INDONESIA dikenal sebagai negeri yang indah dan subur, namun di balik keindahan itu tersembunyi risiko besar. Negara ini berada di kawasan Cincin Api Pasifik dengan 127 gunung api aktif, rawan gempa, tsunami, banjir, longsor, hingga kebakaran hutan.
Sayangnya, kesadaran masyarakat terhadap risiko bencana masih rendah, termasuk di kalangan anak-anak — padahal mereka adalah kelompok paling rentan saat bencana terjadi.
Salah satu penyebab rendahnya kesiapsiagaan masyarakat adalah minimnya pendidikan kebencanaan sejak usia dini. Padahal, pendidikan kebencanaan bukan sekadar teori tentang gempa atau banjir, tetapi proses pembentukan karakter tangguh dan sadar risiko.
Sekolah di Zona Bahaya
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menunjukkan bahwa sebagian besar satuan pendidikan di Indonesia berada di kawasan rawan bencana.
- Lebih dari 400.000 sekolah berada di zona rawan gempa.
- Sekitar 200.000 sekolah rawan banjir, dan puluhan ribu lainnya terancam longsor atau tsunami.
- Terdapat lebih dari 25 juta siswa dan 1,5 juta guru yang bersekolah di wilayah dengan tingkat risiko sedang hingga tinggi.
Selama 15 tahun terakhir, tercatat lebih dari 15.000 satuan pendidikan terdampak bencana, dengan sekitar 12 juta siswa mengalami dampak langsung maupun tidak langsung.
Contoh terbaru adalah gempa Cianjur tahun 2022. Bencana ini merusak 524 satuan pendidikan dan menewaskan 31 siswa. Angka tersebut menggambarkan betapa rentannya sekolah terhadap bencana, terutama di daerah dengan risiko tinggi.
Kondisi Pendidikan Kebencanaan di Indonesia
Pemerintah sebenarnya telah berupaya melalui program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Program ini bertujuan membangun budaya aman di sekolah melalui tiga pilar utama: fasilitas sekolah aman, manajemen bencana di sekolah, dan pendidikan pengurangan risiko bencana (PRB).
Namun, implementasinya masih terbatas. Banyak sekolah belum memiliki peta risiko, SOP evakuasi, maupun latihan kebencanaan rutin.
Kurikulum PRB pun belum terintegrasi secara merata di seluruh jenjang pendidikan. Akibatnya, kesiapsiagaan siswa dan guru masih bergantung pada pengalaman, bukan pada sistem yang terencana.
Belajar dari Jepang
Berbeda dengan Indonesia, Jepang telah menjadikan pendidikan kebencanaan sebagai bagian integral dari sistem pendidikan nasional.
Sejak taman kanak-kanak, anak-anak diajarkan tentang potensi ancaman di sekitar mereka — gempa bumi, kebakaran, atau tsunami — serta langkah penyelamatan diri.
Latihan evakuasi dilakukan secara berkala, bahkan beberapa sekolah memiliki ruang perlindungan khusus. Setiap siswa tahu cara berlindung di bawah meja, menutup kepala, dan berjalan tertib menuju titik evakuasi. Guru dan orang tua dilibatkan dalam setiap latihan.
Pemerintah Jepang juga memiliki SOP manajemen bencana sekolah yang komprehensif: mulai dari panduan kesiapsiagaan, sistem peringatan dini, manajemen krisis, hingga rencana pemulihan pascabencana.
Semua itu bukan sekadar prosedur administratif, tetapi telah menjadi budaya hidup.
Perbandingan: Indonesia vs Jepang dalam Pendidikan Kebencanaan
| Indonesia | Jepang |
| Kebijakan Nasional Ada (SPAB & UU No. 24/2007), namun belum merata implementasinya. | Di Jepang Terintegrasi penuh dalam sistem pendidikan nasional. |
| Latihan Kebencanaan Tidak rutin, bahkan ada yang sama sekali belum pernah | Di Jepang Dilakukan berkala dan menjadi bagian dari rutinitas sekolah. |
| Sarana dan SOP Sekolah. Banyak sekolah belum punya peta risiko dan rencana evakuasi. | Di Jepang Setiap satuan Pendidikan haraus memiliki peta risiko rencana kontihensi dan sop evakuasi, |
| Pelibatan Komunitas Terbatas, tergantung inisiatif lokal | Melibatkan keluarga, komunitas, dan pemerintah lokal. |
| Budaya Siaga Bencana Belum menjadi kebiasaan hidup | Di Jepang Menjadi bagian dari karakter dan pendidikan moral anak. |
Menanamkan Kesadaran Sejak Dini
Pendidikan kebencanaan bukan untuk menakut-nakuti anak, melainkan untuk menumbuhkan kesadaran, keberanian, dan empati.
Anak-anak yang belajar tentang risiko sejak dini akan tumbuh menjadi generasi yang tangguh dan peduli terhadap lingkungan.
Guru dan orang tua memiliki peran penting dalam proses ini. Di rumah, anak-anak bisa diajak mengenali risiko di sekitar tempat tinggal dan cara menyelamatkan diri.
Di sekolah, guru dapat mengintegrasikan materi kebencanaan ke dalam pelajaran IPA, IPS, atau PPKn. Dengan cara itu, kesiapsiagaan menjadi bagian dari pembelajaran sehari-hari, bukan hanya kegiatan seremonial.
Rekomendasi untuk Indonesia
- Percepat implementasi SPAB di semua satuan pendidikan, terutama di wilayah berisiko tinggi.
- Masukkan pendidikan kebencanaan ke dalam kurikulum tematik sejak PAUD hingga SMA.
- Latih guru dan tenaga kependidikan menjadi fasilitator kesiapsiagaan bencana.
- Bangun kemitraan antara sekolah, BPBD, dan komunitas lokal untuk latihan rutin dan pemetaan risiko.
- Pastikan data risiko sekolah selalu diperbarui agar intervensi kebijakan lebih tepat sasaran.
***
Membangun ketangguhan bangsa harus dimulai dari sekolah.
Anak-anak yang sadar risiko dan tahu cara menyelamatkan diri bukan hanya melindungi dirinya, tetapi juga menjadi agen perubahan bagi masyarakat di sekitarnya.
Seperti dikatakan UNESCO (2019): “Mendidik anak tentang bencana bukan menakut-nakuti mereka, tetapi menumbuhkan keberanian untuk bertindak benar saat hidup diuji.”***
Dadang Sudardja, Ketua LPBI NU Jawa Barat; Ketua Dewan Nasional WALHI 2012–2016; Direktur Yayasan Sahabat Nusantara, Anggota Dewan Sumberdaya Air Jawa Barat, Anggota Dewan Pakar Forum POSGAB, Pegiat Lingkungan dan Bencana,
Daftar Pustaka :
- Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.
- BNPB (2023). Indeks Risiko Bencana Indonesia 2023.
- Kemendikbudristek (2021). Peta Jalan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).
- UNESCO (2019). Disaster Risk Reduction and Education in Japan.
- Data Gempa Cianjur (BNPB, 2022).
Penulis : Dadang Sudardja


























