Jakarta, Mevin.ID – Laporan terbaru Ecoton kembali mengungkap ancaman yang selama ini nyaris tak terlihat: mikroplastik kini melayang di udara 18 kota di Indonesia.
Dari Kupang hingga Aceh Utara, dari Surabaya hingga Pontianak — partikel plastik berukuran 0,02–1,72 milimeter itu menumpuk di ruang hidup warga, setiap hari.
Dan Jakarta Pusat muncul sebagai lokasi dengan konsentrasi tertinggi.
Jakarta Pusat: 37 Partikel dalam 2 Jam
Dari alat penangkap udara pasif yang dipasang di Pasar Tanah Abang, Jalan Katedral Sawah Besar, hingga Ragunan, Ecoton mencatat 37 partikel mikroplastik dalam dua jam pengambilan sampel.
Tanah Abang, pusat tekstil terbesar di Asia Tenggara dengan jutaan interaksi harian, menjadi “pusat badai” pelepasan plastik ke udara — mulai dari pembongkaran barang, kemasan sekali pakai, hingga serpihan dari pakaian sintetis.
Ecoton menulis, “Aktivitas bongkar muat barang, penggunaan plastik sekali pakai, dan interaksi ribuan orang menciptakan kondisi ideal untuk pelepasan mikroplastik ke udara.”
Fragmen plastik berasal dari kantong belanja dan pembungkus, sementara fiber terlepas dari pakaian sintetis yang dipajang dan didistribusikan. Lalu lintas padat di Jalan Katedral menambah “asap tak terlihat” ini dari sisa partikel ban, jalanan, dan debu plastik lainnya.
Malang Paling Rendah
Berbanding terbalik, Malang mencatat hanya 2 partikel dalam periode yang sama. Lokasi sampling berada di dusun-dusun yang dikelilingi sawah dan kebun tebu. Heningnya lalu lintas dan ketiadaan pembakaran sampah memberikan gambaran bagaimana kualitas udara dapat berbeda drastis hanya karena pola aktivitas manusia.
Berapa Banyak yang Kita Hirup?
Jika seseorang bernapas sekitar 500 liter udara per jam, maka di kota besar seperti Jakarta, setiap tarikan napas bukan hanya membawa debu, melainkan puluhan hingga ratusan partikel mikroplastik kecil.
Ecoton menjelaskan sekitar 0,5–1 persen partikel di udara berpotensi masuk ke saluran pernapasan — cukup untuk memicu peradangan kronis, kerusakan jaringan paru, hingga mengaktifkan gen stres oksidatif.
Lebih kecil lagi, nanoplastik mampu menembus penghalang alveolar-kapiler, beredar bersama darah, dan sampai ke organ lain — bahkan melewati sawar darah-otak.
Dampak yang Lewat Duluan Sebelum Kita Sadar
Paparan mikroplastik bukan sekadar isu polusi; ia menyentuh ranah metabolisme, imun, hingga neurotoksisitas. Meski efeknya belum sepenuhnya dipetakan, bukti ilmiah yang terus muncul menegaskan satu hal: plastik tidak lagi berhenti di laut — ia kini bernafas bersama kita.
Desakan ke Pemerintah
Ecoton mendesak Kementerian Lingkungan Hidup untuk:
- melarang pembakaran sampah terbuka,
- meningkatkan fasilitas pemilahan sampah,
- memantau mikroplastik udara secara berkala,
- memperkuat kampanye lingkungan ke publik.
Sebelumnya, BRIN juga menemukan mikroplastik pada air hujan di wilayah Jabodetabek — menandakan bahwa siklus plastik kini berputar di atas kepala kita, bukan hanya di sungai dan laut.***


























