GARUT, Mevin.ID – Jarum jam baru menunjukkan pukul 05.00 WIB. Langit di Kampung Citamiang, Desa Cikondang, Garut, masih pekat. Namun, bagi anak-anak sekolah dasar di sana, kegelapan bukan alasan untuk tetap meringkuk di balik selimut.
Sambil menenteng tas dan senter kecil, jemari mungil mereka sibuk memegang ponsel. Bukan untuk bermain game, melainkan untuk merekam sebuah “vlog perjuangan” yang ditujukan kepada orang nomor satu di Jawa Barat, Gubernur Dedi Mulyadi.
“Pak Dedi, pangalereskeun jalan abdi (Pak Dedi, tolong perbaiki jalan saya)…” ucap salah satu bocah dengan suara khas anak kecil yang polos, namun bergetar menahan dingin.
View this post on Instagram
Menembus Hutan dan Jalan Curam
Vlog yang mereka buat bukan sekadar konten media sosial. Itu adalah jeritan hati.
Sudah berbulan-bulan, tepatnya sejak November lalu, video-video serupa mereka unggah ke media sosial dengan harapan mendapat respons. Namun, hingga Januari 2026 ini, jawaban yang dinanti tak kunjung tiba.
Setiap hari, anak-anak ini harus berjalan kaki sejauh 3 kilometer menuju SDN Cikondang 1. Jalannya bukan aspal mulus, melainkan tanah merah yang licin dan bebatuan curam yang siap menggelincirkan kaki-kaki kecil mereka.
“Ya Allah, jam segini sudah pada berangkat. Kasihan anak-anak,” ujar Ai Anita (37), salah satu orang tua siswa yang suaranya terekam dalam video viral tersebut.
Tak hanya jalan yang rusak, mereka juga harus bertaruh nyawa menyeberangi jembatan gantung (rawayan) sepanjang 70 meter di atas Sungai Cisanggiri.
Kondisi jembatan itu sudah bolong-bolong. Jika salah injak, sungai deras di bawahnya siap menelan siapa saja.
Harapan pada Penerangan dan Aspal
Dalam vlog-vlog singkatnya, anak-anak ini selalu menyelipkan permintaan yang sederhana bagi anak kota, namun mewah bagi mereka: Jalan yang mulus dan lampu penerangan.
Tanpa lampu jalan, mereka harus menembus hutan yang gelap gulita. Seringkali, kabut tebal di wilayah Cisompet membuat jarak pandang hanya beberapa meter saja.
“Kami ingin berangkat sekolah dengan nyaman, Pak. Tidak takut jatuh, tidak takut gelap,” tutur salah satu siswa dalam rekaman videonya.
Mengapa Belum Ada Respon?
Meski video perjuangan mereka sudah berkali-kali viral dan memicu rasa iba netizen, bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat seolah masih jauh panggang dari api.
Harapan mereka kepada Dedi Mulyadi sangat besar, mengingat sang Gubernur dikenal sering turun langsung ke pelosok.
Bagi anak-anak Citamiang, setiap pagi adalah pertarungan antara nyali dan cita-cita. Mereka hanya ingin sekolah tanpa harus merasa seolah sedang melakukan ekspedisi berbahaya.
Kini, setiap subuh, vlog-vlog baru terus dibuat. Senter terus dinyalakan. Dan doa-doa kecil terus dipanjatkan agar suara mereka segera menembus dinding tebal birokrasi, sehingga impian melihat jalan mulus menuju sekolah bukan lagi sekadar bunga tidur.***
Penulis : Bar Bernad


























