Jakarta, Mevin.ID — Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2025 mencapai 5,04 persen, lebih rendah dibanding kuartal sebelumnya yang sebesar 5,12 persen.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan capaian tersebut belum memuaskan dan menilai pertumbuhan masih berpotensi lebih kuat.
“Meski masih positif, kinerjanya seharusnya bisa lebih baik,” kata Purbaya di Jakarta, Kamis (6/11/2025).
Pertumbuhan ekonomi pada periode ini ditopang konsumsi rumah tangga, ekspor, dan investasi. Pemerintah menilai sinergi kebijakan fiskal, moneter, dan stabilitas sektor keuangan terus berperan mempertahankan daya beli dan daya saing dunia usaha.
Purbaya menyebut pertumbuhan ekonomi hingga kuartal III tahun ini telah menciptakan 1,9 juta lapangan kerja, serta menurunkan tingkat pengangguran terbuka menjadi 4,85 persen dari posisi 4,91 persen pada Agustus 2024.
Dari sisi konsumsi, belanja rumah tangga tumbuh 4,89 persen seiring meningkatnya mobilitas dan transaksi digital, terutama pada sektor transportasi dan komunikasi yang naik 6,41 persen.
Investasi bangunan juga menunjukkan pertumbuhan 3,02 persen (yoy), terdorong percepatan pembangunan proyek strategis nasional serta program prioritas pemerintah.
Pada sektor eksternal, ekspor barang dan jasa melonjak 9,91 persen (yoy), ditopang permintaan produk minyak nabati, besi-baja, serta mesin dan peralatan listrik ke negara mitra dagang. Wisatawan mancanegara juga meningkat 21,8 persen sehingga mendukung kenaikan ekspor jasa sebesar 7,62 persen.
Sementara itu, impor hanya naik 1,18 persen karena kebutuhan produksi dalam negeri masih terjaga.
Pemerintah tetap menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,2 persen pada 2025.
“Mesin pertumbuhan harus berjalan lebih cepat demi kesejahteraan berkelanjutan,” tegas Purbaya.***


























