Misteri Dentuman Sebelum Longsor Cisarua: 23 Marinir Tertimbun dan Kesaksian Mencekam Warga

- Redaksi

Senin, 26 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BANDUNG BARAT, Mevin.ID – Bencana tanah longsor yang melanda Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Sabtu (24/1/2026) dini hari, tidak hanya merenggut korban jiwa warga, tetapi juga menimbulkan puluhan korban dari anggota Korps Marinir TNI Angkatan Laut (AL) yang sedang berlatih di lokasi.

Kejadian ini juga diwarnai misteri suara dentuman keras seperti bom yang terdengar warga beberapa jam sebelum material tanah menerjang pemukiman.

Kepala Staf TNI AL (KSAL) Laksamana Muhammad Ali mengonfirmasi bahwa sebanyak 23 anggota Marinir tertimbun dalam bencana tersebut.

“Atas izin Bapak Menhan dan Bapak Panglima, saya menyampaikan terkait dengan kejadian bencana alam yang terjadi di Jawa Barat, di Desa Soreang, memang terdapat 23 anggota marinir yang tertimbun longsor,” kata Ali dalam keterangan pers, Senin (26/1/2026), mengutip Kompas TV.

Ali menjelaskan, para prajurit tersebut sedang melaksanakan latihan pratugas dalam rangka persiapan penugasan pengamanan perbatasan RI-Papua Nugini.

“Memang latihannya di sana, dan saat itu kondisinya hujan lebat selama hampir dua malam. Mungkin itu yang mengakibatkan longsor. Itu menimpa penduduk satu desa, dan kebetulan ada prajurit kita yang sedang berlatih di sana,” ujarnya.

Hingga saat ini, pencarian korban masih terus dilakukan dengan menggunakan drone, teknologi thermal, dan anjing pelacak.

“Sampai sekarang alat berat memang belum bisa masuk karena kondisi cuaca dan jalan yang kecil, tapi kita akan terus melaksanakan pencarian,” tambah Ali.

Kesaksian Warga: Suara Dentuman dan Listrik Padam

Salah satu kesaksian mencekam datang dari Ai Siti Jubaedah, warga yang selamat dari terjangan material longsor. Ia mengungkapkan bahwa sekitar pukul 23.00 WIB pada Jumat malam, atau tiga jam sebelum bencana, terdengar suara dentuman keras tidak biasa menyerupai ledakan bom.

“Terdengar benturan-benturan kayak bom gitu pukul 11.00. Pas kejadian longsor itu jam 2 dini hari,” ungkap Ai Siti dalam sebuah rekaman video.

Tak lama setelah suara dentuman itu, seluruh aliran listrik di kampungnya langsung padam total, menambah suasana mencekam di tengah kegelapan.

Saat material tanah dan batu akhirnya menerjang sekitar pukul 02.00 WIB, kecepatannya sangat tinggi sehingga banyak warga tidak sempat menyelamatkan diri.

“Ada yang sempat (lari), ada yang enggak. Yang terdampak langsung mah enggak sempat menyelamatkan diri karena alurnya langsung ke sana,” jelasnya.

Analisis Ahli: Longsoran di Hulu Picu Aliran Rombakan (Debris Flow)

Pakar geologi longsoran ITB, Dr.Eng. Imam Achmad Sadisun, S.T., M.T., memberikan penjelasan teknis terkait mekanisme bencana.

Menurutnya, peristiwa ini diawali oleh longsoran di hulu sungai di lereng selatan Gunung Burangrang, yang kemudian menutup alur sungai dan membentuk bendungan alam (landslide dam).

Bendungan alam tersebut menahan air dan mengakumulasi sedimen seperti lumpur, pasir, dan batu. Ketika tekanan air menjadi terlalu besar, bendungan pun jebol dan memicu debris flow (aliran bahan rombakan) yang deras ke hilir melalui jalur sungai.

“Rumah-rumah warga sebenarnya tidak longsor di lereng tempat mereka berdiri, tetapi terdampak material longsoran yang dikirim dari hulu melalui alur sungai,” jelas Dr. Imam.

Aliran ini memiliki daya rusak yang sangat tinggi karena membawa muatan sedimen yang besar.

Dengan analisis ini, suara dentuman keras yang dilaporkan warga beberapa jam sebelum bencana diduga kuat merupakan suara dari longsoran awal di bagian hulu yang menutup sungai, sebelum akhirnya bendungan alam itu jebol dan mengirimkan gelombang material ke pemukiman di bawahnya.***

Facebook Comments Box

Editor : Atep K

Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Polisi Majalengka Gerebek Kontrakan di Babakan Jawa, Pengedar Sabu 11 Gram Berhasil Diringkus
Petani Lembang “Blokade” Jalur Offroad: Jalan Hancur, Pipa Air Pecah, Pakan Ternak Terhambat
Seruan Setop Bayar Pajak Kendaraan: Pemprov Jateng Kalang Kabut, Siapkan Diskon 5 Persen
Tragis di Bojongsoang, Sakit Hati Dihina, Suami Tega Habisi Nyawa Istri di Depan Sang Anak
Investasi Bodong Aplikasi MBA Pangandaran, Polda Jabar Dibanjiri Laporan
WALHI Jabar Endus Kepentingan Politik di Balik Penutupan Bandung Zoo: “Ada Dugaan Janji ke Pihak Tertentu”
Transformasi Regulasi Cagar Budaya dan Implikasi Yuridis Sengketa Lahan SMAN 1 Bandung
Tragedi Pembunuhan Siswa SMPN 26 Bandung: Terungkap Korban Alami Perundungan Sejak SD

Berita Terkait

Senin, 16 Februari 2026 - 21:34 WIB

Polisi Majalengka Gerebek Kontrakan di Babakan Jawa, Pengedar Sabu 11 Gram Berhasil Diringkus

Senin, 16 Februari 2026 - 20:59 WIB

Petani Lembang “Blokade” Jalur Offroad: Jalan Hancur, Pipa Air Pecah, Pakan Ternak Terhambat

Senin, 16 Februari 2026 - 19:31 WIB

Tragis di Bojongsoang, Sakit Hati Dihina, Suami Tega Habisi Nyawa Istri di Depan Sang Anak

Senin, 16 Februari 2026 - 19:07 WIB

Investasi Bodong Aplikasi MBA Pangandaran, Polda Jabar Dibanjiri Laporan

Senin, 16 Februari 2026 - 15:02 WIB

WALHI Jabar Endus Kepentingan Politik di Balik Penutupan Bandung Zoo: “Ada Dugaan Janji ke Pihak Tertentu”

Berita Terbaru