Profesionalisme

- Redaksi

Minggu, 9 Februari 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PADA akhir Januari 2025 lalu, saya mendapat kesempatan menjadi moderator dalam sebuah acara pelatihan penulisan di Kecamatan Rancah Kabupaten Ciamis. Sebuah kecamatan yang eksoktik di sebelah tenggara Ciamis.

Seperti biasa, setiap kali ke daerah selalu muncul keluhan tentang wartawan.Terutama wartawan yang sering datang ke kantor mereka; Puskesmas, kecamatan, atau sekolah.

Saya berpikir yang dikeluhkan itu adalah wartawan yang mengejar proyek, membuka data, lalu pegawai kecamatan itu takut. Wartawan itu diberi ‘amplop’ lalu pergi.

Tetapi ternyata bukan. Katanya wartawan itu biasa datang dan menunggu. Setelah diberi amplop, dia pergi.

Pengalaman itu kerap kali terjadi secara rutin. Tiap minggu, tiap dua minggu, tiap bulan. Bahkan hampir tiap hari.

Ketika ada sebuah komunitas menyelenggarakan pelatihan menulis, mereka khawatir komunitas itu menularkan kebiasaan yang sama dengan ‘wartawan’ yang datang, menunggu, dan pergi setelah diberi amplop.

***

TAHUN 2025 ini peringatan Hari Pers Nasional (HPN) terbagi menjadi dua. Kubu Hendri CH. Bangun menyelenggarakan HPN di Banjarmasin dan kubu Zulmansyah Sekedang di Pekanbaru.

PWI memang sedang terbelah menjadi dua kubu. Keduanya mengklaim paling sah dan diakui pemerintah.

Perpecahan dipicu dari adanya tudingan bahwa kubu Hendri Ch Bangun yang sebelumnya memenangkan Kongres PWI di Bandung, mendapatkan cashback yang dinilai tak wajar dari sebuah BUMN dari sebuah kegiatan acara.

Hal ini berbuntut panjang dan melahirkan dinamika organisasi yang rumit. Sampai akhirnya organisasi wartawan ini terbagi menjadi dua; kubu Hendri CH Bangun dan Kubu Zulmansyah Sekedang.

***

SAYA sengaja memberi dua gambaran di atas, sebagai sebuah otokritik bahwa kita katanya sedang membangun sebuah profesionalisme, yang diusung temen-temen wartawan selama ini.

Kita membangun profesionalisme dengan UKW atau verifikasi media, tapi di panggung kenyataannya profesionalisme memuakan yang dipertontonkan.

Profesionalisme memang ujungnya adalah uang. Namun, kita ingin buah dari profesionalisme itu adalah nilai yang terhormat, bukan nilai yang ditertawakan dan dibicarakan orang-orang di belakang kita.

Kita tidak ingin profesionalisme yang diributkan karena satu alasan; yang jawabannya kita sendiri sudah tahu.

Selamat Hari Pers Nasional.***

 

Ude D. Gunadi, Wartawan Senior

Facebook Comments Box

Penulis : Ude D Gunadi

Editor : Dude

Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tragedi Tawuran Pelajar Bandung: Cermin Krisis Pendidikan dan Keluarga
Ngayal Dapat THR 5 Juta dari “Pak Dedi”: Potret Jenaka di Balik Keringat Warga Tanpa THR
Negeri yang Kandas oleh Korupsi?
MBG: Mau Dibawa ke Mana? Ketika Program Mulia Bertemu Realitas Lapangan
Seri 3 – Tarif, Kuota, dan Realitas Baru Perdagangan Indonesia–Amerika
Tapanuli Tengah Resilience: Saat Kearifan Batak Menjadi Fondasi Bangkit dari Bencana
Jakarta di Tengah Riak Perang: Ketika Geopolitik Global Mengetuk Pintu Dapur Warga
Seri 2 – Tarif, Kuota, dan Realitas Baru Perdagangan Indonesia–Amerika

Berita Terkait

Minggu, 15 Maret 2026 - 09:37 WIB

Tragedi Tawuran Pelajar Bandung: Cermin Krisis Pendidikan dan Keluarga

Sabtu, 14 Maret 2026 - 12:12 WIB

Ngayal Dapat THR 5 Juta dari “Pak Dedi”: Potret Jenaka di Balik Keringat Warga Tanpa THR

Sabtu, 14 Maret 2026 - 10:03 WIB

Negeri yang Kandas oleh Korupsi?

Jumat, 13 Maret 2026 - 13:28 WIB

MBG: Mau Dibawa ke Mana? Ketika Program Mulia Bertemu Realitas Lapangan

Jumat, 13 Maret 2026 - 09:00 WIB

Seri 3 – Tarif, Kuota, dan Realitas Baru Perdagangan Indonesia–Amerika

Berita Terbaru