BANDUNG, Mevin.ID – Menyeberangi Sungai Citarum di kawasan Dayeuhkolot kini bukan lagi sekadar rutinitas, melainkan pertaruhan nyawa.
Jembatan Dayeuhkolot, atau yang akrab disapa Sasak Geulis, kini berdiri renta dan bergetar hebat setiap kali kendaraan melintas di atasnya.
Warga menyebutnya sebagai “Monumen Kesabaran”. Namun, kesabaran itu tampaknya sudah mulai habis, terlihat dari deretan spanduk protes bernada satire yang menghiasi besi-besi tua jembatan sejak Jumat lalu.
Getaran yang Bikin Jantung Copot
Bagi Ahmad (54), warga asli setempat, kondisi jembatan saat ini sangat memprihatinkan. Ia mengenang masa kecilnya saat masih berani melompat dari jembatan ke sungai yang jernih. Kini, melihat truk lewat saja sudah membuatnya ngeri.
“Melihat getarannya saat truk lewat saja sudah membuat jantung saya mau copot,” keluhnya, Rabu (11/2/2026).
Keresahan serupa dirasakan Siti (42), warga Banjaran. Ia masih trauma setelah motornya nyaris terperosok ke lubang jembatan yang menganga setahun lalu. “Iya ada takut mah, makanya kadang suka minta anter,” tuturnya.
Anggaran 100 Miliar: Solusi atau Sekadar Janji?
Persoalan perbaikan jembatan ini sempat menjadi “bola panas” antara Pemerintah Kabupaten Bandung dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Bupati Bandung, Dadang Supriatna, mengaku fiskal daerahnya belum sanggup jika harus menanggung perbaikan total sendirian.
Namun, angin segar datang dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Melalui akun Instagram-nya, ia memastikan bahwa perbaikan Jembatan Sasak Geulis sudah dianggarkan pada tahun 2026 ini.
Ada dua skema yang sedang dipertimbangkan:
- Konsep Tanpa Peninggian: Estimasi anggaran sekitar Rp 60 miliar.
- Konsep Peninggian (Saran BBWS): Estimasi anggaran mencapai Rp 100 miliar.
Setengah Bagus, Setengah Renta
Sebagai informasi, perbaikan sebenarnya sudah dilakukan pada 2025 lalu, namun baru menyentuh bagian timur jembatan saja.
Alhasil, pemandangan kontras terlihat jelas: satu sisi nampak kokoh berwarna putih, sementara sisi barat (Sasak Geulis) masih dibiarkan meranggas dengan aspal terkelupas.
Kini, ribuan warga dari Dayeuhkolot, Baleendah, hingga Banjaran hanya bisa berharap janji anggaran 2026 ini segera terealisasi sebelum jembatan benar-benar ambruk.***
Editor : Bar Bernad
Sumber Berita: Kompas


























