PANDEGLANG, Mevin.ID – Cuaca ekstrem yang melanda wilayah Banten sejak Minggu (11/1/2026) mulai memakan korban. Hujan dengan intensitas tinggi yang tak kunjung reda memicu luapan sejumlah sungai besar di Kabupaten Pandeglang, menyebabkan 14 desa di enam kecamatan terendam banjir, Senin (12/1/2026).
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD-PK) Pandeglang, wilayah yang terdampak meliputi Kecamatan Patia, Sumur, Labuan, Cikeusik, Panimbang, dan Sukaresmi.
Patia Jadi Titik Terparah
Kecamatan Patia menjadi wilayah dengan dampak kerusakan paling signifikan.
Dari 10 desa yang ada di kecamatan tersebut, tujuh di antaranya terendam banjir. Luapan Sungai Cilemer, Sungai Cisata, dan Sungai Cikadul menjadi penyebab utama bah ini.
Camat Patia, Supratman, mengungkapkan bahwa Desa Idaman adalah lokasi dengan kondisi paling kritis.
- Ketinggian Air: Mencapai 1 meter (setinggi pinggang hingga dada orang dewasa).
- Warga Terdampak: Sekitar 422 KK atau ribuan jiwa kini berjuang di tengah kepungan air.
- Rumah Terendam: Kurang lebih 400 unit rumah warga kemasukan air.
“Ini adalah banjir kedua yang melanda Patia dalam satu bulan terakhir. Lokasi kami memang dataran rendah yang menjadi titik temu limpahan air dari berbagai sungai,” ujar Supratman.
BPBD Fokus pada Evakuasi dan Logistik
Kepala Seksi Strategi dan Pengendalian Operasi BPBD-PK Pandeglang, Deni Musadad, menyatakan bahwa Tim Reaksi Cepat (TRC) tengah diterjunkan ke titik-titik krusial untuk melakukan asesmen dan validasi data warga terdampak.
“Fokus penanganan darurat saat ini dipusatkan di Desa Idaman. Kami mengimbau warga tetap waspada karena BMKG memprediksi cuaca ekstrem ini masih berpotensi terjadi hingga Februari mendatang,” jelas Deni.
Daftar Desa Terdampak di Kecamatan Patia:
- Desa Idaman (Terparah)
- Desa Ciawi
- Desa Surianeun
- Desa Pasir Gadung
- Desa Patia
- Desa Cimoyan
- Desa Babakankeusik
Hingga berita ini diturunkan, warga di bantaran sungai mulai mengungsikan barang-barang berharga mereka ke tempat yang lebih tinggi.
Pemerintah daerah terus menyiagakan personel di lapangan mengingat potensi kenaikan debit air yang bisa terjadi sewaktu-waktu.***
Editor : Bar Bernad


























