ARIEL HUMA tidak meninggal di ibu kota. Ia tidak wafat di gedung tinggi tempat rapat-rapat besar digelar. Ia berpulang di pelosok Sulawesi Tengah, tepatnya di Desa Palentuma, Kecamatan Pinembani, Donggala.
Seorang aparatur sipil negara (ASN) yang selama hidupnya mendatangi rumah warga satu per satu, menyampaikan program negara tentang keluarga dan masa depan.
Ironisnya, ketika Ariel meninggal, negara tak sempat datang menjemput. Bukan karena tak tahu alamat, tapi karena jalan rusak dan ambulans rusak.
Maka jenazah Ariel diangkut dengan sepeda motor, sejauh 40 kilometer, dibungkus kain jarik dan disangga batang kayu agar tak tumbang di tengah jalan.
Di negeri ini, kadang hidup dan mati diperlakukan sama: mandiri.
Baca Juga : Jalan Rusak, Jenazah ASN di Donggala Diantar Naik Motor Sejauh 40 Km
Jalan Rusak Tak Masuk Agenda Rapat
Tentu, kita paham. Negara ini luas, daerah banyak, dan masalah pun berlimpah. Tapi entah mengapa, proyek jalan tol antarkota bisa selesai dalam hitungan tahun, sementara jalan desa Pinembani tak kunjung disentuh.
Barangkali karena jalan ke desa itu tidak mengarah ke hotel tempat pelatihan, atau tidak dilewati konvoi menteri yang hendak panen foto.
Ambulans yang rusak juga mungkin tidak terdengar sampai ke ruang-ruang pendingin tempat kebijakan dibuat.
Lagipula, siapa pula yang akan mencoret anggaran perjalanan dinas demi memperbaiki satu ambulans tua di kampung yang tak punya sinyal?
@watuwawer3” Petugas Kesehata ( Penyulu KB ) di Pinembani Donggala. Je***ah Tenaga Kesehatan ( ASN ) di bawah Naik Motor dari Donggala Ke Palu ( 40 km) , akses jalan rusak , tak bisa dilalui Ambulance. Tidak ada ambulance , sudah lama rusak , dan sejak saai itu sama sekali tidak dipergunakan lagi . Katanya masih di bengkel di Jalan Datu Adam Kota Palu ,” titir salah seorang warga . _______ Semga dg kejadian ini pemerintah daerah/pusat segera mngatasi masalah ini.
ASN yang Mati Dalam Tugas, Tapi Tak Dapat Kehormatan
Ariel adalah ASN. Artinya, ia digaji oleh negara. Ia melayani program negara. Tapi kematiannya tak ditangisi oleh negara.
Tidak ada sirine, tidak ada pengawalan, bahkan kendaraan dinas pun tak tersedia. Mungkin karena ia hanya penyuluh KB di pedalaman, bukan pejabat yang biasa menyapa wartawan.
Bukankah kita sering melihat peti mati dikawal kendaraan polisi saat tokoh wafat?
Tapi ketika rakyat kecil, bahkan ASN, meninggal di kampung—yang datang hanya satu motor dan beberapa batang kayu. Negara seakan sibuk membangun masa depan, tapi lupa siapa saja yang sedang gugur di jalan.
Kematian yang Tak Perlu Viral
Boleh jadi, jika tidak ada video yang beredar, kisah Ariel hanya menjadi duka dalam keluarga, lalu hilang begitu saja.
Tapi inilah realitas kita: kadang, untuk mendapat perhatian, seseorang harus viral dulu setelah mati.
Lucu ya, kita hidup di negara dengan kementerian demi kementerian, direktorat demi direktorat, namun untuk satu nyawa saja, tak ada kendaraan yang bisa mengantar pulang dengan layak.
Semoga Jalan Itu Diperbaiki
Akhirnya, kita ucapkan belasungkawa. Bukan hanya untuk keluarga Ariel, tapi juga untuk logika kemanusiaan kita yang barangkali ikut mati pelan-pelan.
Semoga setelah ini, jalan itu diperbaiki. Bukan karena suara rakyat, tapi karena malu.
Dan semoga, suatu saat nanti, ketika ada yang meninggal lagi di pelosok negeri ini, mereka bisa pulang dengan tenang—bukan dengan ditopang batang kayu di atas motor.***
Penulis : Bar Bernad


























