JAKARTA, Mevin.ID — Ormas Projo mendesak pemerintah untuk segera melakukan langkah konkret dalam mempercepat transformasi pertanian berbasis teknologi atau “Tech-Savvy Farming”.
Langkah ini dinilai sebagai solusi krusial untuk menarik minat Generasi Z (Gen Z) sekaligus membentengi ketahanan pangan nasional dari ancaman krisis regenerasi petani.
Sonny Silaban, Ketua Bidang Pertanian DPP Ormas Projo, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap data BPS 2024–2025 yang menunjukkan lebih dari 90% petani Indonesia telah berusia di atas 40 tahun.
Menurutnya, tanpa strategi yang tepat, Indonesia akan kehilangan sumber daya manusia yang inovatif di sektor agraris.
Pertanian Berbasis IoT: Solusi Efisiensi
Dalam keterangannya pada 10 Februari 2026, Sonny menekankan bahwa percepatan teknologi harus menjadi tulang punggung sektor pertanian.
Penggunaan Internet of Things (IoT) terbukti mampu mengubah pola bertani konvensional menjadi lebih presisi dan terukur.
- Presisi Real-Time: Sensor tanah dan drone pemantau meningkatkan efisiensi penggunaan air dan pupuk.
- Deteksi Dini: Platform analitik membantu petani mendeteksi hama dan penyakit secara cepat, mengurangi risiko gagal panen.
- Akses Pasar: Teknologi digital memungkinkan petani muda terhubung langsung dengan pasar, memotong rantai distribusi yang selama ini menekan margin keuntungan.
Hambatan Ekonomi dan Solusi Kebijakan
Meski teknologi tersedia, Sonny menyoroti beberapa tantangan nyata yang dihadapi petani muda, mulai dari kenaikan biaya input (pupuk dan energi) hingga terbatasnya akses modal awal.
Nilai Tukar Petani (NTP) yang pemulihannya masih terbatas juga menjadi poin evaluasi penting.
“Tanpa kepastian lahan dan rantai pasok yang handal, upaya untuk menghasilkan regenerasi petani akan terhambat. Pemerintah harus memandang Gen Z sebagai agen perubahan, bukan beban,” tegas Sonny Silaban.
Rekomendasi Strategis Projo:
- Subsidi Perangkat Teknologi: Bantuan pembelian sensor dan alat analitik bagi kelompok tani muda di daerah.
- Skema Pembiayaan Mikro: Kredit bunga rendah dengan syarat sederhana yang didampingi teknis agritech.
- Vokasi Pertanian: Program pelatihan nasional berbasis digital dan manajemen data pertanian.
- Perlindungan Lahan: Memberikan kepastian hak pakai lahan jangka panjang untuk menarik investasi muda di pedesaan.
Implikasi bagi Masa Depan Indonesia
Percepatan Tech-Savvy Farming diyakini tidak hanya menjaga pasokan pangan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan di tingkat desa. Dengan menyerap tenaga kerja muda melalui ekosistem digital, migrasi urban dapat ditekan dan kemiskinan di pedesaan bisa dikurangi.
“Masa depan pangan kita ada pada kolaborasi teknologi dan kreativitas anak muda. Kita harus membekali mereka dengan kebijakan yang ramah bagi pemula agar Indonesia menjadi bangsa yang mandiri pangan secara berkelanjutan,” tutup Sonny.***
Penulis : Bar Bernad


























