JAKARTA, Mevin.ID – Pemutakhiran data seismik nasional mengungkap fakta baru yang mengkhawatirkan. Titik tekan di zona megathrust Indonesia dilaporkan mengalami pergeseran, dengan akumulasi energi yang signifikan ditemukan di area yang sebelumnya dianggap kurang aktif.
Peringatan ini disampaikan oleh Profesor Kosuke Heki dari Hokkaido University, Jepang, yang kini tengah melakukan riset mendalam bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Kemiripan dengan Nankai Trough Jepang
Prof. Heki menilai karakter geologi zona subduksi Indonesia memiliki kemiripan yang kuat dengan Nankai Trough di Jepang—salah satu kawasan megathrust paling aktif dan berbahaya di dunia.
Ia menyoroti adanya fenomena kopling seismik di mana lempeng-lempeng tektonik saling mengunci dan terus mengakumulasi regangan untuk dilepaskan sebagai gempa besar di masa depan.
“Bahkan di bagian batas lempeng yang sangat dangkal, regangan terus terakumulasi untuk gempa berikutnya,” jelas Heki dalam keterangannya di BRIN.
Peta Potensi Bahaya: Aceh Hingga Jawa
Berdasarkan data terbaru, beberapa wilayah di Indonesia mencatatkan potensi magnitudo (M) yang sangat besar jika energi tersebut lepas secara bersamaan:
|
Wilayah Megathrust |
Potensi Magnitudo Maksimum |
|---|---|
|
Aceh-Andaman |
M 9,2 |
|
Pulau Jawa |
M 9,1 |
|
Mentawai-Siberut |
M 8,9 |
|
Mentawai-Pagai |
M 8,9 |
|
Enggano |
M 8,9 |
Waspada ‘Seismic Gap’ di Selat Sunda dan Mentawai
BMKG sebelumnya juga telah memberikan atensi khusus pada dua zona yang berada dalam kondisi seismic gap (daerah aktif namun sudah lama tidak terjadi gempa besar), yaitu Selat Sunda dan Mentawai-Siberut.
Dua wilayah ini tercatat belum melepaskan energi besarnya selama ratusan tahun:
- Selat Sunda: Terakhir melepaskan energi besar pada tahun 1757.
- Mentawai-Siberut: Terakhir mengalami gempa dahsyat pada tahun 1797.
Teknologi Jadi Kunci Mitigasi
Prof. Heki menekankan pentingnya penguatan jaringan Global Navigation Satellite System (GNSS) dan teknologi pemantauan dasar laut bagi Indonesia.
Teknologi ini mampu membaca pergeseran lambat (slow slip event) yang seringkali menjadi indikator awal sebelum gempa besar terjadi.
Pesan Penting BMKG: BMKG menegaskan istilah “menunggu waktu” bukan berarti gempa akan terjadi dalam waktu dekat secara pasti.
Istilah tersebut merujuk pada fakta bahwa akumulasi energi masih tersimpan karena jeda waktu yang sudah sangat lama sejak gempa besar terakhir.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada namun tidak panik, serta fokus pada langkah-langkah mitigasi bangunan tahan gempa.***
Editor : Bar Bernad
Sumber Berita: CNBC Indonesia


























