Bogor, Mevin.ID — Pemilihan Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UBSI Bogor kembali membuka diskusi lama yang kerap luput dibahas secara serius: budaya seremonial dalam organisasi mahasiswa.
Di tengah kontestasi tersebut, calon presiden BEM nomor urut 2 Ahmad Robani secara terbuka mengkritik praktik BEM yang terlalu sibuk pada agenda simbolik, namun minim dampak substantif bagi mahasiswa.
Robani menilai, organisasi mahasiswa saat ini cenderung terjebak pada rutinitas kegiatan formal—rapat, pelantikan, dan acara seremoni—tanpa keberanian mengambil peran advokatif yang menyentuh persoalan nyata mahasiswa.
“BEM sering terlihat aktif, tetapi keaktifannya berhenti pada acara. Padahal mahasiswa membutuhkan pembelaan, ruang aspirasi, dan keberanian sikap,” kata Robani.
Menurutnya, budaya seremonial bukan sekadar soal format kegiatan, melainkan persoalan orientasi gerakan. Ketika energi organisasi habis untuk agenda simbolik, BEM kehilangan fungsi utamanya sebagai representasi suara mahasiswa dan pengontrol kebijakan kampus.
Sebagai tawaran alternatif, Robani mengusung gagasan transformasi BEM menjadi organisasi yang berbasis kerja nyata dan partisipasi.
Salah satunya melalui Lapor Mas BEM, kanal pengaduan dan aspirasi mahasiswa yang dirancang agar keluhan tidak berhenti di forum informal, tetapi diolah menjadi sikap organisasi.
Ia juga menekankan pentingnya membangun solidaritas internal melalui program Ashory, serta membuka ruang aktualisasi mahasiswa lewat UBSICUP. Sementara UBSICOM disiapkan sebagai media komunikasi terbuka agar aktivitas BEM lebih transparan dan akuntabel.
Lebih jauh, Robani menilai budaya seremonial kerap membuat organisasi mahasiswa menjauh dari realitas sosial. Padahal, sejarah gerakan mahasiswa selalu lahir dari keberpihakan pada isu-isu publik dan ketidakadilan struktural.
“BEM harus berani keluar dari zona nyaman. Mahasiswa tidak hanya dituntut hadir di aula, tetapi juga peka terhadap problem sosial di sekitarnya,” ujarnya.
Dalam pandangan Robani, pemilihan Presiden BEM UBSI Bogor seharusnya menjadi momentum koreksi arah gerakan mahasiswa. Bukan sekadar pergantian kepemimpinan, tetapi juga perubahan paradigma dari simbolik menuju substansi.
Pemilu BEM, dengan demikian, menjadi ruang pertarungan gagasan: apakah organisasi mahasiswa akan terus bertahan dalam budaya seremonial, atau bertransformasi menjadi kekuatan advokatif yang relevan dan berintegritas.***
Penulis : Ajuanda


























