Puasa, Barokah, dan Krisis Iklim: Saatnya Ibadah Menjadi Aksi Ekologis

- Redaksi

Rabu, 25 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dadang Sudardja, Ketua LPBI NU Jawa Barat; Ketua Dewan Nasional WALHI 2012–2016; Direktur Yayasan Sahabat Nusantara, Anggota Dewan Sumberdaya Air Jawa Barat, Pegiat ligkungan dan kebencanaan.

i

Dadang Sudardja, Ketua LPBI NU Jawa Barat; Ketua Dewan Nasional WALHI 2012–2016; Direktur Yayasan Sahabat Nusantara, Anggota Dewan Sumberdaya Air Jawa Barat, Pegiat ligkungan dan kebencanaan.

BULAN Ramadhan selalu dipahami sebagai bulan penuh barokah. Di bulan ini, umat Islam diajak menahan diri, memperbanyak ibadah, memperkuat empati sosial, dan membersihkan batin.

Namun di tengah krisis iklim yang kian nyata, makna puasa seharusnya meluas: bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan keserakahan terhadap alam. Ramadhan bisa—dan seharusnya—menjadi momentum kebangkitan kesadaran ekologis.

Indonesia berada pada posisi yang sangat rentan dalam krisis iklim global. Sebagai negara kepulauan dengan garis pantai panjang, wilayah tropis, serta ketergantungan besar pada sektor alam (pertanian, perikanan, kehutanan), dampak perubahan iklim terasa nyata: banjir makin sering, kekeringan berkepanjangan, kebakaran hutan, gagal panen, hingga ancaman kenaikan muka air laut bagi komunitas pesisir.

Ironisnya, mereka yang paling menderita bukanlah pihak yang paling banyak menyumbang emisi karbon, melainkan kelompok masyarakat yang kontribusinya terhadap kerusakan lingkungan justru paling kecil.

Mereka yang Paling Dirugikan oleh Krisis Iklim

Masyarakat miskin dan kelompok marginal perkotaan menanggung dampak paling berat karena banyak tinggal di kawasan rawan banjir dan minim infrastruktur.

Petani dan nelayan tradisional menghadapi perubahan musim tanam, cuaca ekstrem, serta penurunan hasil produksi.

Perempuan dan komunitas adat mengalami beban ganda akibat krisis air, pangan, dan degradasi ruang hidup.

Anak-anak serta generasi muda menjadi kelompok yang paling terdampak dalam jangka panjang, baik dari sisi kesehatan, pendidikan, maupun keberlanjutan masa depan.

Dampak sosial-ekonomi krisis iklim makin terasa: banjir, kekeringan, dan kebakaran hutan memicu gagal panen, mengganggu rantai pasok pangan, dan mendorong inflasi harga bahan pokok. Komunitas pesisir menghadapi ancaman tenggelamnya ruang hidup akibat kenaikan permukaan laut.

Puasa sebagai Etika Lingkungan

Puasa mengajarkan pengendalian diri. Nilai ini relevan langsung dengan krisis iklim. Akar krisis ekologis adalah pola hidup konsumtif, boros energi, rakus sumber daya, dan abai terhadap daya dukung bumi. Puasa, bila dimaknai secara mendalam, adalah kritik terhadap gaya hidup berlebihan.

Ironisnya, selama Ramadhan konsumsi sering meningkat: makanan berlimpah, sampah plastik menumpuk, pemborosan air dan listrik tak terhindarkan. Di sinilah refleksi ekologis menjadi penting: ibadah tidak boleh melahirkan jejak ekologis yang makin merusak bumi.

Puasa seharusnya melahirkan etika hidup sederhana: makan secukupnya, tidak mubazir, memilih produk ramah lingkungan, mengurangi plastik sekali pakai, hemat air, dan menekan jejak karbon dalam aktivitas harian.

Dari Ibadah ke Aksi: Sedekah Hijau

Momentum Ramadhan juga identik dengan sedekah. Di tengah krisis iklim, sedekah bisa dimaknai sebagai sedekah hijau: menanam pohon, mendukung pangan lokal dan petani kecil, mengelola sampah, membantu komunitas terdampak bencana, serta mendorong praktik ramah lingkungan di masjid dan pesantren.

Masjid sebagai pusat ibadah bisa menjadi pusat edukasi iklim. Ceramah Ramadhan dapat mengaitkan nilai keagamaan dengan tanggung jawab menjaga bumi.

***

Krisis iklim adalah krisis moral sekaligus krisis spiritual. Ramadhan memberi ruang jeda untuk merenung dan mengubah gaya hidup.

Jika puasa melatih empati, maka empati itu harus meluas kepada mereka yang paling terdampak krisis iklim. Merawat lingkungan adalah bagian dari ibadah.***

Dadang Sudardja, Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdaltu Ulama (LPBI NU ) Jawa Barat, Ketua Dewan Nasional WALHI Periode 2012 – 2016, Direktur Yayasan Sahabat Nusantara, Anggota Dewan Sumber Daya Air Jawa Barat, Wakil Ketua Forum PRB Jawa Barat, Anggota Dewan Pakar Forum POSGAB, Pegiat Lingkungan dan Bencana

 

Facebook Comments Box

Penulis : Dadang Sudardja

Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Seri 2 – Tarif, Kuota, dan Realitas Baru Perdagangan Indonesia–Amerika
“Panen” OTT di Awal 2026, Bukti Kegagalan Regenerasi Integritas Kepala Daerah
Dari Leuwigajah ke Bantargebang: Krisis Pengelolaan Sampah yang Tak Pernah Selesai
Langkah Progresif Trump dan Prabowo
Seri 1 – Tarif, Kuota, dan Realitas Baru Perdagangan Indonesia–Amerika
10.000 Pelajar Di Kota Bandung di Duga Alami Gangguan Mental: Alarm bagi Keluarga dan Dunia Pendidikan
Perang Sunyi di Bawah Laut, Ancaman Kabel Serat Optik Selat Hormuz dan Kerentanan Dunia Digital
Ironi Perang, Ketika Kemarahan Geopolitik Menghancurkan Kemanusiaan di Iran, dan Peran PBB yang Tak Berdaya

Berita Terkait

Rabu, 11 Maret 2026 - 09:24 WIB

Seri 2 – Tarif, Kuota, dan Realitas Baru Perdagangan Indonesia–Amerika

Rabu, 11 Maret 2026 - 04:39 WIB

“Panen” OTT di Awal 2026, Bukti Kegagalan Regenerasi Integritas Kepala Daerah

Senin, 9 Maret 2026 - 21:44 WIB

Dari Leuwigajah ke Bantargebang: Krisis Pengelolaan Sampah yang Tak Pernah Selesai

Senin, 9 Maret 2026 - 11:15 WIB

Langkah Progresif Trump dan Prabowo

Senin, 9 Maret 2026 - 09:00 WIB

Seri 1 – Tarif, Kuota, dan Realitas Baru Perdagangan Indonesia–Amerika

Berita Terbaru