DI SEBUAH pondok kecil di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, waktu seolah berhenti pada sebuah Kamis yang kelam.
Tidak ada suara tawa anak-anak, yang ada hanyalah tangisan yang menyesakkan.
YBS, seorang bocah berusia 10 tahun, baru saja kalah dalam “pertarungan” yang seharusnya tidak pernah ia hadapi: pertarungan melawan kemiskinan yang merampas haknya untuk sekadar memiliki alat tulis.
Tragedi ini meledak menjadi luka nasional bukan hanya karena kepergiannya, melainkan karena alasan di baliknya yang sangat remeh namun mematikan: keputusasaan karena tak mampu membeli buku dan pena seharga Rp 10.000.

“Kertas Tii Mama Reti”: Sebuah Warisan Luka
Sebelum tubuh kecilnya ditemukan di dahan pohon cengkih, YBS meninggalkan sebuah “warisan” terakhir yang jauh lebih menyakitkan daripada buku tulis yang tak mampu ia beli.
Ia meninggalkan selembar kertas berisi tulisan tangan dalam bahasa daerah Ngada yang kini viral, menjadi saksi bisu betapa dewasanya luka yang ia pendam.
“Kertas Tii Mama Reti” — Surat untuk Mama Reti.
Dengan jemari yang mungkin gemetar, ia menggoreskan pesan perpisahan: “Mama Galo Zee” (Mama, saya pergi dulu). Di usia yang baru menginjak kelas IV SD, YBS tidak hanya meminta ibunya merelakan kepergiannya, tetapi juga memohon agar sang ibu tidak lagi menangisinya: “Galo mata Mae Rita ee Mama”.
Di akhir surat itu, ia membubuhkan sebuah simbol yang menghancurkan hati siapa pun yang melihatnya: gambar sketsa wajah yang sedang menangis.
Gambar itu adalah potret jujur dari seorang anak yang tidak tahu lagi bagaimana cara menjelaskan rasa sakitnya kepada dunia, selain dengan tinta terakhir yang ia miliki.
Memikul Beban Dunia di Bahu Bocah
Kita sering berkata bahwa anak-anak adalah harapan bangsa. Namun, kasus YBS menunjukkan betapa kejamnya realita bagi mereka yang berada di garis kemiskinan ekstrem.
Sebagai anak dari seorang janda buruh serabutan dengan lima bersaudara, YBS dipaksa dewasa sebelum waktunya.
Permintaannya akan uang Rp 10.000 bukanlah sebuah rengekan manja, melainkan kebutuhan dasar untuk bertahan di sekolah.
Ketika jawaban yang diterima adalah “tidak ada uang”, dunia kecilnya runtuh. Ia kemungkinan besar merasa kehadirannya adalah beban tambahan bagi ibunya.
Saat ia menulis “Molo Mama” (Selamat tinggal, Mama), ia seolah-olah sedang mencoba menghapus satu beban dari pundak ibunya yang sudah terlalu berat.
Tamparan bagi Janji Negara
Kematian YBS dan surat wasiatnya adalah “Laporan Pertanggungjawaban” paling jujur atas kegagalan kita sebagai bangsa.
Konstitusi kita dengan tegas menyatakan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Namun, apa kenyataannya?
Ternyata Pendidikan (Tidak) Gratis, kita membanggakan sekolah gratis, namun abai bahwa biaya penunjang—seperti pena dan buku—tetap menjadi tembok raksasa.
Bagi keluarga miskin, uang sepuluh ribu rupiah adalah pilihan antara perut yang lapar atau pendidikan yang berlanjut.
Absennya Jaring Pengaman negara, mengapa beban mental seorang anak kelas IV SD bisa luput dari pengawasan guru, lingkungan, desa, kecamatan, kabupaten/kota dan pemerintah provinsi?
Kemiskinan bukan hanya soal ekonomi, tapi soal martabat yang perlahan terkikis hingga seorang anak merasa nyawanya tak lebih berharga dari sebuah pena.
Jangan Biarkan Pena Itu Patah Lagi
Surat untuk Mama Reti adalah alarm yang memekakkan telinga. Negara tidak boleh hanya hadir untuk berbela sungkawa atau memberikan bantuan tunai saat nyawa sudah melayang.
Kita butuh jaring pengaman sosial yang menyentuh hingga ke pelosok Ngada, memastikan tidak ada lagi anak yang merasa sendirian memikul beban hidup.
Pena itu seharusnya digunakan untuk menulis cita-cita, bukan untuk menulis surat perpisahan.
Jangan biarkan gambar wajah menangis dalam surat YBS menjadi simbol abadi kegagalan pendidikan kita.
Sudah saatnya kita memastikan bahwa pendidikan benar-benar menjadi tangga untuk keluar dari kemiskinan, bukan justru menjadi tali yang mencekik harapan.***
Penulis : Bar Bernad


























