Nenek, Bawang, dan Amarah Kita: Ketika Rasa Lapar Dibalas dengan Pukulan

- Redaksi

Kamis, 8 Mei 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tampak seorang nenek berlumuran darah usai dipukuli massa diduga gegara ngutil bawang di Pasar Mangu, Desa Ngesrep, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali. (Foto: @fakta.indo)

i

Tampak seorang nenek berlumuran darah usai dipukuli massa diduga gegara ngutil bawang di Pasar Mangu, Desa Ngesrep, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali. (Foto: @fakta.indo)

Boyolali, Mevin.ID – Kerudung lusuh itu basah oleh darah. Tubuh renta yang menggigil itu tertatih menuruni tangga Pasar Mangu, Boyolali, sambil berpegangan pada tembok dan pagar besi.

Di belakangnya, suara seorang pria terdengar lirih di video yang kini viral: “Wangsul mawon, benjing ampun dibaleni nggih…” — pulanglah, jangan diulangi lagi.

Video yang pertama kali diunggah oleh akun Instagram @insta_kendal pada Rabu (7/5/2025) itu memancing gelombang simpati dan kemarahan.

Seorang nenek, diperkirakan berusia 65–70 tahun, dihajar massa lantaran diduga mencuri beberapa siung bawang di pasar.

Tak ada yang tahu siapa dia. Tak ada identitas. Tak ada keluarga yang datang. Hanya luka di tubuh dan stigma di sekitarnya.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh KENDAL (@insta_kendal)

Nenek dan Bawang Seharga 90 Ribu

Menurut keterangan saksi, nenek tersebut kedapatan menyimpan beberapa siung bawang ke dalam tas tanpa membayar.

Harga bawang itu ditaksir sekitar Rp90 ribu. Bagi sebagian orang, itu jumlah recehan. Tapi bagi sang nenek—yang sudah tak produktif, tak diketahui asal-usulnya, dan tak memiliki identitas—angka itu mungkin adalah soal hidup hari ini atau tidak.

Amarah pun meledak. Warga menghajarnya. Tidak ada yang melindungi. Tidak ada yang bertanya lebih dulu.

Kapolsek Ngemplak AKP Widarto membenarkan peristiwa itu terjadi pada Sabtu, 3 Mei 2025, sekitar pukul 05.00 WIB. Saat polisi tiba, sang nenek sudah pergi dari lokasi. “Ia sempat ditawari untuk dibawa berobat, tetapi menolak. Memilih langsung pulang saja,” ujar Widarto.

Identitas nenek itu masih menjadi misteri. Tidak satu pun warga atau pedagang pasar mengenalnya. “Ini bukan pertama kalinya.

Katanya sudah beberapa kali ngutil di pasar. Tapi selama ini hanya didiamkan,” tambah Widarto. “Bahasane, warga itu geregetan.”

Meski demikian, tak ada laporan resmi yang dibuat ke polisi.

Kekerasan yang Melebihi Nilai Kehilangan

Kasus ini memicu diskusi luas di media sosial. Apa sebenarnya yang kita bela? Aturan hukum? Harga bawang? Harga diri pedagang? Atau justru, rasa tak berdaya kita menghadapi kemiskinan yang tak kunjung selesai?

Berulang kali publik menyaksikan koruptor miliaran yang ditangkap tanpa luka, bahkan duduk tenang di ruang sidang, mengenakan kemeja bersih dan senyum di wajah.

Namun seorang nenek tua—yang mungkin mencuri karena lapar—dipukuli hingga berdarah oleh tangan-tangan yang tak sabar.

Apakah kita sudah kehilangan kemampuan untuk berbelas kasih?

Luka yang Lebih Dalam dari Darah

Di tengah euforia pertumbuhan ekonomi dan klaim penurunan kemiskinan, kejadian ini membuka mata bahwa di lapisan paling bawah masyarakat, ada mereka yang terpaksa bertahan dengan cara yang tak layak, hanya untuk makan.

Nenek itu mungkin tak pernah membaca berita tentang angka pertumbuhan ekonomi 4,87 persen. Ia hanya tahu bahwa pagi itu, ia harus membawa sesuatu untuk dimakan.

Dan kini, luka itu tak hanya di tubuhnya. Tapi juga di nurani kita yang membiarkan kemiskinan menjadi bahan tontonan viral.

Bukan hanya tentang hukum. Ini tentang empati yang hilang. Tentang bagaimana bangsa memperlakukan yang paling lemah di antara mereka.***

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Minibus Terpental Seruduk Truk Tronton m di Tol Gempol Terekam Dashcam, Sopir Diduga Microsleep
Semarak Ramadhan di Bantargebang: LPM Ciketing Udik Gelar Santunan dan Ngabuburit Bareng Komedi Topeng Bekasi
Antisipasi Lonjakan Pemudik, Satlantas Polres Bogor Siapkan Rekayasa One Way Lokal di 6 Titik Jalur Puncak
Senyum Taslim di Balik Kompensasi Rp1,4 Juta Mudik Lebaran 2026
Eks Penyidik KPK Novel Baswedan Punya Dugaan Lebih Mengerikan Soal Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus
Pasca Tewasnya Siswa SMAN 5 Bandung, Anak Tongkrongan Kini Diawasi Ketat
Kades Hoho Temui Gubernur Jabar Dedi Mulyadi di Lembur Pakuan, Bahas Keamanan hingga Tata Kelola Desa
Ngeri! Begal Tusuk Ojol Wanita di Jembatan Gantung Rancamanyar Bandung pada Sabtu Tengah Malam

Berita Terkait

Minggu, 15 Maret 2026 - 21:43 WIB

Minibus Terpental Seruduk Truk Tronton m di Tol Gempol Terekam Dashcam, Sopir Diduga Microsleep

Minggu, 15 Maret 2026 - 18:44 WIB

Antisipasi Lonjakan Pemudik, Satlantas Polres Bogor Siapkan Rekayasa One Way Lokal di 6 Titik Jalur Puncak

Minggu, 15 Maret 2026 - 16:30 WIB

Senyum Taslim di Balik Kompensasi Rp1,4 Juta Mudik Lebaran 2026

Minggu, 15 Maret 2026 - 15:06 WIB

Eks Penyidik KPK Novel Baswedan Punya Dugaan Lebih Mengerikan Soal Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus

Minggu, 15 Maret 2026 - 09:28 WIB

Pasca Tewasnya Siswa SMAN 5 Bandung, Anak Tongkrongan Kini Diawasi Ketat

Berita Terbaru