Boyolali, Mevin.ID – Kerudung lusuh itu basah oleh darah. Tubuh renta yang menggigil itu tertatih menuruni tangga Pasar Mangu, Boyolali, sambil berpegangan pada tembok dan pagar besi.
Di belakangnya, suara seorang pria terdengar lirih di video yang kini viral: “Wangsul mawon, benjing ampun dibaleni nggih…” — pulanglah, jangan diulangi lagi.
Video yang pertama kali diunggah oleh akun Instagram @insta_kendal pada Rabu (7/5/2025) itu memancing gelombang simpati dan kemarahan.
Seorang nenek, diperkirakan berusia 65–70 tahun, dihajar massa lantaran diduga mencuri beberapa siung bawang di pasar.
Tak ada yang tahu siapa dia. Tak ada identitas. Tak ada keluarga yang datang. Hanya luka di tubuh dan stigma di sekitarnya.
Lihat postingan ini di Instagram
Nenek dan Bawang Seharga 90 Ribu
Menurut keterangan saksi, nenek tersebut kedapatan menyimpan beberapa siung bawang ke dalam tas tanpa membayar.
Harga bawang itu ditaksir sekitar Rp90 ribu. Bagi sebagian orang, itu jumlah recehan. Tapi bagi sang nenek—yang sudah tak produktif, tak diketahui asal-usulnya, dan tak memiliki identitas—angka itu mungkin adalah soal hidup hari ini atau tidak.
Amarah pun meledak. Warga menghajarnya. Tidak ada yang melindungi. Tidak ada yang bertanya lebih dulu.
Kapolsek Ngemplak AKP Widarto membenarkan peristiwa itu terjadi pada Sabtu, 3 Mei 2025, sekitar pukul 05.00 WIB. Saat polisi tiba, sang nenek sudah pergi dari lokasi. “Ia sempat ditawari untuk dibawa berobat, tetapi menolak. Memilih langsung pulang saja,” ujar Widarto.
Identitas nenek itu masih menjadi misteri. Tidak satu pun warga atau pedagang pasar mengenalnya. “Ini bukan pertama kalinya.
Katanya sudah beberapa kali ngutil di pasar. Tapi selama ini hanya didiamkan,” tambah Widarto. “Bahasane, warga itu geregetan.”
Meski demikian, tak ada laporan resmi yang dibuat ke polisi.
Kekerasan yang Melebihi Nilai Kehilangan
Kasus ini memicu diskusi luas di media sosial. Apa sebenarnya yang kita bela? Aturan hukum? Harga bawang? Harga diri pedagang? Atau justru, rasa tak berdaya kita menghadapi kemiskinan yang tak kunjung selesai?
Berulang kali publik menyaksikan koruptor miliaran yang ditangkap tanpa luka, bahkan duduk tenang di ruang sidang, mengenakan kemeja bersih dan senyum di wajah.
Namun seorang nenek tua—yang mungkin mencuri karena lapar—dipukuli hingga berdarah oleh tangan-tangan yang tak sabar.
Apakah kita sudah kehilangan kemampuan untuk berbelas kasih?
Luka yang Lebih Dalam dari Darah
Di tengah euforia pertumbuhan ekonomi dan klaim penurunan kemiskinan, kejadian ini membuka mata bahwa di lapisan paling bawah masyarakat, ada mereka yang terpaksa bertahan dengan cara yang tak layak, hanya untuk makan.
Nenek itu mungkin tak pernah membaca berita tentang angka pertumbuhan ekonomi 4,87 persen. Ia hanya tahu bahwa pagi itu, ia harus membawa sesuatu untuk dimakan.
Dan kini, luka itu tak hanya di tubuhnya. Tapi juga di nurani kita yang membiarkan kemiskinan menjadi bahan tontonan viral.
Bukan hanya tentang hukum. Ini tentang empati yang hilang. Tentang bagaimana bangsa memperlakukan yang paling lemah di antara mereka.***


























