Bandung, Mevin.ID — Penanganan banjir Bandung Raya 2026 bukan lagi soal teknis pengerukan sungai atau menambah pompa. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi membawa isu ini ke akar paling sensitif: pertarungan kepentingan di kawasan hulu, dari perkebunan sayur, wisata, hingga permukiman yang tumbuh tanpa kendali.
Alih fungsi lahan, kata Dedi, adalah sumber kerusakan terbesar yang selama bertahun-tahun dibiarkan. Perubahan kebun teh dan hutan menjadi perkebunan sayur—yang akarnya tidak kuat menahan tanah—telah mempercepat sedimentasi dan memperbesar volume air yang meluncur ke Sungai Citarum.
“Ini dampak dari apa yang saudara lakukan,” tegas Dedi, menyoroti temuan alih fungsi seluas 160 hektare. Ia mendorong penegakan hukum bagi pelakunya.
Ekspansi Wisata: Ketika Resapan Air Berubah Jadi Beton
Dedi juga menyinggung satu isu yang kerap luput: ledakan industri wisata di Ciwidey, Pangalengan, hingga Kertasari. Kafe-kafe, glamping, dan vila tumbuh cepat, sering tanpa memikirkan daya dukung lingkungan.
Ruangan yang seharusnya menjadi resapan berubah menjadi bangunan permanen. Alam yang ditekan akhirnya “menagih piutang” dalam bentuk banjir berulang di Kabupaten Bandung.
Penataan Ulang yang Tak Akan Populer
Dedi mengakui langkah Pemprov Jabar akan menimbulkan resistensi, terutama dari:
- pelaku wisata,
- petani sayuran di lahan non-peruntukan,
- pemilik permukiman di sempadan sungai,
- serta pihak yang selama ini menikmati “ekonomi gunung” tanpa aturan jelas.
Namun, ia menegaskan penataan tidak bisa lagi ditunda.
“Kalau ingin penyelesaian komprehensif, penataan harus dilakukan sekarang. Meski memicu reaksi di musim kemarau, langkah ini wajib ditempuh.”
Rencana Besar: Mengembalikan Bandung Raya ke Bentuk Alamnya
Agenda penanganan yang ia dorong mencakup:
- mengembalikan fungsi ruang hijau,
- menghentikan alih fungsi perkebunan teh,
- menanam kembali kawasan pegunungan,
- normalisasi dan pengerukan sungai secara menyeluruh,
- pembangunan bendungan Kertasari sebagai penahan debit arus dari hulu,
- serta menghidupkan kembali danau-danau kecil yang hilang tertelan permukiman dan bisnis.
Bandung Raya Harus Memilih
Bandung Raya dihadapkan pada dua opsi:
- menyentuh kepentingan ekonomi yang selama ini tak tersentuh, atau
- menerima banjir sebagai “kenormalan baru” setiap tahun.
Dedi Mulyadi memilih opsi pertama—meski ia tahu reaksinya tidak akan ringan.***


























