Aceh Tengah, Mevin.ID — Di balik perbukitan terjal Aceh, ribuan warga Bener Meriah dan Aceh Tengah sedang menjalani hari-hari yang menguras tenaga dan harapan.
Pascabanjir bandang dan longsor yang melanda akhir November hingga awal Desember 2025, akses utama terputus total. Jembatan ambruk, ruas jalan nasional lumpuh. Pilihan pun menyempit hingga satu: berjalan kaki.
Anak-anak, lansia, hingga para kepala keluarga menantang medan berlumpur dan jalur pegunungan selama berjam-jam, bahkan puluhan kilometer, demi mendapatkan sembako dan BBM.
Mereka menyeberang ke wilayah tetangga seperti Aceh Utara atau Bireuen karena stok pangan di kampung halaman telah habis.
@mevin.idPascabanjir bandang dan longsor yang melanda akhir November hingga awal Desember 2025, akses utama terputus total. Jembatan ambruk, ruas jalan nasional lumpuh. Pilihan pun menyempit hingga satu: berjalan kaki. Anak-anak, lansia, hingga para kepala keluarga menantang medan berlumpur dan jalur pegunungan selama berjam-jam, bahkan puluhan kilometer, demi mendapatkan sembako dan BBM.
Di punggung seorang warga, sebuah karung bertuliskan kalimat sederhana namun mengguncang nurani: “Nggak jalan nggak makan.” Kalimat itu menjelma simbol perlawanan sunyi terhadap isolasi wilayah dan krisis pangan yang nyata.
Data di lapangan mencatat, sedikitnya 177 ribu warga di Bener Meriah dan Aceh Tengah terisolasi akibat putusnya jalur Bener Meriah–Lhokseumawe (jalur KKA) selama lebih dari dua pekan.
Distribusi logistik terhenti, BBM langka, dan dapur-dapur warga kehilangan isi. Tak ada pilihan lain selain menempuh perjalanan ekstrem, melintasi perbukitan terjal, aliran sungai, dan jalur licin yang berbahaya.
Pemerintah pusat melalui BNPB dan Kementerian Sosial telah menyalurkan bantuan logistik, makanan, serta BBM. Namun, distribusi ke wilayah yang masih terisolasi terkendala kerusakan infrastruktur.
Alat berat dikerahkan, jembatan darurat bailey disiapkan, dan perbaikan jalan dikebut untuk memulihkan konektivitas.
Di sisi lain, lahan pertanian warga ikut rusak, menambah bayang-bayang krisis pangan jangka panjang. Harapan kini bertumpu pada percepatan pemulihan akses jalan agar bantuan bisa menjangkau seluruh wilayah dan warga tak lagi mempertaruhkan keselamatan hanya untuk makan sehari-hari.
Bagi warga, setiap langkah kaki adalah pertaruhan. Setiap karung yang dipanggul adalah doa. Dan di tengah keterbatasan, mereka terus berjalan, sebab berhenti berarti kelaparan.***
Penulis : Bar Bernad


























