Nonghyup Cooperative Jadi Pilar Ekonomi Pertanian Korea Selatan

- Redaksi

Kamis, 16 Januari 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Agus Pakpahan, pakar ekonomi kelembagaan dan pertanian, Rektor Ikopin University

i

Agus Pakpahan, pakar ekonomi kelembagaan dan pertanian, Rektor Ikopin University

KOLOM Agus Pakpahan

 

NONGHYUP atau National Agricultural Cooperative Federation (NACF) didirikan pada tahun 1961 dengan tujuan utama untuk meningkatkan kondisi ekonomi petani Korea Selatan. Sejak berdiri Nonghyup telah memainkan peran kunci dalam memodernisasi sektor pertanian negara tersebut dan mendukung kesejahteraan anggotanya.

Nonghyup didirikan oleh Pemerintah Korea Selatan dan sekelompok petani. Saat ini, Nonghyup memiliki lebih dari 2,2 juta anggota yang terdiri dari petani dan produsen pertanian di seluruh negeri Korea Selatan.

Nonghyup memiliki struktur organisasi yang terdiri dari dewan direksi, komite eksekutif, dan berbagai divisi yang menangani aspek-aspek seperti keuangan, pemasaran, dan penelitian.

Organisasi ini dipimpin oleh seorang CEO yang bertanggung jawab atas pelaksanaan strategi dan kebijakan.

Kantor pusat Nonghyup berlokasi di Seoul, Korea Selatan. Nonghyup beroperasi di seluruh Korea Selatan, menyediakan layanan dan produk kepada petani di seluruh wilayah.

Produk utama yang diusahakan oleh Nonghyup meliputi beras, sayuran, buah-buahan, produk peternakan, dan produk olahan pertanian. Nonghyup juga menyediakan berbagai layanan keuangan dan asuransi untuk anggotanya.

Pada tahun 2023, Nonghyup melaporkan pendapatan sekitar USD 57 miliar (sekitar Rp 855 triliun) dan aset sekitar USD 450 miliar (sekitar Rp 6,750 triliun). Rasio Return on Assets (ROA) Nonghyup adalah sekitar 1.2%.

Beberapa tahun terakhir Nonghyup mengalami pertumbuhan yang stabil dalam pendapatan dan aset. Pertumbuhan ini didorong oleh diversifikasi produk dan peningkatan efisiensi operasional.

Nonghyup mengalokasikan sekitar 5% dari pendapatannya untuk penelitian dan pengembangan (R&D) serta pendidikan. Dana ini digunakan untuk mengembangkan teknologi pertanian baru dan meningkatkan keterampilan anggotanya.

Baca Juga : Koperasi Bisa Jauh Lebih Baik dari Perusahaan Besar seperti BUMN atau Swasta

Strategi pemasaran Nonghyup melibatkan pemasaran langsung kepada konsumen melalui pasar swalayan dan platform online. Nonghyup juga mempromosikan produk-produknya melalui kampanye pemasaran yang menekankan kualitas dan keaslian produk pertanian Korea.

Nonghyup berfokus pada inovasi teknologi dan peningkatan keberlanjutan dalam produksi pertanian. Tren masa depan termasuk adopsi teknologi pintar dan perluasan pasar internasional.

Dalam menjalankan operasional dan kajian pengembangan, Nonghyup menjalin kemitraan dengan berbagai perguruan tinggi dan lembaga riset untuk mengembangkan teknologi pertanian dan solusi inovatif. Kemitraan ini membantu meningkatkan produktivitas dan efisiensi pertanian.

Beberapa hasil inovasi produk Nonghyup termasuk pengembangan varietas baru tanaman yang tahan terhadap penyakit dan perubahan iklim, serta teknologi pemrosesan yang meningkatkan kualitas dan umur simpan produk pertanian.

Pemerintah Korea Selatan memberikan dukungan signifikan kepada Nonghyup melalui kebijakan dan regulasi yang mendukung. *

 

Agus Pakpahan, pakar ekonomi kelembagaan dan pertanian, Rektor Ikopin University

Facebook Comments Box

Editor : Ude D. Gunadi

Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ngayal Dapat THR 5 Juta dari “Pak Dedi”: Potret Jenaka di Balik Keringat Warga Tanpa THR
Negeri yang Kandas oleh Korupsi?
MBG: Mau Dibawa ke Mana? Ketika Program Mulia Bertemu Realitas Lapangan
Seri 3 – Tarif, Kuota, dan Realitas Baru Perdagangan Indonesia–Amerika
Tapanuli Tengah Resilience: Saat Kearifan Batak Menjadi Fondasi Bangkit dari Bencana
Jakarta di Tengah Riak Perang: Ketika Geopolitik Global Mengetuk Pintu Dapur Warga
Seri 2 – Tarif, Kuota, dan Realitas Baru Perdagangan Indonesia–Amerika
“Panen” OTT di Awal 2026, Bukti Kegagalan Regenerasi Integritas Kepala Daerah

Berita Terkait

Sabtu, 14 Maret 2026 - 12:12 WIB

Ngayal Dapat THR 5 Juta dari “Pak Dedi”: Potret Jenaka di Balik Keringat Warga Tanpa THR

Sabtu, 14 Maret 2026 - 10:03 WIB

Negeri yang Kandas oleh Korupsi?

Jumat, 13 Maret 2026 - 13:28 WIB

MBG: Mau Dibawa ke Mana? Ketika Program Mulia Bertemu Realitas Lapangan

Jumat, 13 Maret 2026 - 09:00 WIB

Seri 3 – Tarif, Kuota, dan Realitas Baru Perdagangan Indonesia–Amerika

Kamis, 12 Maret 2026 - 23:53 WIB

Tapanuli Tengah Resilience: Saat Kearifan Batak Menjadi Fondasi Bangkit dari Bencana

Berita Terbaru