JAKARTA, Mevin.ID – Presiden Prabowo Subianto mengeluarkan pernyataan keras terhadap pihak-pihak yang kerap menjelek-jelekkan pemerintah dan diduga ditunggangi kepentingan asing.
Dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 di Sentul, Bogor, Senin (2/2), Prabowo menantang para pengkritiknya untuk berkompetisi secara sehat di Pemilu mendatang.
“Kalau tidak suka sama Prabowo, silakan 2029 bertarung. Jangan merusak seluruh bangsa hanya karena tidak suka dengan 2-3 orang,” tegas Presiden di hadapan ribuan kepala daerah dan pejabat negara.
Peringatan Terhadap Aksi Anarkis dan Intervensi Asing
Presiden mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kelompok-kelompok yang sengaja memicu kerusuhan dengan kedok unjuk rasa.
Ia mengklaim memiliki bukti bahwa aksi-aksi yang berujung anarki, seperti pembakaran dan penggunaan bom molotov, sering kali digerakkan oleh kekuatan asing untuk memecah belah masyarakat Indonesia.
“Saya tidak ragu-ragu menindak pihak yang melakukan pidana. Kelompok-kelompok ini, sadar atau tidak, saya yakin mereka dikendalikan oleh kekuatan asing. Saya punya buktinya,” ujar Prabowo.
Sentil Standar Ganda Negara Besar Soal HAM
Tak hanya isu domestik, Prabowo juga melontarkan kritik pedas terhadap standar ganda yang dipraktikkan negara-negara maju dalam isu Hak Asasi Manusia (HAM) dan demokrasi. Ia mengingatkan agar Indonesia tidak menjadi bangsa yang “lugu” dalam melihat geopolitik global.
Presiden menyoroti kontradiksi negara-negara yang vokal mengampanyekan supremasi hukum dan lingkungan hidup, namun justru memilih diam saat terjadi tragedi kemanusiaan yang menelan korban ribuan warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak di berbagai belahan dunia.
“Di mana hak asasi manusia? Di mana demokrasi yang mereka ajarkan selama ini?” sentilnya.
Indonesia Harus Berdikari
Menanggapi pidato tersebut, pengamat kebijakan publik menyambut positif seruan Presiden agar Indonesia tetap berdaulat.
Prabowo menekankan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hasil perjuangan berdarah, bukan hadiah, sehingga kepemimpinan nasional harus memahami sejarah agar tidak mudah ditekan oleh kekuatan luar.
Prabowo juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk waspada terhadap potensi konflik global dan tetap fokus pada kemandirian nasional. “Bangsa yang melupakan sejarah akan dihukum oleh sejarah,” pungkasnya.***
Penulis : Bar Bernad
Editor : Abdilah Kurniawan


























