Pakar ITB Jelaskan Mekanisme Longsor Cisarua: ‘Debris Flow’ Jadi Penghancur Apapun yang Dilintasi 

- Redaksi

Senin, 26 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BANDUNG, Mevin.ID – Bencana longsor yang melanda Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Sabtu (24/1/2026) dini hari, bukan sekadar akibat alih fungsi lahan.

Pakar geologi longsoran Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr.Eng. Imam Achmad Sadisun, S.T., M.T., menjelaskan peristiwa ini merupakan hasil interaksi kompleks faktor alam dan manusia yang membentuk aliran lumpur (mudflow) yang berbahaya.

Menurut Dr. Imam, wilayah KBB berada pada lingkungan geologi produk vulkanik tua dengan lapisan pelapukan tebal.

Batas antara tanah lapuk dan batuan dasar yang kedap air sering menjadi bidang gelincir, terutama saat hujan lama membuat tanah jenuh air.

“Ketika pori-pori tanah jenuh, kekuatan geser material lereng menurun drastis. Lereng bisa tidak lagi mampu menahan beratnya sendiri,” ujarnya.

Mekanisme: Longsoran di Hulu Picu Aliran Lumpur ke Hilir

Temuan penting menunjukkan adanya longsoran di hulu salah satu sungai di lereng selatan Gunung Burangrang.

Longsoran ini menutup alur sungai, membentuk bendungan alam (landslide dam) yang menahan air dan mengakumulasi sedimen seperti lumpur, pasir, dan batu. Saat bendungan jebol, terpiculah aliran lumpur deras ke hilir mengikuti jalur sungai.

“Rumah-rumah warga sebenarnya tidak longsor di lereng tempat mereka berdiri, tetapi terdampak material longsoran yang dikirim dari hulu melalui alur sungai,” jelas Dr. Imam.

Aliran ini, yang dapat dikategorikan sebagai debris flow (aliran bahan rombakan), membawa daya rusak tinggi karena muatan sedimennya besar, menyebabkan kerusakan parah di sepanjang bantaran sungai.

Peringatan Bahaya Susulan dan Pentingnya Mitigasi

Dr. Imam mengingatkan potensi bahaya susulan, mengingat masih adanya indikasi sumbatan di bagian hulu. Hujan dengan intensitas tinggi dapat kembali memicu jebolnya bendungan alam dan aliran lumpur baru.

Ia menekankan, kawasan sempadan sungai memerlukan kewaspadaan tinggi.

“Bahaya tidak selalu berasal dari lereng tempat rumah tersebut berada, tetapi bisa datang dari sistem aliran yang terhubung langsung dengan lereng terjal di bagian hulunya.”

Sebagai langkah mitigasi, Dr. Imam menyarankan tiga pendekatan: stabilisasi lereng di hulu, pemantauan jalur aliran dengan sensor dan kamera, serta pembangunan struktur penghalang seperti debris flow barrier atau catch basin di sepanjang jalur.

“Yang paling merusak bukan airnya, tetapi material sedimen yang terbawa. Sistem mitigasi perlu difokuskan pada pengendalian sedimennya,” tegasnya.

Masyarakat juga diminta mewaspadai tanda alam, seperti surutnya aliran sungai secara tiba-tiba saat hujan lebat, yang dapat mengindikasikan adanya sumbatan di hulu.

Melalui pemaparan ini, diharapkan pemahaman publik mengenai bahaya longsor tidak terbatas pada runtuhnya lereng, tetapi juga mencakup risiko aliran material dari hulu yang dapat mengancam permukiman di hilir.***

Facebook Comments Box

Editor : Atep K

Sumber Berita: ITB

Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Nasib Pilu Petani Cikarang Selatan, Sawah Terancam Digusur Rusun, “Kang Dedi, Ieu Pare Encan Panen Geus Di-Doser!”
Perkuat Perlindungan Pekerja, BPJS Ketenagakerjaan Bekasi Kota Ajak Perusahaan Kolaborasi Lewat Forum Komunikasi
Polda Jabar Musnahkan Barang Bukti Kejahatan: Puluhan Kilo Sabu hingga Ribuan Knalpot Brong
Buntut Mobil Dinas ‘Nakal’ Ganti Plat di Tuban, Pertamina Sanksi Tegas SPBU Latsari
Tragedi Ledakan Petasan di Situbondo: Rumah Rata dengan Tanah, 1 Tewas dan 6 Luka-Luka
Semangat Toleransi di Kelenteng Hok Lay Kiong: Mas Tri dan Istri Rayakan Imlek Bersama Warga
Sinergi Membangun Kota: Kang Dedi Mulyadi dan Mas Tri Resmikan Ruang Terbuka Publik Padurenan
Gerak Cepat Bupati Eman Suherman Tinjau Lokasi Tanah Bergerak di Malausma, Siapkan Relokasi.

Berita Terkait

Rabu, 18 Februari 2026 - 22:33 WIB

Nasib Pilu Petani Cikarang Selatan, Sawah Terancam Digusur Rusun, “Kang Dedi, Ieu Pare Encan Panen Geus Di-Doser!”

Rabu, 18 Februari 2026 - 22:30 WIB

Perkuat Perlindungan Pekerja, BPJS Ketenagakerjaan Bekasi Kota Ajak Perusahaan Kolaborasi Lewat Forum Komunikasi

Rabu, 18 Februari 2026 - 20:30 WIB

Polda Jabar Musnahkan Barang Bukti Kejahatan: Puluhan Kilo Sabu hingga Ribuan Knalpot Brong

Rabu, 18 Februari 2026 - 18:42 WIB

Buntut Mobil Dinas ‘Nakal’ Ganti Plat di Tuban, Pertamina Sanksi Tegas SPBU Latsari

Rabu, 18 Februari 2026 - 18:25 WIB

Tragedi Ledakan Petasan di Situbondo: Rumah Rata dengan Tanah, 1 Tewas dan 6 Luka-Luka

Berita Terbaru