Sidoarjo, Mevin.ID – Gelap, pengap, dan penuh risiko. Itulah medan yang harus ditembus tim SAR gabungan ketika berusaha mengevakuasi santri yang terjebak reruntuhan mushala Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur. Dalam kondisi struktur bangunan yang rapuh, penggunaan alat berat mustahil dilakukan. Maka, pilihan satu-satunya: membuat galian sempit, hanya berdiameter 60 sentimeter dengan kedalaman 80 sentimeter.
Direktur Operasi Basarnas, Yudhi Bramantyo, menggambarkan betapa ekstrem cara penyelamatan ini. “Personel harus merayap dalam posisi tengkurap selama tiga jam setiap shift agar bisa mencapai lokasi korban,” ujarnya, Kamis (2/10/2025).
Galian itu menjadi lorong penyelamat. Satu per satu anggota tim memasuki ruang sempit, hanya berbekal senter kecil dan tekad kuat, menembus sisa-sisa beton yang masih berisiko runtuh kapan saja. Setiap getaran, sekecil apapun, bisa memicu longsoran tambahan.
Namun perjuangan itu berbuah hasil. Hingga Rabu (1/10) malam, tujuh korban tambahan berhasil ditemukan. Dua di antaranya meninggal dunia, sementara lima lainnya selamat, termasuk Haikal Muhammad Wahyudi, Al Fatih, Putra, dan Rosi. Mereka langsung dilarikan ke RSUD Notopuro untuk mendapatkan perawatan medis.
Kisah Haikal menjadi salah satu yang paling dramatis. Ia bertahan dua hari di bawah reruntuhan, terjepit material beton. Menurut Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya, Laksita Rini Sevriani, evakuasi Haikal memakan waktu lama karena posisinya yang sulit. “Punggungnya terjepit bordes, bahkan ada jenazah temannya yang menghalangi jalur evakuasi. Meski begitu, Alhamdulillah akhirnya bisa diselamatkan,” tuturnya.
Tak hanya fisik, tim penyelamat juga berjuang menjaga mental para santri. Komunikasi lewat celah reruntuhan terus dilakukan agar korban tetap tenang. “Tim mengajak mereka bicara, memberi semangat: sabar ya nak, kami akan menolong. Bahkan tim sempat menyelipkan makanan dan minuman agar kesadaran anak-anak terjaga,” kata Laksita.
Di tengah operasi yang berlangsung, ancaman lain datang: guncangan gempa yang terjadi pada Selasa (30/9) malam sempat membuat tim waspada. Getaran bisa membuat bangunan yang sudah rapuh makin bergeser. Namun, operasi tak berhenti. Tim gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, PMI, DPKP Surabaya, hingga relawan, tetap bergantian masuk lorong penyelamat itu.
Hingga hari ketiga operasi, total 18 santri berhasil dievakuasi, lima di antaranya meninggal dunia. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut, masih ada puluhan santri lain yang dilaporkan hilang.
Bangunan tiga lantai yang difungsikan sebagai mushala itu ambruk pada Senin (29/9) saat para santri menunaikan salat Ashar. Analisis sementara ahli konstruksi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menyebut penyebabnya adalah kegagalan struktur. “Intinya elemen bangunan sudah hancur semua, jatuh dengan model pancake collapse,” ujar pakar teknik sipil ITS, Muji Himawan.
Di tengah reruntuhan yang masih berpotensi runtuh, lorong sempit buatan tim SAR kini menjadi satu-satunya harapan. Dari celah berukuran kurang dari satu meter itulah, nyawa demi nyawa berusaha diselamatkan.***







![Presiden AS Donald Trump berbicara kepada anggota pers di dalam Air Force One selama penerbangan menuju Pangkalan Gabungan Andrews, Maryland, AS, pada 6 April 2025 [Kent Nishimura/Reuters]](https://mevin.id/wp-content/uploads/2025/04/2025-04-07T000448Z_1552781344_RC2MSDAA10A2_RTRMADP_3_USA-TRUMP-1743986064-225x129.webp)




![Presiden AS Donald Trump berbicara kepada anggota pers di dalam Air Force One selama penerbangan menuju Pangkalan Gabungan Andrews, Maryland, AS, pada 6 April 2025 [Kent Nishimura/Reuters]](https://mevin.id/wp-content/uploads/2025/04/2025-04-07T000448Z_1552781344_RC2MSDAA10A2_RTRMADP_3_USA-TRUMP-1743986064-360x200.webp)













