DESA Eretan Wetan di pesisir Kabupaten Indramayu telah lebih dari satu dekade menghadapi banjir rob yang terus-menerus.
Fenomena ini bukan sekadar bencana musiman, tetapi krisis ekologis yang berkepanjangan—menggerus ruang hidup warga, merusak infrastruktur dasar, menurunkan produktivitas ekonomi, dan mengubah struktur sosial masyarakat.
Dalam kondisi seperti ini, program pemberdayaan masyarakat dan pemulihan lingkungan bukan hanya kebutuhan, tetapi menjadi fondasi utama untuk memulihkan ketahanan desa dan memastikan keberlanjutan kehidupan generasi selanjutnya.
3000 Kepala keluarga atau sekitar 12. 000 orang lebih yang selama dua dekade berhadapan dengan ancaman yang mengancam keselamatan dan keberlangsungan hidupnya.
Untuk itu menjadi penting ada Upaya yang mendorong terwujudnya ketanggungan Masyarakat dalam menghadapi ancaman seringa dapat mengurangai factor kerentanan, dan cepat pulih Kembali apabila terjadi suatu bencana .
Rob dan Kemerosotan Kehidupan Sosial-Ekonomi
Banjir rob berkepanjangan telah menyebabkan berbagai dampak serius:
- Kehilangan lahan permukiman dan tambak akibat intrusi air laut.
- Kerusakan rumah, jalan desa, sarana pendidikan, dan fasilitas publik.
- Menurunnya pendapatan nelayan dan petambak.
- Perubahan struktur sosial dan meningkatnya kerentanan kelompok rentan.
Mengapa Pemberdayaan Masyarakat Menjadi Kunci?
Upaya penanganan rob tidak bisa hanya mengandalkan proyek fisik.
Pemberdayaan masyarakat meliputi peningkatan kapasitas warga, penguatan kelembagaan desa, dan pengorganisasian partisipasi warga.
Peran Strategis Anak Muda dan Kelompok Perempuan
Kelompok Anak muda:
Pemanfaatan media sosial untuk kampanye lingkungan.
- Dokumentasi dan storytelling digital.
- Terlibat dalam pemetaan partisipatif dan kegiatan pemulihan lingkungan.
Kelompok perempuan:
- PKK dan Posyandu sebagai garda terdepan program kesehatan keluarga.
- Penguatan ekonomi rumah tangga dan jaringan sosial.
- Peran penting dalam bank sampah, dapur umum, edukasi lingkungan.
Pemulihan Lingkungan sebagai Strategi Ketahanan
Langkah-langkah:
- Rehabilitasi mangrove.
- Pengelolaan air berbasis ekologi.
- Nature-based solutions.
- Pendidikan lingkungan untuk warga dan generasi muda.
Membangun Tata Kelola Lingkungan Berbasis Komunitas
Struktur tata kelola:
- Forum Pengelolaan Lingkungan Desa.
- Integrasi isu rob dan perubahan iklim dalam RPJMDes.
- Perencanaan partisipatif melibatkan anak muda dan perempuan.
- Sistem Informasi Desa berbasis lingkungan.
- Skema pembiayaan kolaboratif.
Membangun tata Kelola perekonomi berbasis Masyarakat :
Ada beberapa hal penting yang perlu menjadi landasan:
1. Pemetaan ulang sumber penghidupan dan potensi desa
Memetakan kondisi nelayan, petambak, UMKM, kelompok perempuan, dan anak muda untuk mengetahui peluang dan hambatan nyata.
2. Penguatan kelembagaan ekonomi desa
Melalui revitalisasi BUMDes atau pembentukan Forum Ekonomi Desa yang melibatkan perempuan, anak muda, nelayan, dan pemerintah desa.
3. Menentukan fokus ekonomi desa
Fokus pemberdayaan ekonomi harus diputuskan untuk keberlanjutan ekonomi warga.
4. Menetapkan Produk Unggulan
Produk unggulan harus diputuskan bersama, seperti olahan ikan, ekowisata pesisir, mangrove, UMKM perempuan, dan ekonomi kreatif anak muda.
5. Pelibatan aktif perempuan dan anak muda
Perempuan memiliki kekuatan dalam UMKM, pengolahan hasil laut, bank sampah, serta jaringan PKK/Posyandu yang solid.
Anak muda memiliki kemampuan digital, dokumentasi, dan promosi melalui media sosial—modal sosial besar untuk branding desa.
6. Pemulihan lingkungan sebagai dasar pemulihan ekonomi
Rehabilitasi mangrove, perbaikan tambak, dan adaptasi pesisir berbasis alam harus berjalan paralel agar ekonomi pesisir kembali stabil.
***
Desa Eretan Wetan memiliki modal sosial yang luar biasa: anak muda kreatif dan perempuan yang menjadi penopang ketahanan keluarga.
Dengan pemberdayaan inklusif, pemulihan lingkungan, dan tata kelola komunitas, Eretan Wetan dapat bangkit menjadi desa pesisir yang tangguh dan berkelanjutan.***
Dadang Sudardja: Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim – Nahdlatul Ulama Jawa Barat (LPBI PW NU – JABAR), Ketua Dewan Nasional WALHI Periode 2012 – 2016, Direktur Yayasan Sahabat Nusantara, Anggota Dewan Sumberdaya Air Jawa Barat, Anggot Dewan Pakar Forum POSGAB, Pegiat lingkungan dan bencana
Penulis : Dadang Sudardja


























