Merayap di Bawah Beton yang Ambruk, Perjuangan Tim SAR Menyelamatkan Santri Ponpes Al Khoziny

- Redaksi

Kamis, 2 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sidoarjo, Mevin.ID – Gelap, pengap, dan penuh risiko. Itulah medan yang harus ditembus tim SAR gabungan ketika berusaha mengevakuasi santri yang terjebak reruntuhan mushala Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur. Dalam kondisi struktur bangunan yang rapuh, penggunaan alat berat mustahil dilakukan. Maka, pilihan satu-satunya: membuat galian sempit, hanya berdiameter 60 sentimeter dengan kedalaman 80 sentimeter.

Direktur Operasi Basarnas, Yudhi Bramantyo, menggambarkan betapa ekstrem cara penyelamatan ini. “Personel harus merayap dalam posisi tengkurap selama tiga jam setiap shift agar bisa mencapai lokasi korban,” ujarnya, Kamis (2/10/2025).

Galian itu menjadi lorong penyelamat. Satu per satu anggota tim memasuki ruang sempit, hanya berbekal senter kecil dan tekad kuat, menembus sisa-sisa beton yang masih berisiko runtuh kapan saja. Setiap getaran, sekecil apapun, bisa memicu longsoran tambahan.

Namun perjuangan itu berbuah hasil. Hingga Rabu (1/10) malam, tujuh korban tambahan berhasil ditemukan. Dua di antaranya meninggal dunia, sementara lima lainnya selamat, termasuk Haikal Muhammad Wahyudi, Al Fatih, Putra, dan Rosi. Mereka langsung dilarikan ke RSUD Notopuro untuk mendapatkan perawatan medis.

Kisah Haikal menjadi salah satu yang paling dramatis. Ia bertahan dua hari di bawah reruntuhan, terjepit material beton. Menurut Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya, Laksita Rini Sevriani, evakuasi Haikal memakan waktu lama karena posisinya yang sulit. “Punggungnya terjepit bordes, bahkan ada jenazah temannya yang menghalangi jalur evakuasi. Meski begitu, Alhamdulillah akhirnya bisa diselamatkan,” tuturnya.

Tak hanya fisik, tim penyelamat juga berjuang menjaga mental para santri. Komunikasi lewat celah reruntuhan terus dilakukan agar korban tetap tenang. “Tim mengajak mereka bicara, memberi semangat: sabar ya nak, kami akan menolong. Bahkan tim sempat menyelipkan makanan dan minuman agar kesadaran anak-anak terjaga,” kata Laksita.

Di tengah operasi yang berlangsung, ancaman lain datang: guncangan gempa yang terjadi pada Selasa (30/9) malam sempat membuat tim waspada. Getaran bisa membuat bangunan yang sudah rapuh makin bergeser. Namun, operasi tak berhenti. Tim gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, PMI, DPKP Surabaya, hingga relawan, tetap bergantian masuk lorong penyelamat itu.

Hingga hari ketiga operasi, total 18 santri berhasil dievakuasi, lima di antaranya meninggal dunia. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut, masih ada puluhan santri lain yang dilaporkan hilang.

Bangunan tiga lantai yang difungsikan sebagai mushala itu ambruk pada Senin (29/9) saat para santri menunaikan salat Ashar. Analisis sementara ahli konstruksi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menyebut penyebabnya adalah kegagalan struktur. “Intinya elemen bangunan sudah hancur semua, jatuh dengan model pancake collapse,” ujar pakar teknik sipil ITS, Muji Himawan.

Di tengah reruntuhan yang masih berpotensi runtuh, lorong sempit buatan tim SAR kini menjadi satu-satunya harapan. Dari celah berukuran kurang dari satu meter itulah, nyawa demi nyawa berusaha diselamatkan.***

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Efek Perang Timur Tengah: Menkeu Purbaya Buka Opsi ‘Berbagi Beban’ Kenaikan Harga BBM Subsidi
Trump Remehkan Lonjakan Harga BBM: “Menang Perang Lawan Iran Jauh Lebih Penting!”
Modus Perusahaan Keluarga: KPK Ungkap Direktur Perusahaan Pemenang Proyek Ternyata ART Bupati Fadia
Setelah Iran, Trump Bidik Kuba: “Rezim Komunis Akan Segera Jatuh!”
“Penyelamat Kami!” Warga Pekalongan Kirim Karangan Bunga ke KPK Usai Penangkapan Bupati Fadia
Skandal Impor Bea Cukai: KPK Sita 5 Mobil Mewah, Enam Pejabat dan Swasta Jadi Tersangka
Ironi Pemilik ‘Bibi Kelinci’: Unggah CCTV Pencurian di Restoran, Selebgram Nabilah O’Brien Malah Jadi Tersangka
Anggaran Makan Bergizi Gratis Pakai Dana Pendidikan, Habiburokhman: Penerimanya Adalah Siswa!

Berita Terkait

Jumat, 6 Maret 2026 - 21:05 WIB

Efek Perang Timur Tengah: Menkeu Purbaya Buka Opsi ‘Berbagi Beban’ Kenaikan Harga BBM Subsidi

Jumat, 6 Maret 2026 - 15:22 WIB

Trump Remehkan Lonjakan Harga BBM: “Menang Perang Lawan Iran Jauh Lebih Penting!”

Jumat, 6 Maret 2026 - 14:23 WIB

Modus Perusahaan Keluarga: KPK Ungkap Direktur Perusahaan Pemenang Proyek Ternyata ART Bupati Fadia

Jumat, 6 Maret 2026 - 12:29 WIB

Setelah Iran, Trump Bidik Kuba: “Rezim Komunis Akan Segera Jatuh!”

Jumat, 6 Maret 2026 - 11:23 WIB

“Penyelamat Kami!” Warga Pekalongan Kirim Karangan Bunga ke KPK Usai Penangkapan Bupati Fadia

Berita Terbaru