Lumajang, Mevin.ID – Suasana siang di Desa Supit Urang, Kecamatan Pronojiwo, Lumajang, berubah hangat ketika relawan kebencanaan dari Projo Jawa Timur dan Projo Lumajang tiba membawa paket bantuan bagi warga terdampak erupsi Gunung Semeru.
Di halaman sebuah bangunan yang masih basah oleh sisa abu dan lumpur, warga berbaris rapi menunggu giliran.
Satu per satu, mereka menerima paket sembako berisi beras, minyak goreng, mie instan, ikan asin, gula, dan kebutuhan pokok lainnya.
Dari balik kerudungnya, seorang ibu terlihat menunduk sambil menggenggam erat kantong bantuan—potret ketabahan yang tak terselip kata.
Sementara itu, relawan dengan sigap mengatur antrean agar pembagian berjalan tertib. Beberapa warga tampak mengabadikan momen, seolah ingin menyimpan secercah harapan di tengah hari-hari penuh ketidakpastian.
Projo Jawa Timur menegaskan bahwa seluruh proses penyaluran dilakukan setelah berkoordinasi dengan unsur TNI dan perangkat desa setempat.
“Kami pastikan semua berjalan sesuai kebutuhan warga. Ini bukan soal datang memberi, tapi hadir bersama,” ujar salah satu relawan di lokasi.
Selain membagikan sembako, tim Projo Jawa Timur dan Lumajang juga melakukan pendataan kerusakan rumah serta fasilitas umum. Data tersebut, menurut mereka, penting untuk memastikan penanganan pemerintah nantinya tepat sasaran.
Relawan turut menyampaikan bahwa kebutuhan warga tidak hanya berhenti pada bahan pokok dan pakaian.
“Saat ini barang-barang seperti popok, bedak, susu, dan obat-obatan untuk balita juga sangat dibutuhkan,” ujar mereka.
“Kami Projo Jatim dan Lumajang akan terus mendampingi masyarakat hingga pemulihan tuntas. Kami hadir menangis dan tertawa bersama rakyat,” ungkap Sulistyanto Widyatmoko, SH—atau Bung Tanto—yang turut mengawasi langsung proses distribusi.
Ia juga menyampaikan doa terbaiknya untuk warga terdampak. “Semoga saudara-saudara kami diberikan ketabahan, kesabaran, dan kekuatan menghadapi bencana ini. Kami akan terus bersama panjenengan semua,” ujarnya.
Di tengah puing, abu, dan semburat kecemasan, kehadiran relawan ini menjadi jeda yang menenangkan.
Supit Urang memang belum pulih sepenuhnya, namun hari itu, warga kembali merasakan satu hal yang tak kalah penting dari bantuan: mereka tidak sendirian.***
Penulis : Bar Bernad


























