Pakar Jepang Soroti Pergeseran Megathrust RI: Energi Terkunci, Potensi Gempa Hingga M 9,2 Menanti

- Redaksi

Minggu, 1 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi gempa Megathrust segmen Sumatera dan Selatan Jawa. (Dok. Jurnal On the potential for megathrust earthquakes and tsunamis off the southern coast of West Java and southeast Sumatra, Indonesia)

Ilustrasi gempa Megathrust segmen Sumatera dan Selatan Jawa. (Dok. Jurnal On the potential for megathrust earthquakes and tsunamis off the southern coast of West Java and southeast Sumatra, Indonesia)

JAKARTA, Mevin.ID – Pemutakhiran data seismik nasional mengungkap fakta baru yang mengkhawatirkan. Titik tekan di zona megathrust Indonesia dilaporkan mengalami pergeseran, dengan akumulasi energi yang signifikan ditemukan di area yang sebelumnya dianggap kurang aktif.

Peringatan ini disampaikan oleh Profesor Kosuke Heki dari Hokkaido University, Jepang, yang kini tengah melakukan riset mendalam bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Kemiripan dengan Nankai Trough Jepang

Prof. Heki menilai karakter geologi zona subduksi Indonesia memiliki kemiripan yang kuat dengan Nankai Trough di Jepang—salah satu kawasan megathrust paling aktif dan berbahaya di dunia.

Ia menyoroti adanya fenomena kopling seismik di mana lempeng-lempeng tektonik saling mengunci dan terus mengakumulasi regangan untuk dilepaskan sebagai gempa besar di masa depan.

“Bahkan di bagian batas lempeng yang sangat dangkal, regangan terus terakumulasi untuk gempa berikutnya,” jelas Heki dalam keterangannya di BRIN.

Peta Potensi Bahaya: Aceh Hingga Jawa

Berdasarkan data terbaru, beberapa wilayah di Indonesia mencatatkan potensi magnitudo (M) yang sangat besar jika energi tersebut lepas secara bersamaan:

Wilayah Megathrust

Potensi Magnitudo Maksimum

Aceh-Andaman

M 9,2

Pulau Jawa

M 9,1

Mentawai-Siberut

M 8,9

Mentawai-Pagai

M 8,9

Enggano

M 8,9

Waspada ‘Seismic Gap’ di Selat Sunda dan Mentawai

BMKG sebelumnya juga telah memberikan atensi khusus pada dua zona yang berada dalam kondisi seismic gap (daerah aktif namun sudah lama tidak terjadi gempa besar), yaitu Selat Sunda dan Mentawai-Siberut.

Dua wilayah ini tercatat belum melepaskan energi besarnya selama ratusan tahun:

  • Selat Sunda: Terakhir melepaskan energi besar pada tahun 1757.
  • Mentawai-Siberut: Terakhir mengalami gempa dahsyat pada tahun 1797.

Teknologi Jadi Kunci Mitigasi

Prof. Heki menekankan pentingnya penguatan jaringan Global Navigation Satellite System (GNSS) dan teknologi pemantauan dasar laut bagi Indonesia.

Teknologi ini mampu membaca pergeseran lambat (slow slip event) yang seringkali menjadi indikator awal sebelum gempa besar terjadi.

Pesan Penting BMKG: BMKG menegaskan istilah “menunggu waktu” bukan berarti gempa akan terjadi dalam waktu dekat secara pasti.

Istilah tersebut merujuk pada fakta bahwa akumulasi energi masih tersimpan karena jeda waktu yang sudah sangat lama sejak gempa besar terakhir.

Masyarakat diimbau untuk tetap waspada namun tidak panik, serta fokus pada langkah-langkah mitigasi bangunan tahan gempa.***

Facebook Comments Box

Editor : Bar Bernad

Sumber Berita: CNBC Indonesia

Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penjelasan tentang KHGT sebagai Pedoman Muhammadiyah Tentukan Awal Ramadan 1447 H
Kisah Pilu Norida Akmal Ayob: 18 Tahun Hidup Sengsara di Lombok, Akhirnya Dijemput Pulang ke Malaysia
Hilal Masih di Bawah Ufuk, Kemenag Prediksi 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada Kamis 19 Februari
Survei Indikator: Warga Jabar Puas Infrastruktur, Tapi Keluhkan Akses Modal Ekonomi.
Gagalkan Penjualan Orang ke Arab Saudi, Satgas P2MI Projo Apresiasi Penyelamatan 11 Calon Pekerja Migran
Tok! Kemenag Gelar Sidang Isbat Hari Ini, Prediksi Awal Puasa Jatuh pada 19 Februari 2026
Prediksi BRIN: Awal Ramadan 2026 Berpotensi Berbeda Karena Faktor Hilal Global vs Lokal
‘Tembok Ratapan Solo’ Tandai Rumah Jokowi di Google Maps: Sekedar Iseng atau Nyata?

Berita Terkait

Selasa, 17 Februari 2026 - 23:00 WIB

Penjelasan tentang KHGT sebagai Pedoman Muhammadiyah Tentukan Awal Ramadan 1447 H

Selasa, 17 Februari 2026 - 21:42 WIB

Kisah Pilu Norida Akmal Ayob: 18 Tahun Hidup Sengsara di Lombok, Akhirnya Dijemput Pulang ke Malaysia

Selasa, 17 Februari 2026 - 18:58 WIB

Hilal Masih di Bawah Ufuk, Kemenag Prediksi 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada Kamis 19 Februari

Selasa, 17 Februari 2026 - 16:27 WIB

Survei Indikator: Warga Jabar Puas Infrastruktur, Tapi Keluhkan Akses Modal Ekonomi.

Selasa, 17 Februari 2026 - 11:24 WIB

Gagalkan Penjualan Orang ke Arab Saudi, Satgas P2MI Projo Apresiasi Penyelamatan 11 Calon Pekerja Migran

Berita Terbaru