunyi Saat Ekonomi Terlihat Kuat: Sinyal Bahaya dari Moody’s
Ketika Pertumbuhan Ekonomi Tak Lagi Menetes: Bukan Takdir, Tapi Soal Desain Kebijakan

Berita Terkait

Senin, 16 Februari 2026 - 09:33 WIB

Membedah “Pabrik Nilai” yang Mematikan: Menggugat Absensi Kemanusiaan dalam Krisis Mental Pelajar Jawa Barat

Minggu, 15 Februari 2026 - 13:36 WIB

Kisah Inspiratif Diah Maria Asih: Jual Rumah Demi SLB, Izinkan Siswa Berkebutuhan Khusus Bayar Semampunya

Minggu, 15 Februari 2026 - 09:27 WIB

Nyawa Anak-Anak Kita dan Darurat Mental yang Terabaikan

Sabtu, 14 Februari 2026 - 22:48 WIB

Reformasi Data PBI Jangan Sampai Mengurangi Perlindungan Rakyat Kecil

Sabtu, 14 Februari 2026 - 16:56 WIB

Milyarder di Balik Lapak Kangkung: Kisah Chen Shu-chu yang Menampar Logika Dunia

Berita Terbaru