JAKARTA, Mevin.ID – Posisi Indonesia di Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) tengah menjadi sorotan tajam di tengah eskalasi perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran.
Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, mengungkapkan bahwa meski saat ini Indonesia masih bertahan, Presiden Prabowo Subianto tidak menutup kemungkinan untuk mengevaluasi kembali keanggotaan RI di lembaga tersebut.
Pernyataan ini disampaikan Paloh usai menghadiri pertemuan tertutup selama empat jam di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (3/3) malam, yang dihadiri oleh tokoh-tokoh bangsa, mantan Presiden, mantan Menlu, hingga pimpinan parpol.
Komitmen Politik Bebas Aktif di Tengah Krisis
Dalam pertemuan yang berakhir menjelang tengah malam itu, Presiden Prabowo kembali menegaskan arah kompas diplomasi Indonesia. Menurut Paloh, Presiden tetap memegang teguh prinsip Politik Bebas Aktif namun dengan empati besar terhadap perjuangan rakyat Palestina.
“Sampai hari ini barangkali masih dalam posisi seperti itu (bertahan di BoP), kecuali ada perkembangan bersama beberapa negara lain nanti, mengevaluasi ulang kembali arti keberadaan Indonesia di BoP,” ujar Surya Paloh kepada awak media.
Desakan Mundur dari MUI
Isu keluarnya Indonesia dari BoP mencuat setelah Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan sikap resmi yang mengutuk serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran. MUI menilai keberadaan Indonesia di BoP sudah tidak efektif lagi.
-
Poin Utama Desakan MUI:
-
Mengecam tindakan AS dan Israel yang dianggap memicu perang.
-
Mendesak pemerintah mencabut keanggotaan karena BoP dinilai gagal mewujudkan perdamaian sejati, terutama di Palestina.
-
Pertemuan Strategis di Istana
Pertemuan di Istana semalam merupakan langkah konsolidasi nasional yang krusial. Prabowo mengundang nama-nama besar seperti Jokowi, SBY, hingga para mantan Menteri Luar Negeri untuk memetakan dampak perang Iran-AS-Israel terhadap kepentingan nasional.
“Beliau (Prabowo) menegaskan kembali bagaimana mempertahankan politik bebas dan aktif, serta rasa simpati dan empati yang besar terhadap perjuangan rakyat Palestina,” tambah Paloh.
Langkah diplomasi Indonesia kini berada di persimpangan jalan: tetap berada di dalam BoP untuk mencoba melakukan perubahan dari dalam, atau keluar sebagai bentuk protes keras terhadap aksi militer yang dilakukan oleh negara-negara anggota dewan tersebut.***
Editor : Bar Bernad


























