Bandung, Mevin.ID – Keputusan Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) merenovasi gapura pagar Gedung Sate dengan desain menyerupai Candi Bentar senilai Rp3,9 Miliar menuai kritik tajam, terutama dari warganet di media sosial.
Proyek yang dibiayai dari APBD Perubahan 2025 ini dianggap minim urgensi di tengah tingginya angka pengangguran di Jawa Barat.
Kritik tersebut memuncak setelah seorang netizen di TikTok mengunggah video sindiran yang menjadi viral. Dengan latar belakang Gedung Sate yang kini berwajah baru, netizen tersebut menyentil Gubernur Jawa Barat (Dedi Mulyadi) mengenai prioritas pembangunan.
“Memang yang paling mudah itu merenovasi gapura daripada merenovasi pengangguran agar turun,” ujar netizen tersebut dalam videonya, menyiratkan bahwa masalah estetika bangunan lebih diutamakan ketimbang isu kesejahteraan rakyat.
@imind1945RENOVASI GAPURA GEDUNG SATE . . . . #gedungsate #jawabarat #dedimulyadi #kangdedimulyadi #viral
Anggaran Fantastis dan Isu Prioritas
Renovasi gapura Gedung Sate yang kini mengusung ornamen budaya Sunda dengan sentuhan Candi Bentar ini menelan anggaran mencapai Rp3,9 Miliar.
Desain baru ini sendiri sempat menimbulkan polemik di kalangan publik dan anggota DPRD, yang mempertanyakan kesesuaian arsitektur Candi Bentar dengan ikon Gedung Sate yang sarat nilai sejarah.
Anggota DPRD Jabar juga menyoroti adanya ketimpangan anggaran. Proyek gapura miliaran rupiah ini dinilai kontras dengan minimnya alokasi untuk pelestarian situs budaya Sunda yang asli, yang jauh lebih kecil.
Penjelasan dan Pembelaan Pemprov Jabar
Menanggapi kritik dan polemik yang memanas, pihak Pemprov Jabar, termasuk Gubernur Dedi Mulyadi, menyatakan bahwa renovasi tersebut perlu dilakukan. Alasan yang dikemukakan antara lain:
- Perbaikan Infrastruktur: Pagar dan gerbang Gedung Sate sudah lama tidak diperbarui, bahkan sempat mengalami kerusakan pasca aksi unjuk rasa.
- Identitas Visual: Gapura baru dengan sentuhan budaya Sunda, yang menurut ahli selaras dengan visi arsitek asli Gedung Sate (J. Gerber), dimaksudkan untuk memperkuat representasi visual identitas kekhasan Jawa Barat.
- Bukan Cagar Budaya: Pagar dan gapura yang direnovasi diklaim bukan bagian dari struktur asli masa kolonial dan bukan cagar budaya yang dilindungi.
Meski telah diberikan penjelasan, sindiran netizen yang membandingkan renovasi gapura dengan upaya penurunan angka pengangguran tetap menjadi sorotan utama, memicu perdebatan publik mengenai efisiensi dan alokasi anggaran daerah yang berpihak pada kepentingan masyarakat luas.***


























